
Dinniar mengendarai motornya dengan hati yang penuh dengan luka. dia menangis sepanjang jalan perjalanan yang menuju ke sebuah tempat yang dia yakini kalau suaminya berada di sana.
Dinniar sampai di kantor suaminya. dia langsung berjalan menuju ruangan kerja Darius Namun ternyata saat ia membuka ruangan kerja itu tidak ada wajah dari suaminya.
"dimana dia?" tanya Dinniar dengan wajah yang garang.
tidak biasanya diniat bicara dengan nada yang tinggi dan wajah yang sangat tidak bersahabat. sekretaris dari dari begitu ketakutan melihat wajah seorang wanita yang biasanya baik dan lembut kini berubah seperti seorang wanita yang sangat galak dan menakutkan.
"Pak-Pak Darius tidak ada di kantor sejak tadi pagi Bu," jawabnya dengan sedikit terbata.
diniat sudah tidak bisa lagi berkata-kata mengenai suaminya. kemarahannya kini sudah meluap sampai ke akar-akarnya. dia kini tidak bisa lagi memaafkan Darius meskipun dari suaminya meminta maaf. berjuta-juta maaf sampai mulutnya berbusa pun Dinniar bersumpah tidak akan pernah memaafkannya.
"kita lihat saja nanti di rumah Mas apakah kamu masih bisa menyembunyikannya lagi? apakah kamu masih akan mengelak semua yang telah kamu lakukan di?" diniat kembali melayangkan kakinya Dan Dia pergi meninggalkan kantor suaminya dengan perasaannya yang semakin hancur.
.
.
Dinniar sampai di rumahnya. dia kembali meminta tolong kepada Sonia agar membawa Tasya pergi dari rumah.
"Bu, Tasya sudah pergi bersama dengan Bu Sonia," kata asisten rumah tangganya.
"kalau begitu kalian berdua juga boleh pergi dari rumah. pergilah untuk menghilangkan penat kalian," kata Dinniar.
kedua asisten rumah tangganya seakan mengerti apa yang tengah terjadi di antara pasangan suami istri yang menjadi tuan dan nyonya mereka.
Dinniar masuk ke dalam kamarnya dan meraih handuknya yang terjemur di jemuran handuk. dia lalu masuk ke dalam kamar mandi dia menyalakan shower kamar mandinya Dan meletakkan tubuhnya di bawah guyuran air.
Diniar mendinginkan sekujur tubuhnya menggunakan air agar dirinya bisa lebih tenang untuk menghadapi kelakuan suaminya di luar sana ketika suaminya sudah pulang ke rumah.
di dalam kamar mandi Dinniar menghabiskan waktunya dengan menangis. agar dia tidak menangis lagi ketika harus berdebat dengan suaminya.
"kamu benar-benar sangat keterlaluan, Mas. kamu bilang kamu telah meninggalkannya. namun, ternyata kalian telah menjadi sepasang suami istri." Dinniar kembali menangis.
"lihat saja mas. ini adalah terakhir kalinya kita bisa bersama Aku tidak akan pernah memaafkan dirimu meskipun mulutmu sampai berbusa meminta maaf kepadaku." tekad Dinniar.
dinner merasa ia harus tegas kepada dirinya sendiri. dia tidak boleh lembek dan tidak boleh lagi terbujuk rayuan manis yang keluar dari bibir suaminya.
"Aku tidak akan lagi termakan bujuk rayumu Mas." ucapnya sendiri.
Deniar telah lebih tenang hatinya dia keluar dari dalam kamar mandi dan bersiap untuk menyambut kepulangan suaminya.
Dinniar yang sudah mengetahui tentang pernikahan suaminya dengan sang model yang bernama Cornelia. Menunggu kepulangan suaminya. Dia pergi ke kantor Darius namun sang suami tidak ada di kantornya dan sejak pagi tidak pergi ke kantor.
"Pria kurang ajar. Manis kata-kata mu tak semanis cintamu. Semuanya palsu, kau telah memberikan sakit yang begitu sakit. hingga rasa sakit ini tak bisa lagi diutarakan dengan kata-kata." Dinniar tak menangis lagi. Dia siap menghadapi semuanya.
.
.
Darius Masih bersenang-senang bersama dengan Cornelia di apartemen milik istri keduanya itu.
sekalian dia melihat jam ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 06.00 sore. Darius bersiap untuk pulang ke rumahnya dan berpamitan kepada istri keduanya.
"aku harus pulang sekarang karena Dinniar dan Tasya pasti sudah menungguku di rumah." Darius mengenakan kembali pakaiannya dan meraih kunci mobilnya.
"Mas Kenapa sih cepet banget harus pergi aku kan mau, kamu sama aku seharian ini di sini. Aku mau malam ini kita bersama." pucuk Rayo Cornelia ternyata tidak bisa meluluhkan hati Darius.
Darius harus segera pulang ke rumah agar Dinniar tidak curiga kepadanya.
ya harus membuktikan bahwa ucapannya benar telah meninggalkan Cornelia.
"Aku tidak mau kamu kemari karena aku membutuhkanmu saja, tapi aku mau kamu kemari bersamaku setiap hari. setiap saat setiap waktu. kamu tidak bisa hanya bersama dengan Dinniar saja. aku pun butuh dirimu bersamaku sepanjang hari sepanjang waktu. Aku tidak mau selalu menjadi yang kedua," ujar Cornelia.
"baik-baik aku mengerti. berikan aku waktu lagi untuk menyelesaikan semua permasalahan ku dengannya. Aku akan berusaha agar aku bisa mendapatkan hak asuh Tasya jikalau memang kami harus bercerai."
Cornelia beranjak dari depan pintu dan Darius akhirnya bisa pulang ke rumahnya tanpa mendengar ocehan dari Cornelia lagi.
dari semakin hari semakin pusing dibuatnya oleh Cornelia. sikap Cornelia semakin hari semakin manja. setelah mereka menikah sikap kornea berubah seakan-akan dia ingin hanya dialah yang memiliki dari sebagai seorang pria.
.
.
Jonathan yang sudah merasa lega karena telah memberitahukan kepada dunia mengenai pernikahan Darius dan Cornelia.
"aku lega karena kamu telah mengetahui semuanya Dinniar. namun, entah mengapa aku merasa ada sesuatu hal yang mengganjal di dalam hatiku." Jonathan terduduk di bangku kerjanya.
selama ini dia masih belum mengerti apa yang ada di dalam hatinya yang dia rasakan.
"apa aku menyukainya? aku rasa itu tidak mungkin, karena aku baru beberapa kali ini bertemu dengan dia dan juga aku merasa dia bukan tipeku." Jonathan menepis perasaan yang tengah dirasakannya.
suara pintu ruangannya terketuk dan seorang anak muncul dari balik pintu.
"boleh aku masuk?" tanya anak sekolah dasar itu.
"tentu saja boleh sayang, silakan masuk." Jonathan mempersilahkan Alesya keponakannya untuk masuk ke dalam ruang kerjanya.
"aku dengar dari satpam. katanya om tadi ke sekolahan aku? tanyanya.
"oh iya Om tadi habis dari sekolahanmu. ada perlu dengan Bu Dinniar."
Jonathan selalu jujur kepada ponakan itu dia tidak bisa menutupi hal yang berkaitan dengan sekolah keponakannya meski itu berkaitan dengan pribadi.
"Ada apa Om ke sekolahan dan bertemu dengan ibu Dinniar?" tanya Alesya karena penasaran.
"ini urusan orang besar. kamu tidak perlu tahu sayang. Yang kamu harus tahu adalah kamu harus belajar dengan rajin dan giat. oke, biar Bu Dinniar tambah sayang sama kamu." Jonathan menyubit kemas pipi keponakannya itu.
"baiklah kalau Om tidak mau memberitahu aku. aku akan mengalah, tapi aku harap Om dan Budi niat tetap baik-baik saja," ujarnya seakan penuh harap.
.
.
dari sampai di rumahnya. dia lihat rumahnya sangat sepi. ia membuka pintu besar yang menjadi pintu pertama rumah yang dia bangun untuk Dinniar.
Darius melihat di dalam sana diniat tengah menunggunya seorang diri.
"ke mana Tasya dan yang lainnya?" tanya Darius.
"mereka semua aku suruh pergi, agar kita bisa menyelesaikan permasalahan kita secepatnya hari ini." Dinniar bangkit dari duduknya.
"Apa maksudmu?" tanya Darius yang kembali tidak mengerti.
"tidak perlu bertele-tele, Mas. aku sudah mengetahui tentang pernikahanmu dengan wanita itu wanita yang telah menjadi perusak rumah tangga kita." Dinniar bicara langsung tanpa berbelit-belit.
"kamu dengar kabar itu dari siapa? itu kabar bohong. itu hanya untuk menaikkan kepopularitasan Cornelia saja." Darius kembali mengelak.
"jadi semua kabar itu?" Dinniar bertanya dengan sedikit mendongakkan wajahnya.
"jadi Mas. sekarang kamu akan memberiku madu atau memberiku racun?" tanya Dinniar.