Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
320 - Sandiwara yang percuma



Dinniar dan Jonathan memutuskan untuk membuat Melinda mengakui semua perbuatannya kepada mereka berdua juga kepada Evelin.


Evelin yang sudah siuman sedang dalam proses pemulihan fisiknya saja. Semua racun yang masuk ke dalam tubuhnya sudah tidak ada. Manajer pribadinya menangis tiada henti menyesali kebodohannya yang mudah diperdaya oleh Melinda.


"Ini semua salahku. Andai aku tidak termakan ucapannya. Kau tidak akan jadi seperti ini."


"Sudahlah. Lagi pula ini semua berawal dariku yang terlalu percaya kepada Melinda dan memintamu mencari tahu tentang hubungan pasangan suami istri itu. Semua ini ada hikmahnya." Evelin memeluk manajernya erat.


"Sudah jangan menangis lagi. Sekarang kita pikirkan bagaimana cara agar dia menerima konsekuensi dari membunuh orang."


"Aku akan melaporkannya ke kantor polisi." ujarnya dengan cepat.


"tunggu dulu. Kita tunggu aba-aba dari Jonathan dan Dinniar dulu. Setelah itu kita akan bertindak." kata Melinda.


Evelin tidak berani mengambil keputusan. Dia menunggu arahan dari Dinniar dan juga Jonathan.


Pintu ruangannya terketuk dan pria yang masih disimpan dalam hatinya muncul seorang diri.


"Nathan, masuk." Evelin mengizinkan Jonathan masuk ke dalam ruang perawatannya.


"Pak Jonathan. Silahkan duduk." manajer pribadinya Evelyn beranjak dari kursi dan mempersilahkan Jonathan duduk.


Dengan tanggal dia meninggalkan Evelin dan juga Jonathan.


"Dimana Dinniar?" tanya Evelin sambil celingukan mencari keberadaan wanita yang sudah menyelamatkan dirinya.


"Dinniar tidak bisa datang. Jadi aku yang akan mewakilinya." jawab Jonathan.


"Nathan, terima kasih sudah mau percaya kepadaku. aku juga minta maaf telah membuatmu jadi kesulitan. Aku senang sekali kamu sudah menemukan wanita yang cocok dan kalian saling mencintai." Evelin menatap Jonathan.


"Tidak apa. Kamu juga termasuk korban Melinda di sini. Kamu bahkan lebih parah. Maaf aku tidak tahu rencana Melinda akan melenyapkan dirimu. Karena tidak ada obrolan tentang itu." jelas Jonathan.


"Aku rasa dia ingin melenyapkan aku karena mengetahui rencananya. Dan juga karena aku masih menyimpan rasa untukmu." prediksi evelin.


"Dinniar menitipkan ini untukmu. Karena kebetulan aku meeting daerah sini. Jadi dia memintaku untuk membawakannya."


Jonathan menyodorkan paper bag kepada Evelin. Evelin menerimanya dan dia langsung melihat isinya.


"Wah, apa benar ini untukku?" tanya Evelin dengan sangat senang.


"Ya. Dia bilang begitu. Evelin aku harus pergi. Karena di kantor masih banyak hal kerjakan." Jonathan pamit dan Evelin merasa sedih.


"Jaga dirimu baik-baik." pesan Jonathan sebelum pergi dari ruangan perawatan Evelin.


Evelin menatap pakaian serta makanan yang diberikan untuknya dari Dinniar. Betapa senang dia melihat makanan kesukaannya.


"Apa yang dia bawa?" tanya manajernya.


"Cheese cake." matanya berbinar dan hampir saja menitikkan air mata.


"Pantas saja sebelum mereka membawaku ke rumah sakit untuk bertemu denganmu. Selvia dan Dinniar menanyakan apa saja hal yang akan aku lakukan jika bisa bertemu denganmu lagi."


"Lalu kau jawab apa?" Evelin menjadi penasaran.


"Aku jawab akan memberikanmu baju tidur dari sutra dan akan memberikanmu cheese cake yang terenak." terangnya.


Evelin menatap baju tidur yang terbuat dari sutra itu dan kue yang dibelikan oleh Dinniar. Di dalam hati kecilnya. Dia berharap Jonathan mengingat sedikit tentangnya. Tentang apa yang dia sukai. Namun, ternyata dia salah dan tidak boleh berharap.


Evelin menarik napas dalam-dalam dan dia membuka kotak kue lalu menikmati kue favoritnya itu. Dia menyantap kue dengan perasaan penuh haru. Karena Dinniar sangatlah perhatian kepada dirinya. Dia sangat tidak menyangka Dinniar sebaik itu kepada wanita yang masih mencintai suaminya dan punya niat untuk merebut kembali Jonathan dengan menghancurkan rumah tangganya.


"Kamu kenapa? kenapa berkaca-kaca begitu?" tanya manajernya.


"Tidak, aku hanya terharu. Dia sangat baik kepadaku. Padahal aku sempat mau merebut Jonathan dari pelukannya." penyesalan menghantui membuat dia merasa bersalah.


"Sudahlah jangan dipikirkan lagi. Semua sudah berlalu dan menjadi masa lalu. Kita benahi semuanya dari awal dan menata mena depan dengan baik. Bersyukur kita terselamatkan dari ulah nenek lampir itu. Aku benar-benar menyimpan dendam kepadanya. Akan aku hancurkan dia." Manager Evelin yang bernama Lusi begitu kesal sampai *******-***** tangannya sendiri.


"Jangan juga jadi orang pendendam itu tidaklah baik. Ingat kita juga melakukan hal yang salah." Evelin membaringkan dirinya lagi di ranjang.


"Aku mau tidur dulu. Kalau Selvia datang. Bangunkan aku." pintanya


"baiklah tuan putri." jawabnya.


Evelin menutup matanya. Dia masih merasakan sedikit pusing kepalanya. Efek dari tertidur lama membuatnya sedikit kurang seimbang. Saat ingin berjalan dia juga masih sempoyongan.


Lusi sebagai manajernya kini selalu waspada dalam hal apapun. "aku berjanji akan melindungi dirimu. Aku tidak akan ceroboh lagi." gumam Lusi di dalam hatinya.


Lusi yang merasa bersalah dan merasa semua ini karena kebodohannya. Langsung berusaha merubah dirinya. Dia mulai banyak membaca dan banyak membuka aplikasi berita agar tidak ketinggalan informasi.


Lusi dan Evelin adalah saudara sepupu. Evelin mempekerjakan Lusi sebagai manajernya karena nyaman dan Lusi selalu jujur. Tidak ada di dunia ini yang dia percaya selain Lusi setelah sepeninggalan kedua orangtuanya.


Tidak lama Selvia datang untuk mengetahui kondisi terbaru Evelin. Dia juga membawakan buah agar Evelin cepat sehat.


"Selvia. Ah, Evelin sedang tidur. Sebentar aku bangunkan dulu." Lusi hendak membangunkan Evelin.


"Lusi, tidak perlu. Biarkan dia tidur. Aku hanya ingin melihat kondisinya dan membawakan sedikit buah agar dia semakin pulih." tutur Selvia.


"kondisinya berangsur membaik. Aku rasa dia akan segera dipulangkan." jelas Lusi


"Syukurlah. Aku lega mendengarnya. Aku benar-benar takut saat mengetahui kejadian yang menimpanya. Melinda sungguh tidak berperasaan." geram Selvia.


"Dia itu manusia yang harus di singkirkan. Kalau tidak pasti akan menyebabkan banyak masalah bagi orang lain." Lusi bicara dengan nada yang keras.


"Siapa yang harus di singkirkan?" tanya Evelin sambil menggeliat terbangun karena mendengar suara Lusi.


"Kamu sudah bangun?" tanya Lusi.


"Heem." jawabnya sambil mengubah posisinya.


Dia membuka matanya lebar dan melihat bukan hanya dia dan Lusi saja yang berada di ruang perawatan. Ada Selvia juga di ruangannya.


"Aku tadi bukannya sudah bilang. Kalau Selvia datang maka bangunkan aku." kesal Evelin.


"Tadi aku mau membangunkan mu, tapi Selvia bilang jangan." jawab Lusi.


"Benar, aku bilang tidak perlu membangunkan mu. Aku hanya ingin melihat kondisimu saja. sepertinya kamu jauh lebih baik." Selvia tersenyum.


"Terima kasih Selvia. Aku tahu kamu telah menjagaku selama aku tidak sadarkan diri. Kamu memang teman yang baik." Evelin sangat berterima kasih kepada Selvia.


"Kita teman jadi sudah sepatutnya saling tolong menolong. Kita juga makhluk sosial jadi sudah seharusnya bergotong royong ketika ada yang sakit." ujar Selvia yang sangat dewasa.