Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
229-Kartu Undangan



Dinniar pulang ke rumah bersama dengan Jonathan. Di dalam perjalanan pulang Dinniar sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri.


"Sayang, kamu lagi mikirin apa sih?" Jonathan menggenggam tangan istrinya.


"Ah, maaf sayang aku tadi lagi mikirin pelanggan yang siang tadi ke butik." Dinniar yang terkejut bicara sedikit terbata.


"Kenapa? ada masalah?" tanya Jonathan.


"Enggak. Hem ... dia cuma ngasih aku undangan ke acara pestanya. acaranya besok malam." Cerita Dinniar.


"Hem ... aku juga ada acara besok malam. Ya sudah kita ke acara pelanggan mu saja. biar dia merasa kamu memberikan perhatian." Ajak jonathan.


"Enggak usah. Kita ke acara relasimu saja mas. enggak enak pasti ini acara berkaitan dengan bisnis juga. lagi pula aku tidak terlalu dekat dengan dia." Dinniar tersenyum.


"Baiklah kalau itu mau kamu. ya sudah berarti tidak perlu dipikirkan lagi. sekarang senyum yang lebar, karena sebentar lagi anak-anak pasti menyambut kita di depan pintu rumah." Jonathan menunjuk ke arah depan.


Benar saja apa kata suaminya. ketiga anak mereka sudah menunggu di depan teras rumah untuk menyambut kedatangan kedatangan kedua orang tuanya.


Jonathan membunyikan klakson mobilnya dan pintu gerbang langsung terbuka lebar. ketiga anak mereka langsung tersenyum begitu lebar mengetahui mami dan papanya sudah sampai di rumah.


"Mami, papa." Devano langsung berteriak khas anak kecil yang merindukan kedua orang tuanya.


"Halo anak kesayangan papa dan Mamih. kalian pasti udah nunggu lama di sini." Jonathan menyentil kecil ujung hidung Devano dan mencubitnya gemas.


Mereka sekeluarga masuk ke dalam rumah dan banyak hal yang diceritakan oleh ketiga anak kesayangannya.


Devano yang sedang lucu-lucunya ikut menceritakan kisahnya di sekolah. Mendengar cerita Devano membuat semuanya tertawa lepas.


selesai mendengarkan cerita anak-anak mereka. Dinniar dan jonathan naik ke lantai dua dan menuju ke dalam kamar.


"Sayang, ini surat undangan dari relasiku. Tolong di simpan." Jonathan memberikan kartu undangan kepada Dinniar.


melihat kartu itu Dinniar mengerutkan dahinya dan duduk dikursi.


"benar sayang. ada apa? apa kamu mengenalnya?" tanya Jonathan sambil melepas dasinya.


"kartu undangan ini sama persis seperti yang diberikan oleh pelangganku yang tadi aku ceritakan di mobil." tutur Dinniar.


"benarkah? apa jangan-jangan itu adalah istri pak Broto." Jonathan lalu membuka kartu undangan itu dan membaca nama istri dari relasinya.


"benar. jadi kita di undang oleh pasangan suami istri ini?" Dinniar terkekeh geli.


"sayang, ternyata kita tidak hanya berjodoh tentang pernikahan. relasi bisnis kita juga ternyata adalah orang-orang yang sama." Jonathan mendekatkan wajahnya dan mengecup lembut istrinya yang cantik.


"jadi besok kita akan datang ke acara yang sama. karena besok kemungkinan kita akan ikut pesta sampai malam dan akan lelah. jadi bagaimana kalau kita bermain-main malam ini." Jonathan mengerlingkan matanya genit kepada sang istri.


melihat tingkah genit suaminya. Dinniar menjadi bersemangat. disambutnya niat sang suami dengan tangan terbuka. pernikahan yang sudah lima tahun itu tak pernah memudarkan kemesraan dan keromantisan hubungan mereka berdua. bahkan mereka semakin lengket melebihi pengantin baru. kehidupan yang mereka jalani juga semakin baik tanpa ada hal-hal yang menghambat. membuat keluarga mereka lebih tentram.


Dinniar mematikan lampu kamar dan mereka berdua sudah asik menikmati malam yang penuh dengan keringat yang bercucuran. malam ini membuktikan bahwa kisah cinta mereka tidak lekang oleh waktu.


sementara kehidupan yang dijalani oleh Darius cukup berbanding terbalik. Darius menikah dengan seorang model cantik yang senang hura-hura dan tak menghiraukannya. seringkali Darius harus membereskan setiap masalah yang dilakukan oleh istrinya.


"aku sudah cukup bersabar kepadamu. jika kamu masih terus berbuat semaumu. aku tidak akan pernah lagi memberikan pertolongan. belajarlah menjadi orang yang bertanggung jawab!" Darius sudah sangat kesal dengan tingkah istrinya.


"mas, kamu yang membuat aku harus seperti ini. kamu yang bersalah kepadaku hingga membuat karirku rusak. kamu yang telah menghamili aku dan membuat aku harus melahirkan anakmu. jangan kamu pikir semua perbuatanku cukup untuk menebus semua kesalahanmu kepadaku!" Azelia keluar dari kamar dengan membanting pintu cukup keras .


suara dentuman pintu itu membuat Darius semakin tidak habis pikir dengan kelakuan istrinya.


"Haaaah!" teriaknya yang merasa sangat frustasi dengan kondisinya.


"kenapa? kenapa lagi-lagi aku harus bertemu dengan wanita yang salah? apa ini karma yang harus aku jalani? kalau saja aku tidak mabuk dan tidak melakukannya. sudah pasti aku tidak akan seperti saat ini."


penyesalan lagi yang dirasakan oleh Darius. memang semua yang kita jalani di dunia ini baik buruknya akan kembali kepada kita sendiri.