
Sepeninggalan Melinda dari ruangannya. Dinniar langsung menghubungi suaminya dan juga Rendy. Dia memiliki pemikiran yang kurang baik terhadap Melinda.
"Aku rasa dia sedang merencanakan sesuatu." seru Dinniar ketika suami dan Rendy sudah berada di ruangannya.
"kenapa kamu memiliki pemikiran seperti itu?" tanya jonathan
"Dia ingin membuat pesta penyambutan karena aku menjadi manajer di hotel. Aku tidak yakin kalau dia benar ingin membuat pesta penyambutan. Pasti ada sesuatu yang sedang dia rencanakan." pikir Dinniar.
"bagaimana menurutmu, ren?" tanya jonathan kepada asisten pribadinya.
"sebaiknya kita selidiki terlebih dahulu. Saya akan mengerahkan beberapa anak buah untuk mengawasi gerak-gerik Melinda."
"Kalau begitu bawa ini. Taruh di tempat yang sekiranya bisa membantu. Dan aku akan coba ke rumah om syam. Aku juga akan memasangnya di sana." Atur Jonathan.
"Ren, kamu harus dapatkan informasi secepatnya. Minta anak buahnya untuk berhati-hati juga. Jangan sampai kalian ketahuan. nanti bisa-bisa kita yang terkena jebakan." saran Dinniar.
"Baik, saya akan mengatur anak buah saya. saya permisi dulu." Rendy izin undur diri dan keluar dari ruangan Dinniar.
"Apa yang sedang dia rencanakan sebenarnya. Aku rasanya ingin sekali membuatnya hilang dari bumi ini. Kalau saja ada pintu kemana saja. Sudah pasti aku akan membawanya ke gurun yang sangat panas. Agar dia tidak pernah muncul lagi di depan kita." ucap jonathan dengan wajah yang begitu serius.
"Kamu ini. Mana ada pintu kemana saja. Memangnya kita hidup di dunia kartun." gelak tawa terdengar.
Dinniar dan Jonathan tertawa bersama. Di awal Dinniar bekerja keadaan malah membuatnya menjadi tertekan. Dia bukan hanya memikirkan pekerjaan, tapi juga memikirkan cara agar tidak terjebak oleh Melinda.
"Kita makan siang dulu." ajak Jonathan.
Mereka berdua keluar dari ruangan dan ternyata keduanya berpapasan dengan Evelin yang akan menandatangani kontrak kerjasama lanjutan.
"Evelin." sapa Dinniar
"Hai." balasnya dengan nada suara yang lesu.
"Evelin, apa kamu sedang sakit?" tanya Dinniar yang memperhatikan nada suaranya.
"Tidak. Aku baik-baik saja." jawabnya dengan senyuman terpaksa.
"Baiklah. kami pergi dulu."
Evelin memperhatikan bagaimana Jonathan dan Dinniar pergi dengan sangat mesra. sangking memperhatikan pasangan yang sedang berjalan sambil bergandengan tangan itu. Dia sampai tidak tahu kalau Melinda tengah menghampirinya.
"apa kamu cemburu?" tanya Melinda.
"hai, Melinda." Evelin pura-pura tidak mendengar pertanyaannya.
"Evelin, jika kamu benar ingin mendapatkannya kembali. Aku punya cara agar bisa membuatnya menjadi milikmu." bujuk Melinda.
"Apa maksudmu?" Evelin mengernyitkan keningnya.
"Ayo bicara di ruanganku." ajak Melinda sambil berjalan dan diikuti oleh Evelin.
Entah kenapa Evelin seperti ada magnet yang menarik dirinya untuk ikut dengan Melinda. Meski dia tahu Melinda bukanlah teman bicara yang baik.
"Duduk."
Melinda duduk sambil menyilangkan kakinya. Dan Evelin pun ikut duduk.
"aku punya rencana yang sangat cemerlang. Rencana ini bisa membuatmu kembali memiliki Jonathan. Aku harap kamu bisa kembali bersatu dengannya. Aku kasihan melihat sepupuku terus hidup dalam kepura-puraan." Melinda kembali menyemprotkan bisanya.
Melinda membisikkan rencananya yang membuat Evelin terbelalak sehingga matanya membulat sempurna.
"Melinda. Itu idemu terlalu ekstrim." ucapnya
"Kalau bukan rencana yang ekstrim apa kamu pikir mudah membuat Dinniar melepaskan suaminya?" tanya Melinda dengan wajah serius.
"bagaimana apa kamu mau menjalankan rencana ini?" tanya Melinda dengan mendekatkan wajahnya ke wajah Evelin.
Evelin lalu mengangguk. Entah setan apa yang telah merasuki dirinya. Dia malah ingin mengikuti rencana licik Melinda untuk menghancurkan rumah tangga Dinniar dan Jonathan.
"Kalau begitu aku akan menghubungimu kapan kita akan mulai rencana ini." Melinda menarik kembali tubuhnya dan duduk dengan tenang di sofa.
Melinda sangat puas. Dia benar-benar bisa dengan mudah mempengaruhi Evelin. model sukses itu tak bisa menolaknya.
"Aku pergi dulu." Evelin keluar dari ruangan Melinda.
pintu ruangan tertutup dan Melinda meletakkan kedua tangannya di dada sambil menyender di punggung sofa.
"Evelin ... Evelin. Kamu dan manajermu benar-benar orang bodoh. Aku tidak menyangka semudah itu mempengaruhinya. Dia bahkan tidak tahu kalau aku punya rencana lain dibalik rencana itu." desisnya.
Melinda benar-benar wanita licik. Dia juga sangat tidak berperasaan. Memanfaatkan orang adalah keahlian Melinda. Dia bahkan memanfaatkan salah satu rekan bisnisnya agar memenangkan proyek.
hotel akan kedatangan Menteri pariwisata pekan depan. Dia berhasil mendapatkan tender itu karena berbuat curang. Jonathan belum mengetahuinya.
"Aku akan menggunakan segala cara untuk mendapat pengakuan dari papaku dan juga mamamu agar nanti dapat restu darinya."
Melinda benar-benar tidak memikirkan hal apa yang akan terjadi suatu hari nanti karena perbuatan curang itu.
Melinda yang sedang memikirkan banyak hal tidak tahu kalau Dinniar sudah mengatur para anak buahnya. Rendy segera mengerahkan anak buahnya dan meminta mereka menjalankan misi.
"Kalian ingat. Ini kisi penting. jika gagal. Habislah riwayat kita. Kalian harus bermain cantik." tegas Rendy kepada beberapa anak buahnya yang ditugaskan di kantor.
"Kamu, pantau Melinda dan pasang alat penyadap di mobilnya." perintah Rendy.
"Siap, pak Rendy. saya akan segera kerjakan perintah anda." ucapnya sambil memberi hormat.
"Semuanya. Kita harus menang. pak Jonathan akan memberikan bonus jika misi ini berjalan sesuai rencana." teriak Rendy agar semua anak buahnya menjadi semakin bersemangat.
"Siap, laksanakan. pasti sukses." balas mereka dengan berteriak lantang.
bagi mereka pantang menyerah dan pantang kalah. mereka selalu bekerja sekuat tenaga dan berpikir cepat jika terjadi hal yang tidak sesuai dengan rencana yang telah disusun.
Menjalankan misi memang bukanlah hal yang mudah. Namun, bagi mereka mencari pekerjaan lain adalah hal yang lebih tak mudah lagi. Maka dari itu mereka akan selalu berusaha keras mewujudkan semuanya.
Rendy segera menghubungi Jonathan. "Semua sudah dikerahkan. Mereka akan segera bergerak. Saya melihat Bu Melinda keluar dari ruangannya. dia anak buah saya akan bergerak sekarang." Rendy melapor kepada Jonathan.
setelah melapor Rendy kembali bekerja. dia mengawasi hotel selama Jonathan dan Dinniar sedang berada di luar.
Manusia terkadang merasa dirinya paling pintar. Padahal dia tidak pernah tahu kalau ada orang lain yang lebih pintar dan cerdik. seperti pepatah mengatakan. Sepandai-pandainya tupai melompat akan jatuh juga.
Melinda mungkin saat ini sedang merasa di atas awan. padahal dia tidak menyadari kalau semuanya bisa berbalik melawan dirinya sendiri. Jonathan dan Dinniar membiarkan wanita seperti melinda terbang ke atas awan untuk saat ini.
Saat kita mengatur rencana juga jangan terlalu mudah percaya kepada orang. siapa tahu orang itu bukanlah teman kita, tapi dia adalah musuh yang berkedok teman.