Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Part 102 - Senyuman sang putri



Adrian dan Jonathan kembali bertemu untuk membahas tentang acara yang akan mereka buat. Jonathan dan Rendy berbincang bersama dengan Adrian tentang prosesnya seperti apa. Adrian memberikan sedikit masukan untuk beberapa hal.


Mereka kini lebih terlihat santai saat bertemu kembali. Adrian dan Jonathan juga sering kali bertukar senyum dan tawa.


"untuk murid akan saya berikan edaran dulu kepada orang tua murid. Karena pasti acaranya tidak hanya satu atau dua hari dan anak-anak pasti tidak akan full belajar." tutur Adrian.


"baik, untuk masalah sekolah saya juga akan membicarakannya dengan Dinniar di rumah."


Adrian tahu kalau Dinniar sudah menikah dengan Jonathan. dia tidak hadir saat itu. karena terlalu sakit baginya untuk melihat untuk kedua kalinya terampas cintanya oleh orang lain.


"Baiklah, terima kasih atas pertemuan hari ini."


Jonathan dan Adrian saling berjabat tangan. Keakraban mereka sedikit meningkat. Adrian sudah mulai welcome dengan kehadiran Jonathan.


...****************...


Dinniar menyibukkan diri di rumah, dia yang terbiasa melakukan aktifitas sehari-hari di sekolah. Kini mengerjakan pekerjaannya dari rumah demi menemani putrinya sampai benar-benar sembuh.


"Tasya, besok kita ketemu Tante Erika dulu ya. Tasya harus melakukan pemeriksaan ulang. Tasya mau'kan?" tanya Dinniar sambil menyisir rambut putrinya yang lurus yang begitu jatuh.


"Siap, Mih. Tasya juga mau kembali sehat seperti dulu. Tasya enggak mau takut terus dan berprasangka buruk terus kepada orang lain." Tasya menoleh.


"Tasya memang anak pintar. Mami bangga sekali sama Tasya." Dinniar memeluk tubuh gempal sang putri.


Dia begitu berharap kalau putrinya kembali seperti dulu lagi. Tidak ada rasa takut berlebihan di dalam hati dan pikiran Tasya yang menghantuinya ketika menemui orang baru atau pria. Karena penculiknya orang tidak dikenal dan seorang pria. itulah yang menjadikan Tasya trauma saat bertemu dengan laki-laki dan orang baru.


"Besok kita di anter papa baik, Mih?" tanya Tasya.


"Kita tanya papa nanti ya sayang. kalau papa enggak sibuk pasti akan mengantar kita. kalau papa sibuk, Tasya tidak boleh memaksa ya." pinta Dinniar.


"Siap mami." Tasya membuat bulan sabit di bibirnya yang mungil.


Melihat semua keceriaan yang di perlihatkan oleh Tasya membuat Dinniar bahagia dan tenang. Baginya wajah ceria putrinya adalah obat mujarab bagi hatinya yang pernah terluka.


"Mih, papa baik kapan pulang sih?" tanya Tasya yang sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Jonathan.


"Mami belum tahu sayang. papa kan banyak kerjaannya. kita tunggu saja ya, semoga papa pulang tidak terlalu malam." Dinniar mengapit wajah putrinya dengan kedua tangannya.


wajah Tasya seketika begitu lucu. Pipi yang terhimpit dan bibir yang maju. Dinniar langsung tertawa.


Bahagia itu memang sederhana. Hanya dengan hal-hal kecil saja kita bisa bahagia asalkan bersama dengan orang terkasih.


Dinniar jika bersama Tasya dia selalu menciptakan suasana gembira. Dia ingin selalu melihat wajah ceria dan menggemaskan putrinya.


Ditambah sekarang dia memiliki Jonathan yang begitu menyayangi dan mengutamakan Tasya.


Aku berharap cintamu takkan pernah luntur dan takkan pernah berganti. Aku juga berharap kasih sayangmu terhadap Tasya tidak akan pernah berubah seiring waktu berjalan. Pernikahan yang aku jalani kali ini. berharap adalah pernikahan terakhirku sampai maut memisahkan. Mungkin cinta sejati hanya ada di negeri dongeng. Namun, aku yakin bisa menciptakan negeri dongengku sendiri. Negeri yang dasarnya dibangun atas nama cinta, fondasinya dari kepercayaan dan direkatkan oleh kesetiaan. yang pada akhirnya membawa kebahagiaan dan kenyamanan bagi pemiliknya.


"Mami kok bengong sih?" Tasya tiba-tiba membuyarkan lamunan Dinniar.


"Mami enggak bengong kok sayang." Dinniar mengelak.


"Mami lagi mikirin papa baik ya? pasti nih mami kangen papa." Tasya mulai bisa meledek maminya.


Dinniar langsung menggelitik pinggang putrinya dan membuat Tasya menggelinjang kegelian. Ibu dan anak saling bersahut-sahutan tawa. Sampai mereka tidak mendengar seseorang membuka pintu dan menyaksikan kebahagiaan kecil yang membuat di penonton senyum-senyum sendiri.


"Hem ... Hem."


"Papa baik." Tasya langsung lompat dari tempat tidur dan memeluk Jonathan.


Dengan cepat Jonathan membuka lebar tangannya dan menangkap putri kecilnya lalu menggendong Tasya dalam pelukannya.


"Anak apa lagi apa sih? kayaknya seru banget mainnya sama mami." Jonathan mengecup pipi Tasya.


"Itu, mami katanya kangen sama papa. sampe bengong gitu tadi makanya Tasya ledekin." Tasya kembali meledek maminya.


"Oh, ya? serius mami lagi mikirin papa? wah papa jadi seneng dengernya." Jonathan melirik ke arah Dinniar.


Dinniar begitu tersipu malu. dia senyum-senyum kecil. Melihat istrinya tersenyum, Jonathan seperti kembali mendapatkan angin segar.


"Tasya, papa bawa ini buat kamu." Jonathan mengeluarkan paper bag yang dia bawa.


"Wah aku suka banget. Papa kok tahu sih kalo Tasya suka ini?" tanya Tasya sambil mengeluarkan semua makanan yang dibeli oleh Jonathan.


Dinniar begitu terharu dengan apa yang di lakukan oleh Jonathan kepada putrinya. perlakuan yang di berikan Jonathan kepada Tasya sangat terlihat ketulusannya.


Dinniar ikut bergabung bersama kedua orang yang kini mengisi hidupnya. Dinniar menyuapi Tasya dan Jonathan bergantian. dan Dinniar di suapi oleh Tasya dan Jonathan bergantian pula. Mereka saling bertukar suapan dan tawa bahagia.


"Kuenya enak banget ya. Ini akan jadi kue favoritnya papa nih. nanti papa rekomendasikan toko kuenya ke karyawan. papa akan bilang kalau kue ini rekomendasi dari anak papa yang cantik." Jonathan gantian menyuapi Tasya.


...****************...


Cornelia kembali mendapat kunjungan dari beberapa orang suruhannya. Cornelia mendapatkan berita yang cukup memuaskan untuk rencana awalnya.


"Kalau begitu kalian jalankan rencana kedua." perintah Cornelia.


"Siap, bos." mereka menerima perintah Cornelia dan akan menjalankannya.


"Apa ada berita terbaru dari pasangan pengantin baru?" tanya Cornelia yang juga penasaran dengan kehidupan Dinniar dan Jonathan.


"Ada bos. Sepertinya Jonathan akan membuat sebuah iklan yang berhubungan dengan pendidikan karena mereka mengeluarkan produk baru atau semacamnya." Informan Cornelia memberikan berita terbaru.


"Kamu cari tahu produk apa yang mereka akan rilis. setelah itu kamu beri kabar lagi. aku akan membuat kejutan manis untuknya sebagai kado selamat menempuh hidup baru." Cornelia menarik ujung bibirnya sedikit.


Informan Cornelia segera menyuruh anak buahnya untuk bertindak agar Cornelia semakin puas dengan hasil kerja mereka.


"Ingat, jangan sampai ada yang mengetahui keberadaan kalian. salah satu orang kepercayaan ku ada di perusahaan Jonathan. dia akan membantumu. temui dia ...," Cornelia membisikkan sebuah nama di telinga informannya sekaligus anak buahnya.


setelah selesai dengan perbincangan mereka. Cornelia dan anak buahnya kembali ke tempat asal mereka.


anak buah Cornelia langsung bergerak. mereka memang sangat ahli dan profesional. tidak sia-sia Cornelia mempekerjakan mereka selama dia mendekam dipenjara. tidak ada hal yang tidak bisa di capai jika uang yang berbicara. uang bisa menggerakkan apapun. termasuk mengontrol manusia dari jarak jauh.


Bagi cornelia yang memiliki banyak uang dari hasil kerjanya sebagai seorang model papan atas dan memiliki sebuah usaha rahasia membuatnya bisa meraup uang yang cukup banyak.


...****************...


Nia selalu saja mengurus semua kebutuhan. Dia mengelola usaha yang dibuat atas namanya dengan uang dari Cornelia. Nia yang menjabat sebagai sahabat sekaligus sebagai manajer Cornelia begitu setia dan sangat amanah. Dia sebenarnya kecewa dengan sikap Cornelia, tapi dia tetap kasihan kepada sahabatnya itu yang tidak memiliki siapa-siapa lagi.


"Cornelia sampai kapan kamu dibutakan oleh cinta seperti ini? kamu bahkan meminta mereka untuk mengerjakan semua kemauanmu. kamu tidak pernah berubah." Nia kesal dengan sikap Cornelia.


"sekarang aku harus membuat dana untuk orang-orang suruhannya itu. aku benar-benar tidak habis pikir kepadanya. sudah di sia-siakan oleh Darius, masih saja bucin."


Nia sedang melihat digit saldo yang ada di rekeningnya. Nia segera mentransfer sejumlah uang. dia juga akan segera membuat laporan ke uangan untuk diinformasikan kepada Cornelia besok sepulang dari bank.


...****************...


Makan malam sudah terhidang dimeja makan. Dinniar, Jonathan dan juga Tasya sudah bersiap untuk makan malam. Menu makan malam hari ini adalah Rendang daging, telur balado, cap cay seafood dan ayam goreng kesukaan Tasya.


"Papa, boleh enggak Tasya tanya sesuatu?"


Dinniar dan Jonathan langsung melihat ke arah Tasya. dan mereka juga langsung saling berpandangan.


"Tasya mau tanya apa sayang?" tanya Jonathan.


"Besok, aku ada jadwal ke psikolog. ke tempat kerjanya Tante Erika. papa bisa anter Tasya dan mami?" tanya Tasya.


Jonathan menautkan kedua alisnya hingga ada kerutan yang terbentuk diantara kedua alisnya.


"Gimana ya?" Jonathan pura-pura berpikir.


"Papa sibuk ya?" Tasya langsung membuat raut wajah sedih.


"Tasya, jangan sedih. kalau papa enggak bisa kan ada mami." Dinniar menghibur putrinya sambil melirik ke arah Jonathan.


"Hem, gimana ya, papa sepertinya tidak bisa ..." Jonathan menjeda percakapannya.


"Tidak bisa menolak permintaan anak cantik papa maksudnya." Jonathan langsung bangun dari duduknya dan menghampiri Tasya.


"Cemberutnya udahan dong. kan papa bisa antar. tadi mami sudah bicara dan papa bilang bisa. papa hanya bercanda sama Tasya." Jonathan langsung takut putrinya marah.


Tasya yang masih menekuk wajahnya, tiba-tiba langsung membuat senyuman di wajahnya.


"Tasya tahu kok kalau papa bisa. Papa kan sayang Tasya dan mami jadi enggak mungkin biarin kita pergi berdua saja." Tasya tersenyum meledek.


jadi, anak papa bercandain papanya nih?" Jonathan mencubit gemas pipi Tasya yang gembul.