
Ayam berkokok dengan sangat merdunya. Mendengar suara ayam yang bersahut-sahutan membuat Dinniar sadar kalau hari sudah pagi. Dia menyingkirkan tangan suaminya yang sejak semalam memeluknya erat hingga mereka tertidur lelap.
Dinniar menuruni kasur dan melangkah perlahan agar suaminya tidak terganggu tidurnya. dia ingin Jonathan menikmati hari liburnya. Dia mau suaminya fresh ketika bangun tidur karena tidur yang cukup.
Mereka berdua semalam banyak memikirkan sesuatu dan banyak berdiskusi tentang sesuatu juga. sehingga mereka tertidur cukup larut malam.
"BI, apa sudah selesai membuat sarapannya?"tanya Dinniar yang berdiri di dekat meja makan.
"Sudah semua Bu. tinggal membangunkan anak-anak saja." kata BI Imah.
"Biar saya saja yang bangunkan anak-anak bi. saya ingin menyapa mereka berdua." Dinniar tersenyum simpul.
Dinniar kembali menaiki tangga dan berdiri tepat di depan pintu kamar Alesya.
"Alesya." Dinniar memanggilnya.
"Masuk." Alesya mempersilahkan pemilik suara yang memanggil namanya masuk ke dalam kamarnya.
"Kamu sudah bangun?" tanya Dinniar yang sampai di tepi tempat tidur sang putri.
Alesya hanya diam tak merespon apa yang ditanya oleh Dinniar. ini kembali membaut ganjalan di hati Dinniar semakin besar.
"Alesya. sebelumnya, mami mau meminta maaf kepadamu karena mungkin ada kata atau tindakan yang tidak berkenan di hatimu." Dinniar meminta maaf kepada Alesya.
Permintaan maaf seorang ibu bukan karena dia melakukan kesalahan kepada putrinya. namun, permintaan maaf itu untuk membuat putrinya tahu kalau seorang ibu bisa meminta maaf meski tidak melakukan kesalahan. seorang ibu bisa menundukkan kepalanya demi hati putrinya yang sedang hancur. permintaan maaf seorang ibu juga bertujuan meluluhkan hati yang keras agar bisa mencair.
Alesya masih tetap bungkam tak mau bicara. padahal Alesya selalu mengutarakan isi hatinya dan selalu berbicara kepada Dinniar apapun yang terjadi kepadanya. kali ini Dinniar seperti tidak mengenal sosok Alesya yang saat ini ada di sampingnya.
"Alesya, mami sangat sayang Alesya. mami minta maaf mungkin mami lalai dalam menjaga Alesya dan mami juga kurang perhatian kepada Alesya. mami akan berusaha menjadi ibu yang lebih baik lagi. mami mohon sama Alesya jangan seperti ini. mami tidak bisa melihatmu seperti ini. perasaan seorang ibu akan hancur ketika putrinya berhenti bicara kepadanya." Dinniar menjadi sangat melow.
Dinniar sangat tidak bisa diperlakukan seperti ini oleh anaknya. baginya suara dan cerita anaknya adalah sesuatu yang menyenangkan dalam hidupnya. dia akan selalu menikmati apapun yang diceritakan oleh kedua putrinya meski bukan hal yang penting. baginya berbagi cerita adalah jalan menjadi lebih dekat.
Alesya menunjukkan sorot mata sendunya. Dinniar dengan cepat langsung memeluk putrinya. dia tahu Alesya ingin bicara, tapi dia ragu untuk mengungkapkan apa yang ada di hati dan di pikirannya.
"Jangan ragu untuk bercerita. mami akan mendengarkan dirimu sayang. mami tidak akan marah atau apapun." kata Dinniar sambil memeluk putrinya. setelah melepas pelukan satu sama lain. mereka saling bertatapan.
...****************...
Dia terus mengamati setiap gerak gerik dari keluarga Dinniar dan juga Jonathan. dia masih terus mengawasi. dia ingin memastikan kalau Dinniar dan Jonathan menderita.
Di sisi lain dia juga sedang menunggu seseorang yang bisa diajak bekerja sama olehnya. mereka sudah sepakat akan bertemu hari ini.
"Selamat siang." seseorang menyapa.
"Selamat siang. silahkan duduk. apa kabar?" tanyanya.
"Kabar daya sangat baik." jawab pria tersebut.
"bagaimana perjalanan kemari? apa macet?" ujarnya.
"Hmmm, cukup macet karena mendekati jam makan siang." jawabnya lagi.
Memang mereka berdua sudah cukup mengenal satu sama lain. hanya saja tidak begitu dekat. dan kini dia ingin mengajak pria itu untuk bekerjasama untuk mencapai apa yang sama-sama merek inginkan.
"Lihatlah. mereka bisa kita intai dan pergerakan mereka bisa kita ketahui. Alesya sejak ditemukan menjadi sangat pendiam dan juga terlihat begitu murung. saya takut hal ini bisa menghancurkan mentalnya. Dinniar tidak bisa mengurus seorang anak remaja. dan anda sangat cocok untuk mengurus dan mendidik anak remaja." Dia mencoba mengambil hati pria tersebut. dia begitu ingin pria tersebut sepakat untuk kerjasama.
"Baiklah. jadi apa rencanamu?" tanyanya.
"Aku akan merusak mereka dari dalam. aku sudah memiliki orang dalam yang bisa di percaya. Dia akan menjadi mata dan telinga kita di dalam rumah itu. selanjutnya ...," Dia membisikkan sesuatu kepada pria tersebut.
Pria itu langsung menyeringai setelah mendengar rencana yang akan di jalani rekan barunya itu.
Mereka akhirnya sepakat untuk memulai apa yang pernah tertunda. mereka berdua lantas segera menyusun beberapa rencana yang akan menjadi cadangan jika rencana awal tidak berhasil.
Cornelia dengan Bragi saling bertatapan. mereka siap menjalankan rencana besar untuk menghancurkan Jonathan dan juga Dinniar agar mereka berdua menderita.
...****************...
Dinniar hari ini berencana melihat beberapa film kesukaannya. akan tetapi dia juga sedang mencari beberapa referensi buku novel untuk menjadi teman dikala ia suntuk.
"sepertinya film ini menarik aku coba lihat dulu cuplikannya." ujar Dinniar sambil mengklik salah satu film yang akan ia tonton hari ini.
~ adegan film ~
" Ghina " teriak seorang wanita paruh baya dari dalam mobilnya...
" Sebentar Bu, Ghina plastikin dulu " aku segera memasukkan nya kedalam plastik dan mengantarnya kepada Bu Retno.
" Nasi uduk enam pakai telur balado, yang empat pakai jengkol balado " jelas ku pada Bu Retno pelanggan setia nasi uduk.
" Makasih ya Ghin " sambil memberikan uang kepada ku .
Aku Sebelum menjadi penjual nasi uduk...
"Ghina, banguun nak" panggil ibu dari balik pintu kamar ku
" Ghina udah bangun kok Bu " sahut ku dari dalam kamar
" Ayo sarapan nak, sebentar lagi kan kamu mau berangkat kerumah paman mu " ibu kembali mengetuk pintu kamar ku.
Ghina keluar dari kamar nya dan memeluk ibunya dari belakang.
" Kenapa " tanya ibu seraya mengelus tangan ku putrinya yang sangat ia sayangi.
" Bu Ghina pasti akan merindukan ibu " tak sadar air mata sudah membasahi ujung mata ku.
" Ibu dan bapak mu juga pasti akan merindukan kamu nak " ibu berbalik memelukku.
" Ibu dan bapak harus janji ya selalu jaga kesehatan selama Ghina di Jakarta " aku memastikan bahwa kedua orang tuaku akan baik-baik saja tanpa ku.
" Kamu juga disana baik-baik, nurut sama paman mu " pinta ayah pada ku.
" Maafin bapak ya nak tidak bisa memberikan kamu kehidupan yang layak " sambung bapak dengan mata berkaca-kaca.
" Pak, Bu, Ghina beruntung banget punya orang tua yang sangat menyayangi Ghina, Ghina tidak butuh harta, cukup ibu dan bapak selalu ada buat Ghina " aku tak bisa menahan air mataku, kami pun berpelukan untuk saling menguatkan.
" Disana jangan lupa shalat biar selalu dilindungi Gusti ALLAH " Pesan bapak.
"Siap pak" aku dan kedua orang tua ku sarapan bersama terakhir kalinya untuk sementara waktu.
" Jakarta... Jakarta.. Jakarta..." Teriak seorang petugas terminal.
" Jakarta neng?" Tanyanya pada ku.
" Iyah pak" aku mengiyakannya
" Ayo neng masuk, sepuluh menit lagi mau berangkat "
Aku pun berpamitan kepada kedua orang tua ku, hati ini rasanya tak sanggup untuk berpisah walau hanya sementara, orang tua yang selalu ada untukku, orang tua yang selalu menyayangiku apa aku bisa bertahan hidup berjauhan dengan mereka.
Aku melambaikan tanganku dari balik jendela bus, terus aku pandangi wajah kedua orang tuaku sambil menahan tangis.
" Assalammualaikum" aku mengucap salam ketika sampai didepan pintu rumah paman ku.
Waktu SMA dulu aku sering menginap di Jakarta, dirumah paman ku ini.
Paman adalah seorang kepala gudang di sebuah pabrik besar di Jakarta, aku yang berniat meneruskan kuliah ku di Jakarta akhirnya memutuskan tinggal dirumahnya sambil bantu-bantu keluarga paman.
" Ghina ini kamar kamu, disini kamu jangan males-malesan, bantu bibi mengurus rumah" jelas bibi istri dari paman ku.
Aku hanya menganggukkan kepalaku dan masuk kedalam kamar.
Malam pun tiba, sesudah selesai shalat Maghrib aku diminta menyiapkan makan malam untuk keluarga paman.
" Ghina mana makanannya " teriak bibi dari meja makan
" Ini bi " aku menata makanan yang tadi sore sudah aku masak.
" Besok-besok kalo shalat doanya jangan kepanjangan, biar bisa cepet sediain makan malam " kata bibi sambil mengambil piring.
" Ghina duduk " paman menyuruhku untuk duduk.
" Suruh dia makan di dapur ajah pah " kata bibi ketus.
Bibi ku memang seperti orang yang kurang suka dengan ku, entah kenapa setiap kali aku menginap dirumahnya sikapnya sangatlah ketus berbeda dengan paman yang selalu baik mungkin karena aku adalah keponakannya.
" Besok kamu mulai cari kampus ? "
" Ia paman, rencananya Ghina akan cari kampus yang jaraknya tidak jauh dari rumah paman "
" Halaaah sudah susah masih ajah bergaya " sinis bibi ku.
" Ya sudah makan dulu Ghin setelah itu istirahat pasti kamu lelah perjalanan dari solo ke Jakarta " paman pun meneruskan makan malamnya
Hari begitu cepat berganti
"Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh " aku selesai shalat subuh, bergegas aku merapihkan peralatan shalatku setelah berdoa untuk menyiapkan sarapan pagi.
" Mba Ghina " panggil anak paman ku
" Iyah Ratih " sahutku pada Ratih anak pertaman paman yang usianya tiga tahun di bawah ku.
" Mba Ghina mau kuliah ya " tanya Ratih
" Iya tuh mba kamu sok pake kuliah segala emang punya uang " lagi-lagi bibi melontarkan kata-kata yang kurang enak didengar.
" Alhamdulillaah bi, uang pesangon bapak cukup untuk mendaftar kuliah ku, untuk biaya lanjutan Ghina akan cari kerja " kelasku pada nya.
" Mau cari kerja dimana, apa yang diharapkan dari kamu, pakai kacamata tebal seperti kutu buku, mana ada kantoran yangai terima orang berkaca mata" hina bibi.
karena mata ku mengalami silinder sehingga sejak kelas 2 SMP aku menggunakan kacamata tebal, tak jarang teman-teman ku disekolah pun mengejekku karena kaca mata yang ku gunakan.
" Mba Ghina jadi guru privat ajah, nanti Ratih bakal ajakin temen-temen buat ikutan privat, mba Ghina kan selalu juara kelas " ujar Ratih pada ku.
Hari sudah mulai siang, waktu menunjukkan pukul 11.00, aku segera bersiap-siap untuk mendaftar di kampus yang aku inginkan.
" Bi, Ghina pamit ke kampus dulu " pamit ku.
" Pulang kuliah langsung pulang, beres-beres rumah, kalo numpang harus tau diri"
" Iya bi, Ghina janji pulang cepet " aku pun segera berjalan keluar komplek untuk mencari angkutan umum.
" Permisi, mau tanya ruang pendaftaran mahasiswi baru dimana ya ?" Tanya ku pada satpam kampus.
" Oh silahkan naik ke lantai dua nanti di sama belok kanan saja, nanti ketemu pintu yang ada tulisan ruang pendaftaran " satpam itu menjelasnya.
Aku pun berjalan ke arah yang disebutkan satpam tadi dan tepat didepan pintu pendaftaran aku mengetuk pintu.
" Permisi Bu, saya mau mendaftar kuliah "
"Silahkan masuk" ujar wanita paruh baya itu pada ku.
Aku pun mengisi formulir pendaftaran dan menyerahkannya kepada wanita tersebut, setelah urusan ku selesai aku pun bergegas kembali kerumah paman.
" Udah pulang ? " Tanya bibi masih dengan nada ketusnya.
" Sudah bi, maaf bi Ghina pamit ke kamar dulu " jawabku
" Abis ini bersih-bersih rumah, sapu dan pel semua dan jangan lupa cuci baju "
" Baik bi " aku pun kembali kekamar untuk mengganti pakaian.
Beruntung dikampung aku selalu membantu ibu jadi sekarang tidak kaget lagi untuk melakukan pekerjaan rumah.
" Alhamdulillah selesai " pekerjaanku telah selesai semua.
" Nih masak " bibi menaruh bahan masakan di meja dapur lalu pergi.
Memasak adalah hoby ku sejak dulu maka tak berat untuk mengerjakannya.
" Ghina cepet mana makanannya siapin, klo kerja itu jangan lelet, kamu itu bukan putri jadi gak usah males " bibi bicara sangat keras pada ku.
" Disini kamu tuh harus rajin, jangan males-malesan, kalo males-malesan cari tempat tinggal lain " sambungnya lagi.
Ya Allah apa sebenarnya salah ku sampai bibi sangat tidak suka pada ku.
Malam pun semakin larut dan kami semua beristirahat.
Tok... Tok... Tok
Terdengar suara pintu kamar diketuk.
" Masuk " ujar ku tanpa tau siapa yang mengetuk pintu kamar.
" Mba Ghina, ajarin aku isi matematika donk " Ghina menyodorkan buku sekolahnya.
Aku pun membantunya menyelesaikan tugas matematika Ratih.
" Ratiiih " terdengar suara memanggil Ratih
" Kayaknya bibi manggil kamu tih " ujar ku
" Iyah mba, aku balik kekamar ya, makasih udah di bantu " Ratih keluar kamar dan aku pun berbaring sambil memejamkan mata berusaha tidur.
" Pagi paman, bibi maaf Ghina terlambat siapin sarapannya "
" Dasar pemalas, bilang ajah kamu gak mau kerja " omel bibi.
" Maaf bi, tadi subuh Ghina shalat berjamaah di masjid jadi telat buat sarapannya " jelas ku.
" Banyak alasan, udah sama pergi "
" Ghina kamu makan saja bareng kami disini " paman bicara sambil meneguk air teh nya.
" Gak usah, sana makan di dapur " usir bibi.
" Tidak apa paman Ghina didapur saja " aku kembali ke dapur untuk sarapan.
" Huh enak ajah mau satu meja sama kita, nanti dia kebiasaan pah, jangan papa manjain keponakannya nanti ngelunj*k "
" Iya Iyah, udah terusin lagi sarapannya" paman meneruskan sarapannya.
Hari-hari terus aku jalani dengan penuh kesabaran tinggal dirumah paman, habis mau tinggal dimana lagi secara aku tidak punya saudara lain selain paman.
" Ayo ayo kumpul semua dilapangan " seru Kaka senior di kampus.
Semua mahasiswa dan mahasiswi baru berkumpul dilapangan untuk menjalani ospek.
" Kamu yang berkaca mata kuda " tunjuk salah satu Kaka senior pada ku dan aku pun maju.
" Sebutkan nama dan fakultas yang kamu pilih " tanyanya.
" Nama ku Ghina Delisha, jurusan ilmu pendidikan " jelas ku
" Hei kamu apa belum makan sampai suara mu tidak terdengar " teriaknya lagi
" Yang keraaas " teriak senior perempuan ku yang lain.
" Nama Ghina Delisha, jurusan ilmu pendidikan " aku pun berteriak agar terdengar oleh mereka.
" Kenapa kamu pakai kaca mata setebal itu " tanya nya lagi pada ku.
Semua orang yang ada dilapangan menertawaiku karena ucapan senior ku yang mempermasalahkan kaca mata ini.
" Mata saya silinder ka jadi harus pakai kaca mata " jelas ku sambil menahan malu.
" Oke semua nya dikampus ini kami sebagai senior kalian akan memberikan Ospek yang tidak akan pernah kalian lupakan " jelas Kaka senior
Kami melalui hari ospek ini dengan sangat gembira.
" Hai Ghina, kenalin gua Farah, satu jurusan sama lu " Farah mengulurkan tangannya untuk berkenalan.
" Hai Farah salam kenal "
" Ghin jangan diambil hati ya ucapan kakak senior tadi, mereka memang begitu, dulu mereka juga Kaka kelas gua di SMA " jelasnya
" Enggak kok far udah biasa " ujar ku.
" Ghin kita berteman yuk " Farah menunjukkan jari kelingkinya untuk ikatan pertemanan.
Kami berdua tersenyum dan berteman di kampus.
" Ghinaaaaaaa " teriak bibi
" Iyah bi " aku menyahut sambil berlari kecil dari kamar.
" Ghina liat apa yang kamu lakukan pada baju ku " bibi memperlihatkan bajunya yang terkena becak noda.
" Maaf bi tapi kemarin aku tidak mencuci baju model ini "
" Kamu ya udah salah nggak mau ngaku lagi, dasar orang mi*kin " marah bibi sambil melotot pada ku.
" Tapi bi bener Ghina kemarin ga cuci baju ini " aku terus membela diri.
" Pokoknya kamu harus ganti baju saya, baju ini mahal tau nggak " bibi meminta ganti rugi
" Ghina akan usahakan Carikan model baju yang sama bi "
" Ini itu limeted tau, nggak akan kami nemuin lagi model kaya begini, pokoknya ganti rugi " ia terus marah
" Ghina harus ganti rugi bagaimana bi " aku hampir menitikkan air mataku.
" Satu juta " ungkapan bibi membuatku terkejut setengah mati.
" Astaghfirullah bi, Ghina mana punya uang sebanyak itu, dan jika ada itu tabungan untuk bayar kuliah " aku menangis seketika.
" Heh nggak usah pake nangis-nangis ya, saya nggak mau tau pokoknya kamu ganti " bibi pergi meninggalkan ku yang masih menangis bingung.
" Ya Allah, berikan lah aku petunjuk mu agar aku bisa keluar dari masalah ini " aku berdoa sambil menagis, aku tidak tau lagi harus bicara kepada siapa, bapak dan ibu pasti sedih jika aku ceritakan apa yang bibi lakukan padaku.
Pagi menjelang, aku selalu bangun subuh setiap hari untuk mencuci, menyiapkan sarapan dan memasak untuk makan siang keluarga paman ku baru aku berangkat kuliah.
" Bi Ghina pamit berangkat kuliah dulu " aku berpamitan pada bibi yang sedang asyik menonton TV.
" Eh Ghina kapan kamu mau ganti rugi baju saya " tanya bibi.
" Nanti Ghina fikirkan bi, Ghina akan cari uang agar bisa membayar nya " aku pun keluar rumah dan menuju kampus.
" Baik para mahasiswa dan mahasiswi ku sekalian, Minggu depan akan ada perlombaan matematika antar fakultas, siapa yang dapat memenangkan perlombaan ini akan mendapatkan hadiah berupa uang Rp. 2.000.000 rupiah " jelaskan dosen kepada kami semua
" Ghin, lu kan pinter matematika udah ikutan sana lumayan hadiahnya bisa traktir gua bakso " ujar Farah
" Farah benar jika aku ikut lomba ini aku bisa dapat uang untuk mengganti baju bibi " aku pun mendaftarkan diri dan berharap dapat menang perlombaan ini.
" Gimana lu udah daftar ? " Tanya Farah pada ku.
" Udah far, doain menang ya "
Kami pun bergegas pulang kerumah usai kuliah selesai.
" Bismillah " aku mulai menggosok baju.
" Awas jangan sambil bengong ngegosoknya, nanti bolong lagi " bibi tiba-tiba menghampiri ku ke ruang menggosok.
film yang ditonton oleh Diniyah bersambung. diniat menonton film itu sambil berkaca-kaca. dia tidak bisa membayangkan kalau dirinya berada di posisi gina. dia yang tidak pernah merasakan kesulitan sejak lahir hingga dewasa. dia merasa bahwa beban gina yang ada di film tersebut sangat berat untuk dipikul oleh seorang wanita.