
Dinniar sudah memberikan arahan kepada Lusi untuk memberikan laporan tentang musibah yang telah dialami oleh evelin. Lusi langsung bergerak menuju ke kantor polisi. Di kantor polisi Lusi menceritakan tentang apa yang terjadi kepada evelin. Lusi juga menyerahkan bukti yang melibatkan anak buah Melinda yang menaruh cairan racun di minuman.
"benar, pak. Dia berusaha membunuh sepupu saya. Saya kiravdia adalah wanita baik. Jadi kami berdua berteman dengannya. Namun, ternyata dia menyukai pria yang juga di sukai sepupu saya. Sepertinya motifnya adalah dia ingin menyingkirkan sepupu saya demi mendapatkan pria itu. pria itu sendiri sudah beristri. Namanya Jonathan." beber Lusi kepada pihak kepolisian.
Pihak polisi membuat laporan tertulis dan diserahkan kepada komandannya.
"kami sudah memprosesnya. Satu kali dia puluh empat jam. Kami akan mengeluarkan surat panggilan kepada ibu Melinda." jelas polisi.
Lusi juga meminta perlindungan kepada pihak polisi. Karena mereka takut kalau-kalau Melinda datang dan berbuat ulah yang lebih ekstrim lagi.
Polisi segera memproses permintaan itu dan Lusi kembali ke rumah sakit dengan pengawalan polisi.
Lusi dan dua orang polisi sampai di rumah sakit. Polisi ikut masuk ke dalam ruangan perawatan untuk memperkenalkan diri kepada Melinda. Setelahnya mereka berdua langsung berjaga di depan pintu ruangan.
Lusi dan Evelin sangat lega. Dan mereka juga tidak merepotkan Jonathan serta Dinniar lagi. Karena sudah beberapa hari orang-orang Rendy dan Jonathan berjaga.
"Aku rasa Melinda tidak tahu kalau kamu masih hidup. Dia sangat percaya diri sekali kalau rencananya semuanya berjalan lancar." sungut Lusi yang begitu membenci Melinda.
"kita tetap harus waspada aku tidak mau ada hal buruk terjadi kepada kita berdua."
Lusi hanya bisa mengangguk. dia mengerti ketakutan Evelin saat ini. Pasti kejadian beberapa hari lalu yang hampir merenggut nyawanya membuat Evelin trauma. Untungnya Evelin tetap masih bisa bersikap normal.
.
.
.
Anak buah Melinda sebagian di kurung oleh anak buah Rendy di gudang yang sudah terbengkalai dekat perusahaan Jonathan. Mereka di sekap agar rencana Jonathan dan Dinniar berjalan dengan lancar dan sesuai dengan yang sudah direncanakan.
"Di mana satu orang lagi? Dia menghilang?" seorang anak buah yang memeriksa lokasi gudang menemui anak buah Melinda berkurang.
"tidak mungkin obat bius itu seharusnya bekerja seharian. Bagaimana dia bisa kabur?" mereka semua kebingungan.
"Kita laporkan kepada pak Rendy." usulnya.
kepala tim langsung menghubungi rendy dan menceritakan semuanya.
"Baiklah pak. Kami akan dengan ketat menjaga sisanya." ujarnya sebelum menutup telepon.
Rendy memerintahkan mereka agar menjaga lebih ketat lagi. Sebab jika hal ini bocor maka Melinda akan tahu kalau usahanya gagal.
.
.
Melinda mendapatkan surat penangkapan dari hasillaporan manager Evelin.
"Sial! Kenapa dia bisa tahu kalau aku yang membuat Evelin tiada?" Melinda meremas surat panggilan dari kantor polisi.
"Mel. Siapa yang datang?" tanya mama Kamelia.
"Enggak ada, mah. Kayaknya orang iseng yang pencet bel." Melinda menyembunyikan surat dari kepolisian di belakang badannya.
Dia takut kalau Kamelia sampai mengetahuinya. Dia sadar meski Kamelia menyayanginya sepenuh hati. Namun, Kamelia memiliki jiwa keadilan yang tinggi. Dia tidak suka kalau salah, tapi tidak mau bertanggung jawab.
"Mah, Mel pergi kerja dulu ya. Ada meeting pagi di kantor." pamit Melinda.
Kamelia menatap putrinya yang berjalan pergi meninggalkan rumah menuju mobil.
"Aku merasa kalau ada yang sedang disembunyikan olehnya. Tadi tatapannya sangat terkejut ketika aku datang menghampirinya. Apa yang sedang terjadi sebenarnya."
Kamelia lalu menggelengkan kepalanya. "jangan berpikir negatif Kamelia. Bisa saja memang orang iseng. Karena memang satpam di rumah sedang cuti. Mungkin kesempatan untuk mereka berbuat iseng." pikirnya.
Kamelia kembali masuk ke dalam rumah. Di rumah dia hari ini ditemani oleh sang suami yang sedang tidak ada acara apapun. Kadang Kamelia merasa jenuh karena harus terkurung di rumah terus dan pergi hanya saat ingin shopping.
Kamelia menggunting beberapa tangkai bunga yang sudah layu. Dia merawat kebun bunganya dengan sangat baik sehingga rumahnya wangi sekali dengan bunga-bunga ketika sedang bermekaran. Bunga adalah salah satu teman yang bisa menghiburnya dikala sedih dan perasaannya tidak karuan.
"ada apa?" tanya Syam yang menghampiri istrinya.
Kamelia kembali ke taman belakang sedangkan tadi pagi baru saja dia menyiram dan merawat tanamannya. Syam tahu persis kebiasaan istrinya.
"Tidak ada apa-apa. Hanya saja aku merasa kalau Melinda sedang menyembunyikan sesuatu dariku."
Syam memegang kedua pundak istrinya. Dia lalu memeluk sang istri dengan erat.
"sayang, apa yang dia sembunyikan . Itu hanya pikiran negatifmu karena melinda terlalu sibuk dan kamu jarang bicara dengannya akhir-akhir ini." Syam mengalihkan perasaan istrinya.
"Kamu bisa jadi benar, mas. Mungkin aku hanya rindu dengannya. Nanti malam aku akan memintanya pulang cepat dan makan malam bersama kita. Kita juga sudah waktunya memperkenalkan dia dengan pria lain. Jonathan sudah bukan lagi kandidat yang baik untuk anak kita." Kamelia menaruh gunting pohon dan masuk ke dalam rumah bersama suaminya.
Syam membawa masuk istrinya ke dalam kamar untuk beristirahat agar tidak berpikiran macam-macam tentang Melinda.
"Istirahatlah. Aku keluar dulu mengambil ponsel dan mengirim pesan untuk Melinda." Syam keluar dari kamarnya dan pergi menuju ruang keluarga.
Dia mengambil telepon selulernya yang diletakkan di meja. Dia lalu menghubungi Melinda.
"Halo pah." Melinda mengangkat panggilan telepon dari papanya.
Melinda baru sampai di hotel. Dia hendak berjalan masuk ke dalam hotel, tapi diurungkan untuk mengangkat telepon dari papanya dulu.
"Apa mama merasa curiga? Oh mungkin karena suara bek tadi pagi." cerita Melinda.
"Kenapa memangnya?" Tanya Syam yang saat itu sedang di kamar mandi.
"pihak kepolisian mendatangi aku dan memberikan surat panggilan terkait Lusi yang melaporkan aku. Dia membuat laporan kalau aku telah merencanakan pembangunan terhadap Evelin." cerita Melinda lagi.
"bagaimana bisa Melinda? Memangnya apa yang kamu lakukan kepada Evelin? Dia adalah seorang publik figur. Kita bisa bahaya jika berurusan dengannya." kesal Syam.
"pah, jika aku tidak melakukan hal itu. Evelin akan merebut Jonathan. Dia yang masih menyukai dan berharap memiliki kembali Jonathan ingin merebutnya lagi."
Syam menjadi jengkel kepada putrinya. Dia benar-benar tidak habis pikir kalau putrinya melakukan hal keji. Dia tidak pernah menyarankan atau memintanya melakukan hal itu. Rencananya adalah hanya menjebak Jonathan agar tidur dengan Melinda dan mengaku kalau dia sedang mengandung anak Jonathan. Namun, sayangnya. Melinda berbuat terlalu jauh. Syam jadi harus putar otak agar bisa mencari jalan keluarnya.
Saat selesai bertelepon dengan papanya. Seorang pria menghadang Melinda. Melinda terkejut kedatangan anak buah cabutan yang dia sewa.
"kamu, kenapa kamu ada di sini? Bukankah sudah aku bilang untuk pergi ke luar negeri?" tanya Melinda dengan mata yang melotot.
"Maafkan kami. Kami tidak bisa melaksanakan apa yang diperintahkan. Wanita itu sudah diberikan racun itu, tapi sayangnya saya tidak bisa membawa dan membuang jasadnya di sungai." jelasnya sambil terengah-engah.
Melinda jadi terperanjat. Sebab dia memang belum mengkonfirmasi apapun terkait Evelin kepada anak buahnya. Karena dia merasa kalau anak buahnya bisa mengerjakan pekerjaan dengan baik.
"Laku sekarang di mana dia?" tanya Melinda panik.
"Saya tidak tahu. Karena saya dan Lina anak buah lainnya disekap dengan diberikan Obet tidur setiap hari. Kebetulan salah satu anak buahnya tidak terlalu memberiku banyak dosis sehingga aku bisa lari dana menemuinya." tuturnya.
"Dasar kalian!" Melinda menampar anak buah sewaannya itu. Dia kesal sekali. Kini dia mengerti kenapa Lusi melaporkannya ke kantor polisi. pasti dia sedang bersama dengan orang Evelin saat ini.
"Kamu segera cari keberadaan Evelin sekarang. Jangan kembali sampai menemukannya!" Melinda langsung pergi meninggalkan orang te sebut. Dia benar-benar geram karena ulang anak buahnya.
Kali ini dia benar-benar dalam masalah. Dia menjadi tidak tenang dan tidak tahu harus berbuat apa.