Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Part 79 - Ibu mertua



Setalah keputusan hakim di bacakan di depan semua orang yang hadir dalam ruang pengadilan. Dinniar berusaha mengatur perasaannya yang masih menyimpan rasa iba karena wanita itu sedang mengandung benih dari pria yang sudah menghancurkan hatinya.


Dinniar keluar dari ruangan sidang. Sonia masih terus menemaninya dan Jonathan menemui Dinniar usai dirinya menjadi saksi dalam persidangan kasus penculikan Tasya.


"Terima kasih banyak. Kamu telah menyelamatkan Tasya dan sekarang menjadi saksi untuk memberatkan Cornelia." Dinniar menatap manik mata Jonathan.


"Tidak perlu berterima kasih. aku melakukannya dengan senang hati. aku juga memiliki seorang keponakan jadi aku tahu bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang begitu berharga untuk kita." Jonathan begitu dewasa dan juga sangat baik.


Sonia melihat ketulusan Jonathan yang tersirat jelas di manik mata pria blasteran itu.


"Pak Jonathan apa mau makan siang bareng dengan kami?" tanya Sonia.


"Hmmm, sepertinya lain waktu saja. karena saya ada urusan lagi di kantor." Jonathan menolak dengan sangat halus.


Andai dia tidak ada rapat internal hari ini. mungkin dia akan menerima ajakan makan siang bareng yang ditawarkan oleh Sonia kepadanya. hanya saja dia tidak bisa mengabaikan karyawannya hanya karena perasaan pribadinya.


Jonathan berpamitan kepada Sonia dan juga Dinniar. Dia harus segera kembali ke kantor karena sudah di tunggu oleh beberapa karyawannya.


"Din, ayo kita makan siang dulu. jangan sampai kamu sakit. kamu harus kuat menjaga Tasya. dia butuh perhatian ekstra dari kamu." Sonia mengajak sahabatnya untuk makan siang bersama.


Dinniar dan Sonia akhirnya makan siang bersama di cafe terdekat. Sonia mesin terus memperhatikan gelagat dari sahabatnya. Dinniar meski dia begitu tegas, tapi hatinya begitu lembut. dia bahkan bisa sangat melunak kepada orang yang membuatnya merasa iba dan harus menolongnya.


"Din, jangan pernah kamu berpikir untuk mengeluarkannya. Kamu dan Darius sudah sepakat untuk menggugat wanita itu. Untung saja Darius berada di pihak mu dan tidak memihak wanita itu karena sangking bucinnya." Sonia terlihat senang karena Darius berada di pihak Dinniar.


Sebelumnya mereka sangat takut kalau Darius tetap memihak kepada Cornelia seperti sebelum adanya bukti kuat yang menyudutkan Cornelia. ditambah lagi pengakuan kedua penculik yang membuat semuanya semakin jelas dan gamblang.


"Darius saja sebagai suaminya. dia tidak perduli dengan wanita pelakor itu. dia dengan santainya ingin memenjarakan istrinya itu. itu bukti kalau Darius tetap menyayangi Tasya sebagai putrinya." Sonia bicara sambil menikmati makan siangnya.


"Dia begitu, karena dia tidak tahu kalau istrinya sedang mengandung anaknya. jika tahu aku yakin mas Darius akan membelanya dan meminta banding agar hukumannya diringankan." Dinniar berpikir positif tentang Darius.


Dinniar meski sudah pernah dicampakkan oleh Darius. namun, masih bisa berpikir realistis dan masih berpikir yang baik-baik tentang mantan suaminya itu.


Bagi Dinniar Darius adalah sosok suami yang baik dan ayah yang penyayang. dia berpikir kalau Darius tidak akan tega kepada wanita yang dicintainya dan kepada calon buah hatinya yang mungkin sedang dia nanti selama ini.


"Udah makan, jangan dipikirin lagi. keputusan hakim sudah di tetapkan jadi tidak perlu mengubahnya. dua tahun waktu yang sangat singkat." Tegas Sonia.


Dinniar akhirnya menepis semua pikirannya dan rasa ibanya kepada Cornelia. Dia berusaha kembali fokus dan hanya bersiap untuk kembali merawat Tasya yang masih sangat butuh perhatian ekstra dari dirinya.


...****************...


Cornelia terus menangis di dalam sel tahanan. Dia tidak menyangka akan lebih lama lagi mendekam di balik jeruji besi dan tidur beralaskan lantai dingin.


Cornelia meratapi nasibnya yang bahkan tidak pernah ditengok sekalipun oleh sang suami.


"tega kamu Mas. kamu tidak sama sekali memperdulikan aku saat ini. padahal aku melakukan semua itu hanya untuk menarik simpatimu. aku hanya ingin tetap diperhatikan dan diberikan kasih sayang yang lebih. bahkan sekarang saat aku sedang mengandung buah hati kita belum mengetahuinya."


Cornelia merenungkan semua yang dia lakukan, tapi bukan untuk merasa bersalah. Namun, merasa kalau dia tidak bersalah. dia tetap tidak mau di persilahkan. dia tetap tidak terima diberikan hukuman ditambah dia kini sedang mengandung anak Darius.


"tahanan atas nama Cornelia ada kunjungan untukmu." seru salah satu petugas.


Cornelia langsung sumringah. Dia langsung merapihkan penampilannya dan hendak menemui orang yang hendak menemuinya.


"Apa itu suami saya?" tanya Cornelia.


"Bukan, dia seorang wanita," jawab petugas sambil memborgol tangan Cornelia.


Cornelia menaikkan satu alisnya. "Apa Dinniar yang menemui ku? tapi mau apa lagi?" gumamnya nyaris tak terdengar.


Cornelia tiba di ruang kunjungan dia melihat sosok wanita paruh baya yang tidak dia kenal sama sekali wajahnya.


"selamat siang." Cornelia menyapa sambil duduk.


"Siang, kamu yang bernama Cornelia?" tanya wanita paruh baya itu.


Cornelia hanya bisa mengangguk. dia terus memandangi wajah wanita itu. dia benar-benar asing dengan wajah itu.


"Kamu pasti bingung karena ini adalah pertemuan pertama kita...." wanita itu menghela nafas panjang sebelum meneruskan kata-katanya.


"Saya adalah ibu dari Darius. mertua dari Dinniar dan nenek dari Tasya." lanjutnya.


Cornelia sangat terkejut. saat pernikahannya dengan Darius. wanita ini bahkan tidak mau datang. dia tidak merestui hubungannya dengan Cornelia.


"Ibu." Cornelia langsung menyambar tangan wanita yang ada di depannya.


Meski tangannya terborgol, dia tetap menyalami wanita yang kini juga sebagai mertuanya.


"tidak perlu seantusias itu. aku kemari karena dengar dari Dinniar kalau kamu sedang mengandung anak dari putraku. Aku hanya merasa iba karena Darius tidak lagi memperdulikan mu. Itulah pria, jika kamu terlalu memberikan dirimu kepadanya dengan cuma-cuma. dia akan lebih cepat meninggalkan dirimu." Ketusnya.


"Bu, kenapa bicara begitu?" tanya Cornelia.


"Cornelia, aku sangat benci pelakor. Aku benci wanita yang tidak punya hati. Seharusnya sesama wanita itu saling memahami bukan menyakiti." Sorot mata ibu Darius begitu tajam menatap Cornelia.


jelas terpancar rasa kesal dan benci dari sorot mata itu. Cornelia tidak menyangka kalau ibu mertuanya bicara cukup menohok kepadanya.


"Aku mencinta mas Darius. bukan aku pula yang awalnya mengejar putramu. dia sendiri yang datang kepadaku dan jatuh cinta." tegas Cornelia.


"Kamu pikir pria dengan begitu saja mendekati tanpa di pancing terlebih dahulu? jangan munafik kamu jadi orang Cornelia. aku bukan orang yang mudah kamu bodohi. aku tahu jelas sifat wanita yang menjadi pelakor dan benalu dalam rumah tangga orang lain."


Begitu bencinya ibu Darius terhadap pelakor. sehingga dia tidak segan bicara frontal kepada menantu keduanya.


Cornelia tidak sanggup mendengar cacian dan makian dari ibu mertuanya. Dia bahkan sekarang tidak punya tempat untuk mengadu dan bersandar. Suaminya tidak lah perduli dengan kondisinya dan dia juga belum tahu tentang kehamilannya.


...****************...


Susi yang merasa kesal dengan situasi anak dan menantunya dia akhirnya memutuskan untuk menonton film sinetron kesukaannya.


film antara cinta ( genre film action )


Seorang gadis sedang berjalan mencari udara segar setelah menyelesaikan pekerjaannya, namun dia merasa ada seseorang yang mengikutinya.


"Siapa kau?" tanya sang gadis muda ketika membalikkan badannya.


"Jangan banyak bertanya, ikut aku!" Pria itu menyeret paksa tubuh gadis muda itu tanpa berkata apapun lagi.


"Lepaskan aku ... Lepaskan ... tolong lepaskan aku." jerit gadis itu tapi tak ada yang mendengarnya karena memang pria itu menyeretnya kearah ladang besar yang cukup jauh dari rumah penduduk.


Pria itu melempar tubuh gadis yang dibawanya, dia mengeluarkan pisau dari dalam saku celananya dan memperlihatkan kepada gadis muda.


"Jangan ... jangan ... Aku mohon lepaskan Aku" teriak seorang gadis yang memakai baju tidur berwarna merah muda.


"Aaaaaaaaaaaaaa" teriaknya.


"Kau pantas mendapatkan semua ini" ujar pria itu dengan menekan lebih dalam pisau yang digenggamnya.


Pria itu menarik pisau dan membalikkan tubuhnya, ia berjalan sambil memegang pisau yang berlumuran darah.


Pria itu berjalan dalam gelapnya malam seorang diri menuju sebuah kastil besar, sesampainya di kastil tepatnya disebuah kamar yang besar ia masuk kedalam kamar mandi dan menyingkirkan semua yang berhubungan dengan darah gadis tadi.


"Kau tau?, ini semua kesalahan mu yang membuat ku menjadi seperti ini!" Ujarnya sambil menatap foto yang tergantung di dinding kamar mandi.


*******


"Ditemukan seorang wanita muda memakai piyama berwarna merah muda dalam keadaan sudah tidak bernyawa disebuah  ladang besar" seorang presenter membacakan berita pagi.


Kasus pembunuhan mulai disiarkan melalui channel televisi. semua acara televisi memberikan berita yang sama.


"Lihat semua membicarakan bagaimana cara kita menangani kasus ini!" Kepala divisi kriminal melempar majalah yang memberitakan tentang kinerja kepolisian.


Semua melihat isi berita yang ditulis didalam majalah.


"Apa mereka sadar menuliskan ini? Memangnya mereka kira kita adalah dukun yang bisa memprediksi masa depan!" Kesal Nick saat mendengar Nekel membaca berita.


"Kita harus kembali memecahkan kasus kriminal ini!" Pekik Nayyara.


Nayyara nama yang berarti sinar, seperti namanya gadis inilah yang selalu memberikan sinar besar untuk teamnya.


"Kasus ini harus terpecahkan! Jangan sampai membuat team kita end seperti nama team kita" ujar pria yang bersemangat dalam kalimat awalnya namun berubah menjadi lesu saat menyebutkan nama team nya diakhir kalimat.


"Pak Natael!" Teriak seluruh anak buahnya ketika dia menggebrak meja.


Natael adalah kepala team divisi kasus kriminal nomor satu.


"Divisi kita dinamakan END salah satu alasannya karena nama kita semua berawalan dari huruf N" tutur Natael.


"Benar! Tapi alasan utama kata END adalah karena kita ingin membuat seluruh kasus selesai dan korban mendapatkan keadilan!" Nick mengingatkan kembali maksud dari nama team mereka.


"Jangan pernah kau bicara team kita akan end tapi kasusnya yang akan END!" Nayyara menggebrak meja dan membuat Natael terkejut.


"Kalau begitu bekerja keraslah untuk kasus kali ini, jangan menyerah sampai keadilan muncul.


"Hmmm" jawab seluruh team penuh semangat.


******


"Haaaah, hari ini cukup membuat kepala ku terasa sangat pusing" Nayyara melempar tubuhnya keatas kasur dan berbaring disana.


"Ayah doakan aku agar bisa menyelesaikan kasus kali ini" ujar Nayyara sambil memejamkan matanya.


"Kau sudah pulang?" Tanya seorang wanita yang muncul setelah menggeser pintu kamar Nayyara.


"Astaga ... Ibu sungguh mengagetkan ku!" Nayyara langsung duduk karena terkejut.


"Maaf kan ibu yang mengejutkanmu"


Saleema seorang janda yang memiliki dua orang anak.


Nayyara adalah putrinya yang memiliki kecerdasan dan nyali besar seperti mendiang suaminya.


"Jadi apa kasus mu kali ini adalah pembunuhan yang viral diberbagai media sosial?" Tanya ibunya.


"Hmm ... Ibu benar sekali!" Nayyara menjentikkan jarinya.


"Kali ini ibu mohon kau berhati-hati lah, jangan sampai kau terseret dalam kasus ini, ibu sangat takut dan satu hal lagi jangan memakai piyama merah muda keluyuran malam hari!" Saleema menegaskan kalimat terakhirnya.


"Ada apa dengan piyama warna merah muda?" tanya Nayyara.


"Karena wanita itu memakai piyama warna merah muda saat kejadian." Kata Saleema kepada anaknya.


"Istirahatlah dulu ibu akan menyiapkan makan malam."Saleema keluar dari kamar Nayyara.


Didalam kamarnya Nayyara memikirkan apa yang ibunya tadi katakan.


"Ah sudah lah, mungkin ibu hanya asal bicara nama ada orang membunuh berdasarkan baju yang dipakai!" Pekiknya.


******


"Kak apa kali ini kau akan mengungkap kasus pembunuhan yang sedang viral itu?" tanya Jonathan


"Hmmm pasti!" ucapnya dengan penuh keyakinan.


"Benarkah? Jika memang benar aku akan semakin terkenal" ujar Jonathan bangga.


"Aiiiish adik macam apa yang mengandalkan kepopuleran kakaknya" cibir Nayyara ketika mendengar adiknya bicara.


Jonathan adalah anak kedua dari Saleema yang hobinya bermain basket.


*****


"Buu ... Aku berangkat dulu" teriak Nayyara untuk berpamitan.


"Hati-hati jangan sampai lengah, pegang erat tas mu dan jangan lupa bawa payung agar tidak kehujanan atau kepanasan" teriak Saleema sambil mengingatkan berbagai hal kepada putri nya.


"Baik Bu"


Nayyara berjalan menyusuri gang rumahnya dan saat sampai persis didepan gang dia menunggu bus yang lewat di halte.


"Kalau jalanan tidak macet maka aku akan sampai kekantor dalam dua puluh menit" ujar Nayyara sambil melihat layar ponsel yang ada ditangannya.


Selama perjalanan dia selalu melihat kearah luar jendela bus untuk menikmati pemandangan yang berbeda setiap harinya.


"Wah anak itu lagi, dia selalu naik bus yang sama denganku" Nayyara melihat kearah seorang anak laki-laki yang memakai seragam SMA.


Nayyara kembali memfokuskan diri agar bisa berhenti tepat di depan kantornya.


Nayyara memencet bel untuk memberitahukan supir untuk menghentikan laju busnya.


Nayyara turun dari bus dan dia berdiri tepat didepan pintu gerbang kantornya.


"Aku akan bekerja lebih keras hari ini!" Semangat Nayyara.


Klakson motor terus terdengar berkali-kali oleh Nayyara, seseorang membunyikan klakson motornya dengan keras.


"Hei kau ingin terus berdiri didepan pagar ini?" teriak pria yang mengendarai motor.


"Niiiick" teriak Nayyara yang kenal dengan suara yang barusan meneriakinya.


Nick langsung menarik gas motornya untuk menghindari umpatan Nayyara.


"Dasar anak nakal, tukang rusuh! Kau selalu mengganggu ku!"


Benar saja Nayyara akan mengumpatnya ketika Nick selalu mengganggunya saat sedang berdiri di depan pagar yang menjadi penanda gerbang masuk kantor kepolisian.


Nayyara memiliki kebiasaan memandangi kantornya sebelum mulai bekerja untuk menumbuhkan rasa semangat dihatinya.


******


"Kerjakan kasus ini!" Nayyara meletakkan beberapa tumpukan kasus di meja Nick.


"Kasus pembegalan, kasus keracunan makanan, kasus penganiayaan dan kasus pencurian sepeda motor! Apa maksud kau meletakkan kasus-kasus ini dimeja ku?" Tanya Nick.


"Kau selesaikan semua kasus itu!" Perintah Nayyara yang bertugas sebagai wakil ketua.


"Aku akan mengerjakan kasus pembunuhan kemarin!" Tegas Nick


"Tidak! kau selesaikan kasus itu!" Nayyara tak menerima penolakan.


"Kenapa? Apa Aku tidak mampu menyelesaikan kasus itu? Atau kau yang tidak mau mengajakku?" tanya Nick secara beruntun.


"Aku tidak mau kau dalam kesulitan, Aku harus menjaga mu kali ini!" Batin Nayyara


Bersambung...


Susi akhirnya memilih tidur ketika kata bersambung telah Hadir di kaca televisi.


"Semoga besok misteri terpecahkan." gimana Susi.