
Dinniar masih terus marah kepada Darius. Dinniar tidak habis pikir dengan Darius yang membiarkan seorang anak lima tahun pergi sendirian ke toilet.
"Kamu memang ayah yang tidak bisa diandalkan, Mas. Bisa-bisanya kamu mengabaikan putrimu demi pelakor ini!" Teriak Dinniar.
Semua mata langsung serentak memandang rendah kepada Cornelia.
"Apa maksudmu! Aku adalah istri sah Mas Darius. Sedangkan kamu adalah mantan istrinya." Cornelia marah kepada Dinniar. Ditambah semua orang menatapnya.
"Kamu memang sekarang adalah istri sahnya, tapi dulu kamu adalah perusak rumah tanggaku dengan Mas Darius.Sekarang kalian mau merusak kebahagiaanku dengan hilangnya putriku?" Dinniar tambah mengamuk.
"Sudah ... sudah. Sebaiknya kita segera cari Tasya. Aku khawatir kepadanya " Darius bangkit dari duduknya dengan kepala yang masih terasa pening.
"Harusnya sejak awal kamu sudah khawatir bukan santai saja." Dinniar pergi menuju meja resepsionis.
Dinniar menarik napas panjang untuk mengontrol emosi dirinya. "Mbak, apa manager restoran ada?" tanya Dinniar.
"Ada Bu, tadi beliau juga ikut mencari anak ibu. Sebentar saya panggilkan dulu."
Wanita yang menjadi resepsionis itu memanggil manager restoran. Sedangkan Dinniar menunggu sambil berdiri dan menghentakkan kaki.
Darius dan Cornelia kembali mencari keberadaan Tasya. Mereka berdua kembali mengelilingi sekitar restoran untuk memastikan lagi.
Dinniar akhirnya bertemu dengan manajer restoran.
"Pak, terkait putri saya yang hilang. Saya minta untuk anda melihat rekaman CCTV. Disana pasti putri saya terlihat." Pinta Dinniar.
Manajer restoran berpikir sejenak. Dia akhirnya menyetujui permintaan wanita yang sedang kehilangan Putrinya. Dinniar dan manajer restoran masuk ke dalam sebuah ruangan yang didalamnya di jaga oleh pria yang bertugas sebagai penjaga.
Penjaga ruangan CCTV langsung menjalankan tugas. Dia mencari file rekaman dan menemukannya. Segera dia membuka file dan menjalankannya.
"Ini, Pak. Namun, sayang pada rekaman ini tidak terlihat anak kecil yang disebutkan ciri-cirinya itu memasuki toilet."
Mereka bertiga mengamati rekaman video CCTV. Dinniar sangat fokus dan benar saja. Tasya tidak terekam CCTV yang menuju toilet. Sedangkan dari CCTV tempat Darius dan Tasya duduk ada tempat yang tidak terjangkau CCTV.
Di sanalah mereka kehilangan Tasya.
Dinniar benar-benar merasa frustasi. Hari semakin malam dan restoran juga akan segera tutup. Semua pelayan restoran sudah mencari Tasya hingga ke dalam lemari yang kemungkinan cukup untuk tubuh mungil Tasya.
Dinniar keluar dari dalam ruangan CCTV dan dia melangkahkan kakinya keluar dari restoran. Dia kembali ke dalam mobilnya dan keluar area parkir.
"Aku harus mencari Tasya di sekitar jalan."
Dinniar menjalankan mobilnya dengan kecepatan rendah. Dia terus mencari di sekitar jalan yang kemungkinan di susuri oleh putrinya.
"Tasya kamu dimana? Mami khawatir sayang."
Dinniar sudah menangis. Dia menahan air matanya sejak tadi. Kini tangisan itu pecah dan air mata lolos dan menggenangi pipinya.
Ibu mana yang mampu kehilangan anaknya. Tidak ada satupun ibu yang bisa tenang ketika anaknya tak terlihat olehnya. Dinniar sejak di rumah sudah sangat tidak enak perasaannya dan benar saja ternyata sampai di restoran putrinya menghilang.
Dia memakai Darius pun percuma. Pria itu hanya bisa diam dan tak bisa melakukan apapun.
Dinniar terus mencari hingga waktu menunjukkan pukul satu pagi. Dia akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah dan meminta bantuan asistennya dan keluarganya untuk membantu mencari keberadaan Tasya yang menghilang.