Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Part 97 - Welcome Home



Jonathan mempersilahkan Dinniar dan keluarganya beserta sahabatnya masuk ke dalam rumah yang akan di tempati oleh Jonathan, Dinniar dan juga Tasya.


"Selamat datang di rumah baru." Sambut Alesya dan juga Omanya.


Suara tiupan terompet terdengar begitu meriah di telinga semua orang. Dinniar begitu terharu dengan sambutan meriah yang di buat oleh keluarga suami barunya.


Dinniar merasa begitu di sambut dan di harapkan kehadirannya. Dulu saat dengan Darius dia juga merasakan hal yang sama, tapi kali ini rasanya sangat berbeda sekali.


Dinniar dan keluarganya menikmati kebersamaan bersama. Berbeda dengan saat bersama Darius. Mama dan papanya kurang menyetujui hubungannya dengan Darius kala itu. Namun, karena dia mencintai Darius dan melihat kesungguhan Darius maka kedua orang tuanya memberi restu.


"Terima kasih banyak." Dinniar berterima kasih kepada Jonathan saat dia diajak berkeliling.


"Terima kasih untuk apa?" tanya Jonathan.


"terima kasih untuk semuanya. kamu sudah sangat banyak membantuku selama ini. terutama kepada Tasya. kamu begitu perhatian kepadanya, sehingga anakku merasa nyaman saat berada di dekatmu." Dinniar memandang Jonathan.


"Aku juga terima kasih. Karena kamu sudah menerima pinanganku dan mau tinggal di sini." Jonathan tersenyum tulus.


Mereka berdua melanjutkan perjalanan berkeliling dan melihat-lihat kamar yang akan mereka tempati dan juga kamar Tasya yang sudah di dekorasi secara mendadak oleh team Rendy.


Setelah puas berkeliling. Mereka berdua kembali bergabung dengan sanak saudara. Kebetulan hari sudah semakin larut. mereka semua berpamitan dan tidak mau mengganggu pasangan pengantin baru yang tengah berbahagia.


Tasya diantar oleh Dinniar dan juga baby sitternya ke kamar tidur. Baby sitter Tasya sementara waktu tidur bersama Tasya untuk menjaganya. Sedangkan bibi tidur di kamar asisten rumah tangga yang terletak di dekat dapur.


"Selamat tidur sayang. Tidur yang nyenyak dan mimpi yang indah." Dinniar menyelimuti putrinya.


Dinniar keluar dari kamar Tasya dan langsung ke kamarnya yang terletak tidak jauh dari kamar Tasya.


"Tasya sudah tidur?" tanya Jonathan yang sudah berganti pakaian.


"Sudah. aku bersih-bersih dulu." Dinniar mengambil baju tidurnya di koper dan masuk ke dalam kamar mandi.


Jonathan tersenyum kecil saat melihat Dinniar sembunyi-sembunyi mengambil pakaian dalamnya dari dalam koper.


"Dasar cewek. Padahal udah pernah nikah, tapi masih ajah malu-malu." tawanya.


Jonathan terlebih dahulu naik ke atas ranjang. Dia memejamkan matanya tanpa menunggu istrinya. Rasa lelahnya begitu menjalar hingga matanya terasa semakin lengket.


Jonathan langsung terpejam dan tertidur pulas. Dinniar keluar dari kamar mandi dan dia melihat Jonathan sudah terlelap.


dengan berjinjit dia melewati kasur dan perlahan-lahan naik ke atas kasur dan Mauk ke dalam selimut.


Dia melihat lagi dengan seksama dan memastikan kalau Jonathan benar-benar sudah tidur pulas. sebelum dia memutuskan untuk ikut terlelap.


...****************...


Dinniar terbangun dengan pemandangan wajah suaminya yang sedang memandang wajahnya. Dengan cepat Dinniar menyadarkan dirinya. Dia merasa malu karena Jonathan bangun lebih dulu dari pada dirinya.


"Ma-masf aku telat bangun." Dinniar bicara dengan gagap.


"Enggak apa-apa kok. Aku ngerti kalau kamu lagi capek banget dan baru malam ini kamu tidur di ranjang." Jonathan tersenyum dan memaklumi kondisi Dinniar.


Jonathan mengerti kalau istrinya masih malu terhadapnya. dia mendekatkan tubuhnya ke tubuh Dinniar dan memeluknya sambil tetap pada posisi tiduran di kasur. Dinniar semakin malu dan wajahnya memerah.


Jonathan membenamkan wajah Dinniar di dadanya yang bidang dan kekar.


"Kalo malu diam saja di sini. kalau malunya sudah hilang kasih kode ya." Jonathan malah meledek Dinniar.


Jonathan seperti mendapatkan mainan baru. bedanya mainan ini akan selalu dia rawat dan jaga untuk selamanya.


"Aku tahu kamu belum membuka diri. Atau mungkin sudah membuka diri, tapi masih malu-malu." Jonathan kembali tertawa.


Dinniar menarik baju Jonathan dan Jonathan melepaskan pelukannya. Dengan cepat Dinniar merubah posisinya yang tadinya terlentang menjadi duduk.


"Kita apa bisa bicara?" tanya Dinniar.


Mereka kini saling duduk bersampingan. Jonathan juga melirik istrinya.


"Kita mandi dulu, setelah itu bicara." Ucap Dinniar.


"Mandi bareng?" tanya Jonathan sambil melirik Dinniar dan menunjuk ke arah walk closed.


"Bukan ... bukan itu maksudku." Dinniar langsung menggerakkan kedua tangannya.


"Terus?" tanya Jonathan.


"Maksudnya mandi masing-masing. setelah itu kita ngobrol bareng membahas semuanya." Dinniar turun dari tempat tidur dan langsung berlari ke arah kamar mandi.


Jonathan semakin terkekeh melihat tingkah Dinniar. Kehidupan baru yang Jonathan lalui sepertinya begitu berwarna. sejak Dinniar menginjakkan kakinya di rumah ini. Begitu banyak senyuman dan tawa terlukis di wajah Jonathan.


Dengan hati yang berbunga-bunga Jonathan turun dari tempat tidurnya dan dia langsung pergi keluar kamar.


Jonathan menuruni tangga dan melihat beberapa masakan sudah tersaji.


"Hemmm ... Kamu namanya siapa?" tanya Jonathan kepada baby sister Tasya.


"Saya Surti pak. Dan ini Bi Imah." Surti memperkenalkan bi Imah juga kepada Jonathan, majikan barunya.


"Oh, Iyah. Surti. Dimana Tasya?" tanya Jonathan.


"Lagi main di taman belakang pak. Sama mbok Jumi."


Jonathan langsung mencari Tasya ke taman belakang rumahnya. di sana memang ada taman bermain yang sengaja dia buat untuk Tasya.


"Tasya." panggil Jonatan.


"Papa." teriak Tasya dan langsung berlari menghampiri Jonathan.


"Tasya gimana tidurnya semalam ?" tanya Jonathan sambil menggendongnya.


"Sangat nyenyak. Tasya suka banget kamarnya. dekorasi little ponny dan perpaduan warna merah jambu dan ungunya sangat pas." Tasya begitu ceria menceritakannya.


"Berarti papa enggak salah ya, dekorasi kamar untuk Tasya?" tanya Jonathan lagi.


"Enggak salah. tepat sekali." Tasya mengacungkan kedua jempolnya.


Jonathan begitu senang karena ternyata Tasya begitu menyukai dekorasi kamar yang dia buat. Dia memang sudah bertanya apa kesukaan Tasya dan Dinniar memberitahunya. Dengan cepat dia langsung meminta Rendy untuk membuat kamar dengan nuansa little ponny dan berwarna merah jambu dan ungu.


"Tasya."


Kini giliran Dinniar yang memanggil putrinya. Jonathan langsung menurunkan Tasya dari gendongannya.


"Mamih." Tasya memeluk Dinniar.


"Aku mandi dulu." Jonathan bergegas kembali ke kamarnya.


"Mamih tidurnya nyenyak?" tanya Tasya.


"Nyenyak sayang. Tasya nyenyak tidak?" tanya Dinniar sambil menyentuh dagu putrinya.


"Nyenyak sekali. kamar yang dibuat papa sangat nyaman dan aku suka." Tasya tersenyum lebar.


"Tasya nanti sarapan sama Mbak Surti ya. Mami mau ada yang dibicarakan dulu sama papa." Dinniar menyentuh kecil pangkal hidung putrinya.


"Siap Mami. tidak perlu khawatir." Tasya begitu terlihat bahagia.


Dinniar bersyukur sekali, Tasya wajahnya begitu cerah. secerah matahari yang sedang menyinari bumi di pagi hari yang begitu indah ini. Tasya dan Dinniar saling menempelkan hidung mereka tanda kalau mereka saling sayang.