
Alesya yang kemarin sempat menguping percakapan omnya dengan seseorang di telepon. Sejak semalam dia tidak bisa tidur nyenyak.
Pagi harinya. Alesya langsung menemui Jonathan yang sedang menikmati kopi di halaman belakang villa.
Alesya duduk di bangku yang ada di samping Jonathan. Jonathan menoleh kepada Alesya. tidak biasanya Alesya menghampirinya pagi-pagi sekali.
"ada apa?" tanya Jonathan kepada keponakannya.
"Alesya semalam dengar kamu sedang berbicara di telepon. Om diberitahukan bahwa anak dari Bu Dinniar menghilang." Alesya mengedarkan pandangannya ke arah Jonathan.
"Benar lalu ada apa?" tanya Jonathan.
"Apa Om tidak berniat untuk membantunya?" tanya Alesya dengan tatapan yang membuat pamannya iba.
Jonathan mengalihkan pandangannya dari keponakannya itu. Dia tidak bisa melihat tatapan iba dari wajah cantik keponakannya.
"Om bukan tidak mau membantu, tapi om rasa ini bukan urusan kita. Om tidak ada salah paham dan Om rasa sudah banyak orang yang membantu." Jonathan menyesap kopinya lagi.
"Om kalau aku yang meminta. Apa Om akan menolong Bu Dinniar? Om tahu'kan kalau aku sangat menyayanginya. Aku tahu rasanya kehilangan. Kehilangan orang tua saja berat bagiku. Apalagi seorang ibu yang kehilangan anaknya. Pasti sangat menyakitkan." Alesya berkaca-kaca.
Jonathan tidak percaya kalau keponakannya itu sangat dewasa dan masih merasakan kesedihan yang mendalam.
"Benar kata Alesya. Aku saja berat kehilangan kakakku. Apalagi orang tua yang kehilangan anaknya." Jonatan menjadi terpikirkan tentang perasaannya sendiri.
"Kalau Om bantu. Apa kamu mau berjanji sesuatu?" tanya Jonathan.
"Janji? Apa?" tanya Alesya.
"Janji kamu harus selalu ceria." Jonathan mengeluarkan jari kelingkingnya.
"Okeh. Aku janji." Alesya menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingking pamannya.
Mereka saling mengikat janji.
"Om juga harus janji. Cepat-menikah atau," Alesya terjeda.
"Atau apa? Jangan aneh-aneh ya" tanya Jonathan yang menyela perkataan keponakannya.
"Kamu itu ya. Sok-sokan, emangnya kamu udah punya calonnya?" Jonathan terkekeh.
"Udah donk. Kalau belum punya buat apa aku menantang Om." Alesya melepas tautan jari kelingking mereka.
"Baik. Om janji."
"Terima kasih, Om baik." Alesya mengecup pipi Jonathan dan kembali masuk ke dalam.
Alesya senang sekali. Dia sudah memiliki wanita pilihan untuk menjadi calon tantenya. Alesya sudah sangat mengenal wanita ini. Wanita yang menurutnya adalah Bidadari yang turun dari khayangan.
selesai dengan perbincangannya bersama Alesya. Jonathan mengeluarkan ponsel miliknya.
Jonathan menceritakan kasusnya dan kemudian mengerahkan beberapa anak buahnya. Dari beberapa anak buahnya Jonathan meminta mereka mencoba mencari rekaman dari beberapa sudut restoran. Dia juga meminta agar hari ini sang putri harus ditemukan.
"Aku akan menemukan putrimu. Aku sudah berjanji kepada Alesya dan hal ini akan membuatnya selalu tersenyum."
Jonathan menyebarkan foto Tasya kepada anak buahnya. Dia yakin secepatnya Tasya akan ditemukan.
...****************...
Dinniar dan Darius saling berpandangan. Dinniar menatap dengan rasa penuh amarah. Dia tidak menyangka disaat genting seperti ini. Pria yang pernah dinikahinya itu lebih mementingkan urusan ranjang.
Kekecewaan yang besar sudah sangat meliputi hati dan pikirannya. Jika dia tidak menghargai staff kantor polisi. Sudah pasti satu tinjauan sudah mendarat di pipi Darius.
Dinniar menarik napas panjang berusaha tenang menghadapi pria yang sudah tidak dikenalnya lagi.
"Dinniar. Dengar, bukan begitu maksudku. Aku bukan mementingkan hal itu. Kamu salah paham." Darius terus berusaha mengelak.
"Salah paham? Jadi, apa hubungan kita selama ini juga salah paham?" tanya Dinniar.
"Bukan begitu maksudku." Darius jadi bingung menghadapi Dinniar.
Dinniar meninggalkan Darius. Dia sudah tidak ingin mendengar hal apapun dari mulut pria itu.