
Melinda masuk ke dalam restoran dan mencari keberadaan Alesya. Setelah melihat keponakannya dia langsung menghampiri.
"Selamat ulang tahun cantik."
Melinda datang dengan hadiah yang dia bawa. Melihat tantenya ingat dengan hari ulang tahunnya. Membuat Melinda menjadi senang. Di hari ulang tahunnya kali ini mami, papa dan kedua adiknya sama sekali tidak mengucapkan selamat. Hal itu yang membuat Alesya berkecil hati ditambah dengan dia melihat keluarganya bersenang-senang tanpa dia.
"Tante masih inget hari ulang tahun aku?" tanya Alesya sambil menerima kado dari Melinda.
"tentu saja sayang. Sudah beberapa tahun sejak Tante berada di luar negeri. tante tidak bisa merayakan ulang tahunmu. Dan hari ini kita akan bersenang-senang. Tante akan mengabulkan permintaanmu." ujar Melinda dengan senyuman di bibirnya.
Alesya senang karena tahun ini dia bisa merayakan ulang tahunnya dengan Melinda. Tante yang dia sayang dan kagumi. Melinda meski terkadang sikapnya kekanak-kanakan. Namun, dia bisa dewasa jika bersama dengan Alesya. Itu yang membuat mamanya Jonathan mengijinkan Alesya untuk dekat dengan Melinda. Meski pada dasarnya Melinda mendekati Alesya karena niat ingin memikat Jonathan.
"Kamu mau pesan makanan apa?" tanya Melinda sambil duduk di samping Alesya.
Mereka berdua memesan menu yang ada di restoran. setelah memesan mereka kembali berbincang-bincang. Melinda masih terus berusaha mempengaruhi Alesya agar membenci Dinniar.
Alesya hanya bisa menggerakkan sedikit ujung bibirnya ketika Melinda menjejali dirinya dengan hasutan.
apa benar mami seperti itu dan apa benar aku lama-lama akan disingkirkan? Apa selama ini kasih sayang mami hanya kebohongan belaka demi anaknya menjadi pewaris?
pikiran Alesya melayang. Namun, dia tetap menyangkalnya. dulu pernah Cornelia melakukan hal yang sama ketika dia diculik. Namun, nyatanya semua itu tidak benar.
"apa kamu tidak percaya kepada Tante? bukankah kamu tahu kalau Tante adalah anak angkat?" tanya Melinda.
"Maksudnya?" Alesya bingung.
"kita sama Alesya. Tante dan kamu adalah anak angkat meski ada hubungan keluarga. Tante selalu menjadi pion untuk kakek Syam. Kakek selalu ingin menikahkan Tante dengan pengusaha agar bisa menikmati kekayaan yang tiada habisnya. hanya saja bedanya kamu adalah pewaris dari hotel. Kamu di sayang karena menguntungkan baginya."
Melinda benar-benar sangat licik. Dia terus mengisi pikiran Alesya dengan hal-hal yang mustahil. Alesya menjadi terdiam. pikirannya menerawang jauh seakan sedang berpikir keras. Sedangkan Melisa merasa puas karena bisa membuat Alesya menjadi ragu kepada Dinniar.
"Makan dulu. Nanti Tante akan antar kamu pulang." Melinda tersenyum.
"tidak perlu Tante. Nanti supir akan menjemput. Kalau papa tahu aku jalan sama Tante tanpa memberitahunya. Aku takut papa akan marah." kata Alesya.
"Baiklah. Tante ikut saja apa katamu."
Mereka berdua menyantap makanan yang sudah dipesan. Alesya makan dengan tidak semangat. Dia tidak selera lagi, tapi tetap harus makan karena ingin menghargai Melinda yang sudah mentraktir dan juga memberinya hadiah ulang tahun.
.
.
Dinniar sibuk memesan makanan untuk acara ulang tahun Alesya. Dia tidak mau Alesya kecewa karena ulang tahun kali ini begitu berbeda dari biasanya.
Tiap tahunnya. Biasanya mereka akan mengetuk pintu kamar Alesya tepat jam dua belas malam. Namun, Tasya memiliki ide lain agar kakaknya lebih merasa terkesan dengan acara ulang tahun yang sudah mereka siapkan.
Tasya bahkan satu Minggu sebelumnya sudah menyusun beberapa konsep. Dan kali ini konsepnya adalah dinner di taman belakang. Tasya sudah memberikan konsepnya kepada asisten pribadi papanya, yaitu Rendy.
"Mih, apakah hadiah untuk kakak sudah datang?" tanya Tasya.
"Sebentar sayang. Mama lihat dulu aplikasinya." Dinniar merogoh tasnya dan mengeluarkan telepon genggam.
Dilihatnya aplikasi belanja online. Tasya sempat sedikit mengulik apa yang sedang diinginkan oleh kakaknya. Dan segera memberitahukan kepada maminya.
"Kalau di aplikasi seharusnya sudah sampai sore ini, tapi orang rumah belum ada yang info kalau ada paket datang." Dinniar menutup aplikasi dan menelepon seseorang.
"halo, bi. Apa paket untuk saya sudah datang?" tanya Dinniar.
"ya sudah bi. Kalau ada tolong kabari saya." pesan Dinniar sebelum menutup telepon.
"Gimana, mih?" tanya Tasya yang begitu penasaran.
"Belum ada sayang. sebentar mamih bayar tagihan makanannya dulu." Dinniar berjalan ke arah kasir.
Tasya mengeluarkan ponselnya dan menghubungi. Papanya yang sedang mengajak Devano bermain.
"Pah, kado untuk kak Alesya belum datang. Tolong papa cek. kalau kadonya tidak sampai tepat waktu. Nanti kejutannya tidak sempurna." ujarnya sambil memainkan kaki tanda sedang cemas.
Tasya selalu menggerakkan kakinya jika dia mengalami kecemasan. Apalagi ini adalah kejutan untuk ulang tahun kakak perempuannya. Dia tentu tidak ingin kalau sampai kado tidak datang sesuai jadwal.
"Aku sudah telepon papa. semoga anak buah papa bisa menjemput kadonya. Takutnya kurir tidak tahu alamat kita. Tadi papa minta mama kirimkan foto nomor resi dan kurir yang mengirimnya." pinta Tasya.
Tasya memang anak yang sangat pintar. Dia sudah terlihat sekali seperti Dinniar. Tasya senang mendekorasi. jiwa kepemimpinannya juga sudah tumbuh terlihat dari bagaimana dia merencanakan dan mengatur orang agar acara ulang tahun sukses.
Dinniar salut dengan kedewasaan putrinya. Dia lalu mengirimkan gambar kepada suaminya dan berharap anak buah suaminya bisa segera menemukan kurir dan membawa hadiahnya.
"Sayang, ayo kita pulang. sebentar lagi Alesya juga akan sampai di rumah." ajak Jonathan.
Mereka segera bersiap untuk pulang. Makanan sudah dibawa oleh beberapa bodyguard yang ikut menemani mereka berkeliling.
"Kalian duluan saja. saya dan istri mau pergi tempat lain." perintah jonathan kepada anak buahnya.
"Baik, pak. Hati-hati dijalan."
Jonathan dan keluarga masuk ke dalam mobil dan mereka pergi ke tempat lain.
"Kita mau kemana mas?" tanya Dinniar.
"Lihat saja nanti." ujar Jonathan sambil terus menginjak pedal gas mobilnya.
.
.
.
Alesya diantar pulang oleh Melinda ke rumah. Sesuai dengan permintaan Alesya. Melinda menurunkannya tak jauh dari rumah.
"Kamu yakin tidak perlu diantar sampai rumah?" tanya Melinda sebelum Alesya melepas safety belt.
"Yakin, Tante. Lagi pula rumahku hanya tinggal beberapa langkah saja. Terima kasih ya Tan." Alesya membuka pintu mobil dan keluar dari mobil Melinda.
Dari luar Alesya melambaikan tangannya dan Melinda pun kembali mengendarai mobil.
Alesya berjalan menuju ke rumahnya sambil memikirkan perkataan Melinda tadi. Alesya mulai terganggu.
"Alesya. Ingat mami dan papa tidak mungkin mengecewakanmu. Aku yakin mereka tulus menyayangiku." Alesya menepis semua keraguan yang ada di dalam hatinya.
"Akan tetapi, kenapa mereka pergi tanpaku? biasanya mereka selalu mengajakku dan menghubungi aku dulu jika ingin pergi di jam sekolah." Perasaan Alesya tetap bimbang.
Melinda benar-benar telah meracuni pikiran anak remaja ini. Alesya berhasil dibuat ragu olehnya.