Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Part 141 - Serigala berbulu domba



pagi hari mereka semua memulai kembali aktivitas seperti biasanya pergi sarapan dan bersiap-siap untuk sekolah.


Jonathan sudah siap untuk mengantar istri serta kedua anaknya yaitu Tasya dan Alesya. kegiatan dapetin ini sangat dinikmati oleh Jonathan sebagai seorang ayah. dia tidak akan membiarkan istri dan kedua anaknya pergi sendirian tanpa dirinya.


"Tasya dan Alesya belajar yang benar ya sayang pastikan nilai kalian semakin bagus. kalau kalian nilainya bagus semua maka papa akan memberikan hadiah kejutan untuk kalian berdua." ujar Jonathan kepada kedua putrinya.


"baiklah papa aku pasti akan belajar dengan giat dan aku akan mendapatkan nilai yang bagus."Tasya langsung bersemangat setelah mendengar kata-kata kejutan.


"Alesya juga akan belajar dengan giat lagi dan akan memastikan nilai-nilai ku lebih tinggi dari hari-hari kemarin."


kedua putrinya begitu bersemangat. itulah cara Jonathan untuk memotivasi kedua putrinya agar mendapatkan nilai yang lebih baik. Jonathan ingin anak-anaknya berprestasi di bidang akademis. dia ingin anak-anaknya mewarisi semua bisnis yang dijalani olehnya saat ini.


Jonathan juga mulai mengajari Alesya sedikit demi sedikit pengetahuan tentang berbisnis. meski dia masih duduk di bangku Sekolah menengah pertama. lagi Jonathan mengenal dunia bisnis bukanlah hal yang mustahil di usia muda. Jonathan akan melatih Alessia untuk mewarisi apa yang sudah seharusnya menjadi milik dirinya. perusahaan keluarga yang sekarang dijalani oleh Jonathan adalah hak dari kakaknya. maka dari itu sudah pasti akan diwariskan kepada Alesya.


Jonathan menurunkan Dinniar dan juga Tasya di pintu gerbang sekolah. dia tidak masuk ke dalam parkiran sekolah karena waktunya sudah mepet.


"sayang nanti di jemput sama pak supir ya. Tasya semangat." Jonathan kembali menyemangati putri sambungnya.


"papa juga semangat." Tasya kemudian melambaikan tangannya.


Tasya dan Dinniar masuk ke dalam lingkungan sekolah. dan Dinniar mengantar putrinya masuk ke dalam kelas untuk memastikan Tasya berada di kelasnya.


"sayang. mami masuk ke dalam ruangan dulu ya. kamu masuk ke dalam dalam kelas sekarang. nanti pulang sekolah kita pergi ke mall." ucap Dinniar.


"asik. Tasya suka. aku sudah lama tidak pergi ke mall mami. Tasya mau main kuda-kudaan dan juga mobil-mobilan." tasya sangat antusias.


mendengar suara ceria dari putrinya di Nias makin bersemangat untuk membawa putrinya pergi jalan-jalan bersamanya.


dinner masuk ke dalam ruangannya Dan Dia segera mengerjakan beberapa tugas yang sudah terbengkalai beberapa hari ini.


...****************...


Jonathan sampai di kantornya dan dia juga langsung mengerjakan beberapa pekerjaannya. hari ini dia akan mengadakan meeting internal bersama dengan beberapa staf kantornya.


"Ren sebaiknya kamu segera mempersiapkan meeting hari ini. karena saya sore ini mau pulang lebih awal."perintah Jonathan kepada Rendi.


Rendy segera melaksanakan apa yang diperintahkan oleh bosnya. dia menyiapkan beberapa bahan meeting dan juga dokumen untuk dibahas di meeting hari ini.


Jonathan dan Rendy akan segera memulai meetingnya. mereka segera menuju ruang meeting dan berkumpul dengan beberapa staf untuk membahas beberapa proyek yang akan dikerjakan oleh mereka semua.


...****************...


bel sekolah berbunyi. dinner bersiap pergi bersama dengan putrinya ke sebuah mall.


Dinniar pergi bersama dengan Tasya ke sebuah mall. Mereka hanya pergi berdua saja tanpa pengawasan ketat. Jonathan tidak bisa menemani mereka karena sedang ada meeting penting. Sedangkan Alesya ada tugas yang harus dikerjakan berkelompok.


"Sayang, kita main di area permainan dulu. Setelah itu kita akan cari beberapa bahan untuk tugasmu besok." Dinniar tersenyum.


Tasya memang sudah sangat lama tidak pergi ke mall dan bermain beberapa permainan di sana. Semua yang mereka berdua jalani dan alami beberapa bulan ini cukup berat dan sangat membuat mereka harus waspada berat.


Dinniar menemani putri cantiknya main permainan seperti kereta, mobil-mobilan dan permainan capit boneka. Mereka bermain dengan sangat asiknya sampai tak sadar seseorang menghampiri.


"Lama tidak berjumpa." Sapanya dengan seringainya.


Dinniar tertegun melihat sosok wanita berpakaian mini dress berwarna merah sehingga sangat mencolok karena kulitnya yang putih cerah.


Tasya yang sedang bermain kuda-kuda langsung terperanjat dan bersembunyi di balik tubuh maminya sambil memegang erat tangan Dinniar.


Dinniar bisa merasakan ketakutan yang mendalam yang sedang dialami oleh putrinya saat ini.


"Permisi, aku harus segera pulang." Dinniar mengeratkan pegangan tangannya kepada Tasya.


"Tunggu." Cornelia mencegah mereka pergi.


Dinniar berhenti. Dia memeluk Tasya agar putrinya tidak kembali ke titik nol. Trauma Tasya mulai terlihat jelas ketika dia bertemu dengan Cornelia di ruang sidang sebagai korban.


"Kenapa terburu-buru? apa aku sangat menakutkan hingga kalian terus menghindar?" tanya Cornelia dan memperlihatkan wajahnya kepada Tasya.


"Tasya, Tante minta maaf atas tindakan yang gegabah sehingga melukaimu. Tante berjanji akan bersikap lebih baik lagi. Tante tidak akan pernah menyakitimu. bahkan Tante akan membuat semua orang tidak dapat menyakitimu." Cornelia menaikkan satu alisnya ketika berbicara dengan Tasya.


Dinniar sontak langsung menyembunyikan Tasya di balik punggungnya.


"Cornelia, aku harap kamu sebaiknya menjauh dari putriku. dia belum sepenuhnya sembuh. aku takut pertemuan kalian akan membuat mentalnya kembali runtuh. Tolong pengertiannya. nikmati saja kebebasanmu. namun, jangan mengusik keluargaku terutama putriku." tegas Dinniar sambil menatap Cornelia tanpa berkedip.


"Aku harap kamu menjadwalkan aku untuk ikut terapi bersama Tasya di klinik psikolog anak. karena mau bagaimanapun. aku juga berperan sebagai ibunya. meski hanya seorang ibu sambung." Cornelia membalikkan tubuhnya setelah selesai berbicara dengan Dinniar.


Dinniar memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan sang putri. Dinniar langsung mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan Tasya. dia menatap wajah Putrinya yang sudah pucat karena ketakutan dan dia langsung mendekap putrinya dengan sangat erat.


"Kita pulang kerumah ya sayang. jangan khawatir. mami akan selalu melindungi Tasya. mami tidak akan pernah kehilangan Tasya lagi. Tasya percayakan sama mami?" tanya Dinniar.


Tasya hanya menjawab Dinniar dengan anggukan saja. dia masih belum bisa menyingkirkan rasa takutnya yang tadi menghampiri dan membuatnya terasa tercekik ketika melihat wajah wanita yang keji kepadanya.


Daniel akhirnya memutuskan untuk pulang bersama dengan putrinya menggunakan taksi online. dia tidak mau putrinya merasa ketakutan lagi. Dinniar segera menaiki mobil taksi online yang sudah di pesannya. dia kembali memeluk Tasya sambil duduk di kursi tengah penumpang. Dinniar tidak tega melihat Tasya kembali ketakutan.


Cornelia yang muncul tiba-tiba bukan hanya membuat Tasya syok. namun, juga membuat dirinya terkejut karena harus bertemu dengannya di waktu yang tidak tepat dan dia hanya berdua dengan Tasya.


****************


Cornelia masuk ke dalam mobilnya, saat dia hendak menyalakan mesin mobil. dia melihat Dinniar dan Tasya keluar dari dalam mall.


"Tenang saja Dinniar


aku pasti akan sangat menikmati kebebasanku. kamu tidak perlu khawatir. aku tahu caranya hidup bebas." Cornelia kemudian melajukan mobilnya.


Sambil melajukan mobil, Cornelia memakan headset di telinganya. Dia kemudian memencet layar yang menempel di badan mobil.


"Halo sayang. aku mau bertemu denganmu. Aku akan ke kantormu dan menceritakan hal menarik." Cornelia menghubungi Darius.


"Aku sedang sibuk. nanti saja di rumah kita bicaranya." tolak Darius.


"kamu yakin tidak penasaran dengan ceritaku? ini cerita tentang putrimu." Cornelia memutuskan sambungannya.


Dia kemudian menaruh kembali headset dan fokus menyetir. Tidak lama ada panggilan masuk dan tertera dilayar nama suaminya.


"Kau tadi menolak ku. Darius ... Darius kamu memang pria yang mudah sekali dipermainkan." Cornelia menolak panggilan masuk dari Darius.


Merasa kesal dengan penolakan Darius membuat dirinya tidak perduli dengan laki-laki yang namanya dan wajahnya selalu bersemayam di hatinya.


"Aku tidak akan pernah membiarkan orang lain memandangku lemah dan tidak tak terkecuali dirimu. Meski aku cinta, tapi kalau kau tidak bisa menghargai ku. jangan pernah berharap ada kebaikan dari diriku. akan aku hancurkan semuanya." Cornelia sangat kesal dan merasa terganggu dengan sikap Darius.