
Melinda kembali ke rumahnya dengan hati yang sangat dongkol. Dia bahkan membanting pintu kamarnya sangking kesal.
"Ada apalagi dengannya?" Syam bergumam sendirian.
Syam sedang berada di taman rumahnya dan mendengar mobil Melinda datang. Sayang masih dengan tenang menyesap teh hangatnya sambil membaca berita di ponsel pintarnya.
"Aaaaaaaaaaa!"
Jeritan Melinda membuat Syam sontak langsung menyimpan cangkir tehnya dan berlari ke dalam rumah.
Sayang mengetuk pintu kamar Melinda beberapa kali, tapi tidak ada jawaban. Syam yakin putrinya sedang kesal sekali. Melinda memang kerap kali bersikap tak terkendali jika ada hal yang mengusiknya atau ada hal yang membuatnya sangat kesal.
"Melinda, papa tahu kamu ada di dalam. Papa mohon buka pintunya. Kita bicara." bujuk Syam kepada putri angkatnya.
Syam menunggu putrinya membuka pintu dan bercerita kepadanya. Lima menit sudah dia menunggu di depan pintu kamar Melinda. Pemilik kamar tak kunjung menunjukkan batang hidungnya.
Syam menuruni tangga dan meminta asisten rumah tangganya untuk mengambil kunci cadangan kamar melinda.
"ini tuan kunci kamar non melinda. Semoga non melinda baik-baik saja." asisten rumah tangganya dengan tangan gemetar memberikan kunci cadangan kepada syam.
Syam memasukkan kunci dan memutarnya. Pintu langsung terbuka. Syam menatap Melinda yang sedang memandang keluar jendela kamar. Dia menghampiri melinda.
"Apa ada masalah?" tanya Syam dan putrinya menoleh.
"Anak itu sangat mengesalkan. Aku sangat benci dengan anak itu. Dia sama sekali tidak bisa ditebak dan sangat pintar." Melinda berbicara sambil kembali menatap keluar jendela.
"Siapa yang sedang kamu bicarakan?" tanya Syam yang tidak mengerti sama sekali.
Melinda kemudian menceritakan tentang pertemuannya dengan Alesya dan apa rencananya sebenarnya mendekati Alesya kembali. Melinda bicara dengan nada yang menggebu-gebu. Rasa marah, malu, putus asa semua campur aduk hari ini di dalam hatinya.
Syam mendengar cerita Melinda tentang semua perkataan Alesya saat pertemuannya di cafe Italia.
"Dia sangat mirip dengan mendiang kakeknya. Dan sikap beraninya adalah sifat keluargaku." ujar Syam.
Syam berkata sifat berani itu adalah sifat keturunan keluarga mereka. pantas saja jika Alesya begitu.
"Dia benar-benar datang dagingmu alex." gumam Syam sambil mengeratkan rahangnya.
.
.
.
Dinniar mengajak bicara putrinya di dalam kamar. Dinniar ingin mendengar cerita mengapa putrinya bisa bertemu dengan Melinda.
"Tante melinda sejak dulu memang akrab denganku. aku dulu tidak pernah sadar ternyata sifat baiknya ingin menuju sesuatu yaitu papa. Dan saat ini dia kembali mendekati aku karena ingin merebut papa dari mami. aku sempat terbawa. Makanya saat di pesta ulang tahunku. aku meminta maaf kepada mami dan menangis. Itu semua karena Tante melinda." cerita Alesya.
"Sayang, jangan pernah ragu dengan kasih sayang mami. Kamu meski tidak lahir dari rahim ini. namun, tetap kami adalah putriku. Anak perempuan yang sudah semakin dewasa dan tumbuh menjadi sosok yang pemberani. Mami salut dengan tindakan Alesya tadi, tapi kamu harus tetap mementingkan keselamatanmu. Jangan pernah dekati musuh sendirian." pesan Dinniar.
"Aku janji mami. Aku tidak akan mengulangi hal tadi lagi. Aku akan selalu bercerita kepada kami." Alesya memeluk Dinniar.