Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Part 9 - Hadiah



Dinniar dijemput oleh Darius di tempatnya bekerja, mereka akan pergi ke suatu tempat yang sudah direncanakan oleh Darius.


"Itu Mamih." Tunjuk Tasya saat melihat Dinniar keluar dari ruang kepala sekolah.


"Mamih sama om Adrian, Tasya mau turun." Dengan cepat gadis kecil itu keluar dari dalam mobil.


Tasya langsung menghampiri maminya dan juga sahabat maminya.


"Mamih, Om Adrian." Tasya berlari sambil berteriak.


"Hati-hati Tasya." Dinniar langsung menghampiri putrinya dan menangkapnya.


"Mamih dan Om Adrian habis kerja bareng ya?" tanya Tasya.


"Iyah sayang," jawab Adrian sambil mencubit gemas pipi anak sahabatnya.


Darius langsung menghampiri mereka berdua, suasana langsung terlihat canggung.


"Hai." Sapa Darius dengan tatapan tidak bersahabat.


Darius kurang menyukai Adrian, dulu dia sangat cemburu ketika melihat Dinniar sangat dekat dengan sahabatnya itu, bahkan saat mereka masih pacaran, kedekatan Dinniar dengan Adrian menjadi pemicu masalah, Darius sangat cemburu sehingga membuat Dinniar agak menjaga jarak dari sahabatnya itu.


"Aku, pamit ya, soalnya Mas Darius dan Tasya mau ajak aku pergi ke taman." Pamit Dinniar.


Adrian memandangi kepergian keluarga sahabatnya, Dinniar dan Darius menggandeng tangan Tasya, mereka bahkan bercanda tawa selama perjalanan menuju mobil.


"Akankah aku juga sebahagia itu jika dulu aku mengutarakan perasaanku lebih dulu sebelum Darius?" ujarnya dalam hati sambil terus memperhatikan.


Adrian menyimpan rasa kepada Dinniar, tapi siapa sangka mereka selamanya akan menjadi sahabat saja, perasaan itu harus terus dia tekan agar tidak terlihat.


.


.


"Kita jadi mau ketaman?" tanya Dinniar.


"Kamu ikut ajah, nanti aku akan membawa kedua bidadari cantikku ke suatu tempat yang sangat indah." Darius menyalakan mesin mobil.


Melihat wajah Darius yang sumringah, langsung menghilangkan kekhawatiran di hati Dinniar.


"Seharusnya, aku tidak percaya apa yang mereka katakan tentangmu, aku seharusnya percaya bahwa kamu tidak akan pernah mengkhianati keluargamu." Dinniar menatap.


Dalam perjalanan ketempat yang sudah di tentukan oleh Darius, mereka bertiga bersenandung bersama, Tasya ingin kedua orang tuanya bernyanyi bersamanya.


Mereka menyanyikan lagu khas anak-anak, dari lagu anak gembala, jangan takut akan gelap, pelangi-pelangi, hampir semua mereka nyanyikan sampai tidak terasa sudah tiba ditempat tujuan.


"Kita sampai." Darius mematikan mesin mobil.


"Rumah makan?" tanya Dinniar.


Mereka bertiga keluar dari mobil, saat masuk ke dalam restoran mereka langsung disambut dengan baik.


Darius sudah memesan tempat jadi mereka langsung di tunjukkan tempat mereka.


Ruangan yang tidak begitu luas tapi private room, Darius sengaja memilih ruangan itu agar dia bisa menikmati kebersamaannya bersama keluarganya.


"Silahkan." Pelayan mempersilahkan.


"Makanan akan segera datang, mohon ditunggu."


Mereka duduk dibangku yang telah disediakan, sambil menunggu Darius mengeluarkan sebuah kotak kecil dan memberikannya kepada Dinniar.


"Apa ini, Mas?" tanya Dinniar saat menerimanya.


"Bukalah." Titah Darius.


Dinniar membukanya, kotak berwarna pink berbentuk persegi empat terdapat sebuah kalung di dalamnya.


"Sepasang kalung itu sengaja aku pesan untukmu dan juga Tasya." Darius bersikap sangat romantis.


"Terima kasih, Mas." Dinniar begitu bahagia.


Darius langsung bangun dari duduknya, dia mengambil kalung dari dalam kotak dan memakaikannya di leher Dinniar.


"Beautiful." Puji Darius yang membuat istrinya terbang ke awang-awang.


Dinniar menyentuh kalung yang melingkar di lehernya. Dia bahagia dengan hadiah dari suaminya.


Dinniar membisikkan kata cinta di telinga suaminya. Mereka kemudian saling berpelukan.


Hati Dinniar sebenarnya masih campur aduk, tapi dia harus tetap terlihat biasa saja. karena kecurigaannya belum tentu benar.


Dinniar izin pergi ke toilet, dia ingin melihat langsung betapa cantiknya kalung yang melingkar dan menghiasi leher jenjangnya.


.


.


Ditempat lain seorang wanita tengah menunggu telepon dari seseorang.


"Kamu menunggu telepon darinya?" tanya manager Cornelia.


"Iyah, aku sudah merindukannya." Cornelia terus menatap layar ponsel miliknya.


"Hati-hati dia sudah memiliki istri dan anak. Pria yang sudah menikah tidak akan mudah meninggalkan keluarganya, dia pasti akan kembali kepada istrinya suatu hari nanti." Manager Cornelia mengingatkan modelnya.