
Selesai berbicara dengan Tasya. Dinniar menaiki tangga dan kembali ke dalam kamarnya.
Jonathan keluar dari kamar mandi sudah dengan pakaian lengkap di tubuhnya. dia melihat istrinya sudah berada di dalam kamar dan langsung menghampiri Dinniar.
"Mau sarapan dulu, atau langsung ngobrol?" tanya Jonathan.
"Boleh kalau ngobrol dulu baru setelah itu kita sarapan bareng." Dinniar duduk di bibir kasur.
Jonathan ikut duduk di samping Dinniar sambil mengancing lengan kemeja yang di kenakannya.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Jonathan dengan menatap manik mata istrinya.
"Pertama, aku ingin minta maaf karena di malam pertama kita menikah. Aku belum bisa melayanimu sebagai seorang suami." Dinniar menekuk wajahnya.
Jonathan menyentuh dagu istrinya dan menaikan kembali wajah yang ditekuk dalam oleh Dinniar.
"Aku mengerti kenapa kamu belum bisa melakukannya. lagipula semalam aku yang memutuskan untuk tidur lebih dahulu." Jonathan memberikan senyuman terbaiknya agar Dinniar tidak merasa bersalah.
memang bukan sepenuhnya kesalahan Dinniar mereka tidak bisa melakukan malam pertama. Jonathan sendiri Hari itu memang benar-benar sangat lama sehingga dia memutuskan untuk terlelap terlebih dahulu semalam.
kapan kemudian menanti permintaan kedua dari istrinya.
"Yang ke dua. aku mau tanya. kamu mau aku panggil apa sebagai seorang suami? semacam Mas, kakak, Abang, atau semacamnya." tanya Dinniar.
dengan pertanyaan itu wajah Jonathan menjadi sumringah. dia tidak menyangka ternyata dunia menanyakan hal itu kepadanya tanpa harus dia minta.
"Hmmmm. panggil aku Mas saja. usiaku juga lebih tua darimu. untuk panggilan mesra. Kamu bisa panggil aku suami. gimana?" tanya Jonathan.
Jonathan memang memiliki usia 2 tahun di atas di luar meski dirinya belum pernah menikah sama sekali. itulah mengapa Mama dari Jonathan begitu senang mendengar kalau Jonathan ini menikah terlebih lagi ternyata Jonathan menikah dengan anak sahabat mamanya.
Dinniar mengangguk. "Mas Jonathan." Dinniar mencoba memanggil Jonathan secara berbeda.
"ada lagi yang ingin kamu bicarakan?" tanya Jonathan.
"Satu lagi."
"Apa?" Jonathan semakin mendekatkan wajahnya.
Dinniar menjadi malu dan wajahnya sedikit dia mundurkan agar tidak terlalu dekat dengan Jonathan.
"Aku mau kita pacaran selama tiga puluh hari untuk menumbuhkan rasa diantara kita." Pinta Dinniar.
"Boleh, dengan senang hati. selama tiga puluh hari kita akan adakan kencan berdua seperti layaknya anak muda di luar sana. Aku juga akan menyiapkan semuanya untuk kita pacaran." Jonathan kemudian mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka berdua saling bersentuhan.
"Baik-baik di rumah, aku berangkat kerja dulu. Istirahat di rumah dan temani Tasya. aku mencintaimu." Jonathan menutup pembicaraan mereka dengan mengecup pipi Dinniar.
Jonathan meraih jas yang sudah dia sediakan di meja rias dan keluar dari kamarnya untuk berangkat bekerja.
Dinniar masih izin untuk tidak masuk kerja selama satu Minggu karena harus menjaga Tasya. Dinniar akan kembali bekerja setelah benar-benar memastikan bahwa putrinya baik-baik saja.
selepas kepergian Jonathan. Dinniar langsung menggerakkan badannya untuk merapihkan barang-barangnya yang sudah dia bawa. dan menangis barang-barang lainnya datang.
...****************...
Darius menghentikan mobilnya di depan rumah Dinniar. Dia lihat banyak mobil berjejer di pinggir teras rumah lamanya.
Darius turun dari dalam mobil. Dia menghampiri rumah yang begitu banyak kenangan. Darius sejenak memandang rumah yang pernah dia tempati.
Flashback
"Papi." Tasya berlari menyambutnya saat pulang dari kantor.
mereka masuk ke dalam rumah bersama dan Darius langsung di sediakan berbagai jenis masakan. ditambah lagi Dinniar membuat masakan kesukaannya yaitu opor ayam.
"Mami, bikinin papi opor ayam. kita makan sekarang yuk. Tasya sudah lapar." Tasya mengelus perut kecilnya.
Darius langsung mencubit gemas ujung hidung sang putri. mereka duduk di bangku makan dan menyantap masakan yang sudah di masak oleh wanita yang begitu di cintainya.
begitu bahagia kehidupan mereka sebelum Darius memilih untuk mengkhianati istrinya dan anaknya. Kehidupan yang begitu sempurna dan menjadi impian setiap insan yang akan membina rumah tangga atau yang sudah membina rumah tangga. Namun, sayangnya Darius memilih jalan yang salah sehingga dia terjebak dan tak bisa lagi terbebas dari jebakan itu.
flashback off.
Darius mengusap matanya yang sudah basah karena mengingat betapa indahnya hidupnya sebelum melakukan hal bodoh.
Hidupku kini sudah tidak memiliki arah tujuan lagi. Aku tidak bisa lagi memiliki dirimu yang pernah aku lukai. Kala aku bilang kata menyesal hanya akan sia-sia sebab dirimu tidak akan pernah mau menerimaku lagi. kata menyesal dan perasaan menyesal ku tidak akan pernah bisa mengubah apapun.
"Pak Darius." Bi Imah memanggil nama mantan majikannya.
"Bi Imah. ini kenapa barang-barang di keluarkan?" tanya Darius sambil memandang beberapa barang yang di keluarkan oleh BI Imah dan beberapa orang pria.
"Anu, Pak. hmmm..." Bi Imah tidak tahu apa yang harus dia katakan.
di Imah takut jikalau dia bicara tentang pernikahan Dinniar dengan Jonathan. dia tidak mau salah dalam berucap dan juga dia tidak tahu apakah hal itu boleh diungkapkan kepada mantan bosnya atau tidak.
"Bi, jangan terlalu lama. nanti nyonya akan menunggu kita." Teriak salah satu pekerja.
Dimas sedang mengurus beberapa barang yang akan dia bawa ke rumah baru Jonathan dan juga diniar. item beberapa anak buah Jonathan membantu Bi imam untuk mengetahui barang-barang dan membawanya ke rumah baru.
"Baik." Bi Imah menimpali.
"Maaf pak, saya harus bekerja." Bi Imah meninggalkan Darius.
Bi Imah meninggalkan Darius sesegera mungkin. dia tidak mau dari semakin banyak bertanya kepada dirinya. di Imah langsung masuk ke dalam rumah dan kembali membereskan barang-barang yang akan dibawa.
Darius semakin penasaran sebenarnya ada apa sehingga begitu banyak barang yang di keluarkan.
dari sudah melihat beberapa barang milik putrinya dibawa ke dalam sebuah mobil box besar. dia melihat di dalam beberapa box transparan ada boneka-boneka milik Tasya yang pernah ia belikan.
melihat hal itu terjadi membuat dari semakin penasaran dan akhirnya dia memutuskan untuk menunggu dan melihat apa yang akan terjadi.
Darius terus menunggu hingga akhirnya di Imah masuk ke dalam sebuah mobil sedan berwarna hitam dan mobil itu melaju bersama dengan beberapa mobil box.
melihat itu Darius langsung mengikuti mobil-mobil tersebut. Dia menjaga jarak tetapi pasti untuk mengikuti mereka semua.
"sebenarnya mau dibawa ke mana barang-barang itu semua? apa mereka akan membuang barang-barang Tasya yang aku berikan kepada anakku? jika hal itu sampai terjadi sungguh Dinniar sangat terlalu." dari sudah sangat berprasangka buruk kepada Dinniar.
mobil hitam dan mobil box keluar dari area komplek rumah yang dulu pernah ditempati oleh Darius dan juga istri dan anaknya.
berapa semua tidak ada yang sadar bahwa Darius mengikuti dari belakang. Darius sangat berhati-hati dalam mengikuti mereka semua agar tidak ketahuan.
"aku akan mengikuti kalian sampai ke ujung dunia pun. akan tahu kemana tujuan kalian pergi membawa semua barang-barang putriku." Darius terus mengemudikan mobilnya.
dengan sangat gesit Darius mengikuti mereka padahal pergerakan mobil di depan juga cukup lihai dan cepat.
Darius benar-benar tidak ingin kehilangan jejak mobil sedan hitam dan juga beberapa mobil box yang ada di depannya.
hingga pada akhirnya mobil sedan hitam itu dan mobil box masuk ke dalam sebuah komplek perumahan elit.
Darius terus melihat hingga pada akhirnya mereka tiba di sebuah rumah yang sangat besar. Darius masih terus memperhatikan ketika mereka mengeluarkan kembali barang-barang itu dan membawa masuk semua barang-barang ke dalam rumah besar tersebut.