
liburan akhir pekan begitu sangat terasa singkat. mereka semua hari ini sudah disibukkan oleh berbagai macam aktivitas yang harus mereka jalani masing-masing.
"Mami, papa hari ini aku ada belajar kelompok lagi dan kemungkinan akan pulang sebelum matahari tenggelam." Alesya memberitahukan kegiatannya hari ini.
"ya sudah nanti kamu diantar sama Pak sopir ya untuk pergi ke tempat teman kamu." Kata Dinniar.
"kayaknya nggak perlu demi soalnya hari ini kebetulan banget temen aku itu dia dijemput sama sopirnya juga jadi kita akan pergi sama-sama pakai mobil dia." Alesya kembali memberitahukan kepada Dinniar rencananya hari ini.
"ya sudah kalau kayak gitu tapi kamu harus tetap hati-hati ya Sayang ya. kamu juga kapan-kapan bawa dong teman-temannya belajar kelompok di rumah. Mami dan papa kan juga mau kenal sama temen-temen kamu." pinta Dinniar kepada Alesya.
"Oke siap Mami nanti aku akan ajak temanku untuk belajar kelompok gantian di rumah kita. karena memang sih jadwalnya kita bergilir. sepertinya dua minggu lagi itu akan menjadi giliran di rumah kita deh." jawab Alesya.
"ya sudah sekarang cepat habiskan sarapannya lalu kita berangkat ke sekolah. satu minggu ini karena ada ujian anak kelas enam. sepertinya Mami akan pulang agak sore. Tasya kamu nanti pulangnya sama Pak sopir ya." kata Dinniar sambil menyiapkan kotak bekal untuk Tasya dan juga Alesya.
"kamu pulang jam berapa nanti? kalau memang aku tidak terlalu banyak pekerjaan hari ini. saya akan menjemputmu di sekolah."tanya Jonathan kepada Dinniar.
"sepertinya sekitar jam 04.00 sore mas. karena ini hari pertama sepertinya ada beberapa hal yang harus aku dan guru-guru bicarakan untuk hari kedepannya sebagai evaluasi hari ini." tutur Dinniar.
"ya sudah kalau begitu nanti aku akan menjemputmu di sekolah. Ayah anak-anak sekarang kita let's go berangkat ke sekolah."
seperti biasa Jonathan mengantar istri dan anak-anaknya pergi ke sekolah sebelum dia berangkat pergi ke kantor. Jonathan tetap memprioritaskan keluarganya sebelum Dia menghabiskan waktunya di mengurus perusahaan miliknya dan milik keluarganya.
menjadi seorang ayah, suami dan menjadi seorang pimpinan perusahaan bahkan dua perusahaan bukanlah hal yang mudah untuk Jonatan lakukan. namun, dia tetap berusaha yang terbaik untuk semuanya.
Dengan menggunakan baju seragam putih merah dan seragam putih biru. Tasya dan Alesya siap untuk pergi ke sekolah dan menuntut ilmu. Dua anak yang menggemaskan ini sangat senang sekali belajar. sehingga mereka selalu bersemangat jika untuk urusan sekolah.
Dinniar juga sudah siap dengan pakaian khas kepala sekolah. serta Jonathan yang sudah rapih dengan pakaian setelan jasnya.
Mereka berempat berangkat menggunakan mobil seperti biasa diantar oleh Jonathan. Dalam perjalanan mereka bernyanyi untuk membuat hati semakin riang dan siap menyambut pelajaran di sekolah.
di sini senang
di sana senang
di mana-mana hatiku senang
di rumah senang
Di sekolah senang
Di mana-mana hatiku senang ...
lalala lalalala lalalala lalalalala
"Nyanyi potong bebek angsa." teriak Tasya.
potong bebek angsa
angsa dikuali
nona minta dansa
dansa empat kali
sorong ke kiri
Sorong ke kanan
tralala lalala lalala lalala Lala la
masuk ke hutan, ambil rambutan
dikejar-kejar sama orang hutan.
"Dadah mami, dadah Tasya." Alesya melambaikan tangannya dan Jonathan mengendarai kembali mobilnya.
...****************...
Cornelia sejak kemarin sudah sangat sibuk sekali. dia sering kali menerima panggilan telepon. dia juga sering kali harus pergi ke suatu tempat.
"Kamu akhir-akhir ini sering sekali menerima telepon dan berpergian." Darius muncul setelah Cornelia menerima telepon.
"Mas, sejak kapan kamu di sini?" tanyanya.
"baru dua menit yang lalu. kenapa? ada yang kamu harus sembunyikan dariku?" tanya Darius dengan sangat ketus.
"mas, kamu ini. aku tidak ada yang harus disembunyikan darimu. aku bukan tipe istri yang suka main rahasia-rahasia sama suami." Cornelia langsung bergelayut di bahu Darius yang sedang menikmati kopi yang baru dia buat.
"kalau berpergian tidak perlu memakai sepatu hak tinggi. pakai saja sepatu flat." Ucap Darius yang membuat Cornelia girang mendengarnya.
Perhatian yang seperti ini yang begitu dia nantikan dari suaminya. Sejak dia pulang dari penjara. Darius sama sekali tidak menanyakan masalah kandungannya dan darius juga kurang perhatian kepadanya sebagai seorang istri yang sedang hamil.
"Aku siap-siap dulu." Cornelia dengan cepat melepas diri dari Darius sebelum ada pertanyaan lain keluar dari mulut suaminya.
"Mau kemana dia sebenarnya? kenapa dia akhir-akhir ini selalu pergi setiap hari. Apa yang dia lakukan sebenarnya." Darius terus bertanya kepada dirinya sendiri.
sedangkan di dalam kamar Cornelia sedang mempersiapkan diri untuk pergi ke suatu tempat. Dia berdandan dengan sangat formal dan dia juga menggunakan sepatu balet dengan sedikit hak tahu berukuran satu centi.
Selesai berdandan dia langsung keluar kamar dan berpamitan dengan Darius yang juga akan pergi berangkat bekerja.
mereka pergi menggunakan mobil masing-masing. Darius keluar dari gerbang komplek langsung belok ke kanan sedangkan Cornelia belok ke kiri.
Cornelia begitu ceria di dalam mobil. dia menyetel musik dan ikut bernyanyi dengan bersemangat sekali.
Cornelia melajukan mobilnya hingga sampai di sebuah gedung Tinggai yang memiliki lima belas lantai. Dia turun dan memasuki gedung tinggi tersebut.
Di sana dia disambut oleh beberapa petugas keamanan dan mengawalnya masuk ke subuh ruangan besar bertuliskan CEO PT. Muda laksana kencana.
Perusahaan yang bergerak di bidang jasa modeling. Cornelia berjabat tangan dengan CEO muda nan tampan itu. Namun, dia tidak akan jatuh hati kepadanya. karena hati Cornelia sudah hanya untuk Darius seorang.
"Silahkan duduk, Cornelia." ujarnya sambil duduk di sofa nan empuk itu.
"Terima kasih, Piter." Cornelia menyusul duduk.
Mereka saling menyapa dengan menyemut nama saja. Mereka sangat terlihat begitu akrab. Cornelia juga begitu enjoy ketika berbincang dengan pria tersebut.
Kriiing Kriiing
suara ponsel Cornelia berbunyi. "Maaf aku angkat telepon sebentar." ujarnya sambil mengambil telepon seluler dari dalam tas branded miliknya.
"Katakan saja." Ujarnya.
"Bagus kalau begitu." Cornelia menyeringai senang mendengar apa yang diucapkan oleh orang yang menghubunginya.
"Sepertinya kamu sangat sibuk." Piter bicara sambil menyesap teh yang barusan dibawa oleh office boynya.
"Hem ... hanya sedikit. biasa anak buahku melaporkan hasil pekerjaannya." Cornelia meletakkan cangkirnya kembali di atas meja.
"Aku berharap kerjasama kita, akan berjalan dengan lancar. aku akan menghubungimu lagi nanti. Untuk beberapa model yang sudah kamu berikan biodatanya, akan segera di utuh oleh teamku." Piter adalah tipe seorang pemimpin yang cepat dan tegas.
"Kalau begitu aku pamit dulu." Cornelia kembali berjabat tangan dengan Piter dan dia melangkah keluar ruangan.
Setelah jauh dari ruangan kerja Piter. Cornelia sedikit menoleh kembali dan menyeringai begitu lebar. Dia sangat kesenangan.
"Akhirnya dua perahu sekaligus dapat aku dayung. Kita lihat secepat apa aku akan sampai di tepian." Seringai itu tak luntur dari wajahnya.