
Dinniar bertemu dengan Darius di rumah saat baru kembali bekerja.
Darius dan Dinniar sama-sama turun dari kendaraan yang mereka kendarai.
Dinniar berjalan menuju Darius dan mereka saling bertatapan.
"Hai." Darius menyapa Dinniar.
"Hai." Dinniar membalas sapaan mantan suaminya itu.
Dinniar membuka pintu pagar dan memasukkan motor yang dia pakai bekerja sehari-hari.
Darius mengekori Dinniar masuk ke dalam rumah yang pernah dia tempati selama membangun rumah tangga dengan mantan istrinya itu.
Dinniar dan Darius melewati pintu secara bergantian.
"Mami." Tasya keluar dari kamarnya dengan berlari seraya memanggil Dinniar.
Dinniar dan Tasya saling menyambut pelukan. Mereka sangat begitu lengket satu sama lain. Tak terasa kini putrinya sudah masuk sekolah taman kanak-kanak.
"Tasya tidak mau peluk Papi?" Darius mengharapkan sambutan dari putrinya yang begitu dia rindukan selama ini.
"Sapa papi." Dinniar mengelus kepala belakang putrinya.
Tasya menatap lekat ke arah maminya. Ada rasa yang membuat seorang anak ini tidak begitu akrab lagi dengan Papinya. Tasya membuat jarak sendiri dengan Darius. Tasya memang terkadang pergi dengan Darius atau menginap di tempat Darius. hanya saja putri kecil itu tidak lagi menampakkan kenyamanannya saat berada di dekat pria yang sudah menyakiti hati maminya.
"Hai papai." Tasya menghampiri Darius sambil melambaikan tangannya lemas.
Tak ada lagi keceriaan saat berada di samping papinya.
"Tasya, apa mau hari ini ikut makan malam dengan papi dan bunda?" Darius membahasakan Cornelia dengan bunda.
Tasya menoleh ke arah Dinniar. Dinniar mengerti maksud putrinya. dia meminta izin dan meminta tolong kepada maminya untuk mengambil keputusan. Anak cerdas itu selalu bisa mengerti perasaan maminya.
"Baik, aku akan ikut. Hanya saja aku tidak mau memanggilnya dengan sebutan bunda. Bunda itu'kan artinya ibu dan ibu aku hanya Mami seorang, tidak ada yang boleh menjadi ibu ku selain Mami. Tidak ada wanita manapun yang bisa menjadi Mami." Tasya bicara dengan tegas sambil melihat manik mata papinya.
Dinniar begitu tersentuh dengan semua yang diucapkan oleh putrinya yang manis. Dia berkaca-kaca sambil melipat bibirnya menahan tangisan. Hancur rasanya hati seorang ibu yang melihat malaikat kecil yang dia lahir'kan hatinya diliputi kekecewaan. Dinniar mengerti sekali kalau Tasya masih kecewa. Dia bahkan sempat melihat pertengkarannya dengan Cornelia di rumah waktu itu.
"Tasya, ganti baju dulu. Habis itu jalan sama Papi ya. Mami mau bicara sebentar sama Papi."
Tasya langsung beranjak dari sisi Darius dan masuk ke dalam kamarnya.
Melihat Tasya sudah masuk ke dalam kamar. Dinniar melangkah mendekati mantan suaminya itu.
"Mas, Aku hanya mau ingat'kan kamu. Jangan pernah memaksa putriku untuk mengakui istrimu itu. Tolong mengerti sedikit perasaan putrimu. Jangan hanya memikirkan kepentingan dirimu sendiri." Dinniar menunjuk Darius hingga tubuh pria itu terdorong sedikit.
"Dinniar. Kamu jangan egois. Cornelia juga ibu dari putriku. Dia adalah ibu sambungnya. Wajar jika dia ingin diakui sebagai seorang ibu. Itu saja." Darius menunjukkan kembali sikap arogannya.
"Kamu ya, Mas. Selalu saja bilang kalau aku yang egois. Yang egois selama ini itu kamu mas!" Dinniar meninggikan suaranya.