Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Part 117 - Tebak-tebakan



setibanya Jonathan dan Dinniar di rumah mereka merencanakan liburan berdua mereka untuk pertama kalinya.


"Papi besok kita bersiap untuk pergi ke Palembang. di sana Aku punya teman yang jago banget bikin tampan dan kebetulan dia itu juga buka toko pempek terkenal di Palembang. Aku dengar kamu kan suka banget tuh sama pempek. jadi kita akan cari penginapan di sekitar sana." tutur Jonathan


"jadi kita Minggu depan bulan ini berdua?" tanya Dinniar.


"Iyah dong sayang. masa Iyah kita bulan madu bareng-bareng. nanti kalo kedengaran kan malu." Jonathan menyentuh mesra pangkal hidung istrinya.


Dinniar begitu bahagia dengan apa yang di sampaikan oleh suaminya. hingga tidak sabar untuk menanti hari Sabtu esok hari.


"Kita tidur lalu besok bersiap. Aku tidur sambil peluk kamu ya. biar makin nyenyak." Manja Jonathan.


Mereka tidur dengan saling berpelukan. Dinniar semakin lelap juga ketika tidur di dada bidang milik suaminya.


****************


Pagi hari yang indah dengan suara ayam yang berkokok merdu. Dinniar dan Jonathan bangun tidur dengan kondisi tubuh segar bugar. Sebelum turun dari tempat tidur. Mereka saling mengecup dahi sebagai ungkapan sayang di pagi hari.


Dinniar segera masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan diri. Sedangkan Jonathan sibuk untuk merapihkan barang bawaannya. Dia sengaja mempersiapkan semuanya sendiri dan menatanya di kasur untuk istrinya masukkan ke dalam koper mereka.


Dinniar yang sudah selesai mandi kembali menuju kamar tidur mereka.


"Sayang semua perlengkapan ku sudah ada di atas kasur. tinggal kamu masukkan ke dalam koper saja. sekarang aku mau mandi dulu." Kecupan pun di daratkan Jonathan di pipi istrinya.


Dinniar tersenyum dan mengangguk. Dia segera merapihkan barang-barang yang akan dia bawa juga.


Dinniar tidak sabar untuk segera pergi ke kota Palembang dan segera berkunjung ke rumah sahabat suaminya yang semalam dia ceritakan.


Antusiasme terlihat sangat jelas di wajah Dinniar saat ini. Dia membawa beberapa pakaian yang menurutnya nyaman untuk di kenakan.


"Suami, semua sudah aku masukkan ke dalam koper. kamu tinggal bawa saja. aku mau melihat anak-anak dulu. dan memberitahukan mereka tentang rencana kita." Dinniar berteriak di balik pintu kamar mandi yang tertutup rapat.


"Iyah. nanti koper aku bawah turun. kamu lihat anak-anak saja dulu." Jonathan menjawab dari balik kamar mandi sambil memberikan shampo ke rambutnya.


Dinniar segera melangkah ke kamar tidur kedua putrinya. Dinniar melihat kedua anak cantiknya sudah sangat rapih.


"Kalian rapih banget sih?" tanya Dinniar sambil membuka pintu dengan lebar sekali.


"Kita di rumah ajah kok, Mih. kalo Mami mau ajak kita jalan-jalan juga boleh." Alesya menatap Tasya.


"boleh banget malahan." teriak dua putri cantik itu dengan bersamaan.


"Kesayangan Mami. Maafin Mami ya. Mami dan papa rencananya hari ini mau pergi ke Palembang untuk bulan madu. Kalian pergi sama Oma dan nenek ya. Hari ini sampai dua Minggu ke depan, nenek dan Oma akan menginap di sini. okeh." Dinniar menatap kedua putrinya.


"Okeh. kita enggak masalah. asalkan Mami dan Papa bahagia. kita seneng banget. Ya kan Tasya?" tanya Alesya kepada adiknya.


"Iyah. benar kata kak Alesya. Aku tidak masalah. Aku malahan bersyukur banget kalau Mami dan Papa akhirnya memutuskan untuk pergi berbulan madu." Tasya memeluk Maminya.


Melihat Tasya memeluk Mami Dinniar. Alesya ikut memeluk keduanya. Mereka bertiga kini berpelukan erat menumpahkan rasa kasih dan sayang.


****************


Jonathan menarik koper mereka berdua. Saat ingin menuruni tangga. Suara telepon seluler miliknya berdering dengan nyaring.


"Pak, ternyata model kita sudah menandatangani kontrak kerja dengan agency milik pak Darius. mantan suami dari ibu bos." Paparnya.


"Kamu serius, Ren? Kok bisa?" tanya Jonathan yang merasa ada hal janggal.


"Menurut beberapa anak buah saya yang mencari informasi. Pak Darius memberikan uang kontrak kerjasama dua puluh persen di atas biaya kontrak model." Rendy kembali menjelaskan.


"Saya rasa, ini ada sesuatu hal yang janggal, Ren. kamu harus selidiki lebih lanjut lagi. Oh iya, saya dan istri akan pergi selama dua Minggu berkeliling kota. Saya titip perusahaan sama kamu. dan tolong pantau juga kondisi keluarga saya di rumah kalau kamu ada waktu senggang." Jonathan menitipkan pesan sebelum menutup panggilan telepon.


Menjadi seorang bos baru kali ini dia meninggalkan perusahaan dalam waktu lama dan bukan untuk bekerja melainkan untuk pergi berbulan madu alias untuk urusan pribadi sendiri.


Jonathan kembali menarik kopernya dan memasukkannya ke dalam mobilnya. Dia akan di antar oleh sopir ke bandara Soekarno Hatta.


"Semua sudah siap?" tanya Mama Juwita kepada Jonathan.


"Sudah mah, mama kapan sampai?" tanya Jonathan.


"Sepuluh menit yang lalu. saat kamu sedang menerima panggilan telepon di atas sana." Mama Juwita menunjuk tangga paling atas.


"Oh, papa mana mah?" tanya Jonathan sambil mengedarkan pandangannya.


"Papa lagi di depan sana tuh. lagi teleponan juga sama orang. Urusan bisnis kali. Mama ke atas dulu ya. mau ketemu anak-anak." Mama Juwita mengayunkan kakinya dan berjalan ke arah tangga.


Dia semakin bahagia semenjak memiliki dua cucu yang begitu cantik dan sangat pintar. mama Juwita pergi ke kamar dua putri itu tidak dengan tangan kosong. Sudah ada lima paper bag yang dia junjung di kedua tangannya.


"Selamat pagi cucu-cucu kesayangan omma." Mama Juwita muncul dari balik pintu kamar.


"Omaa." kedua nya langsung berteriak riang.


"Tebak, Oma dan opa bawain kalian berdua apa?" tanya mama Juwita sambil memperlihatkan beberapa tentengannya kepada sang cucu.


"Wah banyak banget Oma bawaannya. Sini Oma, Alesya dan Tasya bantu." Alesya sudah mau meraih kantong belanjaan yang ada di tangan Omanya. namun, seketika mama Juwita menarik mundur tangannya. Alesya terkejut.


"Ingat harus di tebak dulu. baru bisa lihat apa isi di dalam kantong belanja ini. Warna ungu punya Alesya dan pink punya Tasya. Ayo kita mulai permainannya.


Alesya dan Tasya bergantian menebak Apa isi kantong belanjaan yang dibawa oleh Mama Juwita. dimulai dari Alesya menebak terlebih dahulu.


"ayo coba tebak apa ya isinya."


semakin di tantang untuk menebak, semakin mereka semua penasaran. satu kantong sudah ditebak dan ternyata benar Alesya mendapatkan boneka dari mama Juwita.


"Sekarang giliran Tasya. ayo tebak isinya apa?" tanya mama Juwita kepada cucunya.


"Boneka." Tasya mengikuti apa yang ditebak oleh kakaknya.


"Yaaah, salah. isinya baju." Mama Juwita membuka kantong belanjaan.


Tasya merengut kecewa karena salah menebak. Mama Juwita yang melihat ekspresi itu langsung tersenyum.


"Walaupun salah, tetap kok ini untuk Tasya."


Seketika wajahnya kembali cerah lagi. dan langsung disambarnya baju pemberian mama Juwita.