
Dinniar dan jonathan sudah sampai di rumah mereka. dan mereka langsung menemui Devano yang berada di kamar mertuanya.
Di rumah itu semua orang mendapatkan kamar masing-masing meski tidak selalu diisi. Dinniar menemui mertuanya yang sedang asik bercanda dengan sang cucu.
"lihat mami datang."
"Terima kasih ya, mah. sudah mau dititipkan Devano." Dinniar berterima kasih kepada mama mertuanya.
"sama-sama Din." mama mertuanya tersenyum.
"maafkan aku ya mah sudah merepotkan mama." kata Dinniar sambil menggendong Devano.
"Mama tidak merasa direpotkan Dinniar. mama malah sangat senang kalau kamu mau menitipkan Devano. dia'kan cucu mama."
Dinniar sangat akur dengan mama mertuanya. mereka berdua memiliki hubungan yang sangat baik dan erat. sama dengan hubungannya saat masih menjadi menantunya ibu Susi.
Dinniar lalu mendengar bunyi ponselnya. dia lalu langsung mengangkatnya.
"Dinniar, kamu harus tahu ini. Cornelia kabur dari rumah sakit jiwa." ujar Erika dari seberang telepon.
"kabur dari rumah sakit jiwa? bagaimana bisa? bukannya dia ada di dalam sel tahanan?" Dinniar menghujani Erika dengan pertanyaan.
"Aku juga tidak tahu. aku terakhir mengunjunginya enam bulan lalu dan memeriksanya kalau dia dalam kondisi normal. aku juga baru mendengar kabar ini dari kepala kepolisian." jelas Erika dengan cepat.
"Baiklah, aku mengerti. aku akan memberitahukan ini kepada suamiku dan juga mas Darius." Dinniar menutup teleponnya dan dia langsung mencari suaminya.
"Mas, mas." teriak Dinniar sambil mencari jonathan.
"Ada apa?" Jonathan datang menghampiri Dinniar yang memiliki wajah panik.
"Mas, kamu harus membawa anak-anak segera untuk pulang. kamu juga jangan sendirian. minta Rendy menemanimu. aku mendapat kabar kalau Cornelia kabur dari rumah sakit jiwa." Dinniar sangat panik hingga bicaranya menjadi terbata dan berbelit.
"Sayang, aku juga sudah mendengar berita itu. aku sudah meminta Rendi serta dua anak buahnya menjemput anak-anak. aku tidak bisa pergi dari rumah karena harus melindungimu. percayakan anak-anak kepada Rendi. sekarang lebih baik kamu tenang." Jonathan meminta istrinya tenang.
Dinniar menarik napasnya dalam-dalam agar bisa lebih rileks dan tidak terlalu tegang. Dia sangat takut kejadian satu tahun lalu terulang lagi.
"Aku akan memperketat penjagaan. jadi aku harap kamu tenang." pinta Jonathan.
Jonathan mengerahkan anak buahnya dan membuat rumah mereka tetap aman.
Jonathan merasa dia tidak bisa hanya menunggu di rumah. Jonathan lalu pergi kembali ke gedung serbaguna yang terletak di sekolah menengah pertama sekolah harapan. dia ingin memastikan kalau anak-anaknya baik-baik saja.
Sesampainya Jonathan di sekolah dia mendapati Tasya dalam dekapan Darius, sedangkan Alesya berdiri tepat di belakangnya.
Jonathan masih terpaku dengan apa yang dia lihat dan tidak mendengar panggilan dari Alesya.
"Pak, anda baik-baik saja?" tanya Rendi yang langsung menyadarkan bosnya.
"Saya baik-baik saja."
Jonathan melangkah untuk menjemput kedua anaknya yang sedang bersama dengan Darius. Jonathan terlihat sangat tidak baik-baik saja. mungkin dia merasa cemburu ketika Tasya memeluk Darius dan mungkin dia juga merasa terlambat untuk menemui kedua putrinya karena sudah keduluan oleh Darius.
"Kamu di sini?" tanya jonathan kepada Darius.
"Ya, saya hanya ingin memastikan saja. karena saya dengar ...,"
"Saya tahu." Jonathan langsung memotong pembicaraan Darius.
Jonathan tidak mau anak-anaknya menjadi merasa terganggu karena mengetahui kalau Cornelia telah kabur dari rumah sakit jiwa.
Darius juga mengerti kenapa jonathan menghentikan perkataannya. Darius memeluk Tasya lagi sebelum mereka berpisah.
Darius menatap kepergian putrinya Tasya. dia kini hanya bisa mengawasi Tasya tanpa bisa melindunginya secara langsung. tidak seperti Jonathan yang bisa melindungi dan juga merawat Tasya. rasa penyesalan di hati dari semakin besar dikala dia sudah tidak bisa lagi melakukan hal apapun untuk putrinya secara langsung.
"inilah yang disebut dengan penyesalan yang berkepanjangan. maafkan aku yang dulu telah menghianatimu Dinniar. dulu kamu berusaha agar kita tidak pernah berpisah. namun, sayangnya aku terlalu bodoh untuk terus terjebak dalam belenggu Cinta yang semu. dan kini semua yang aku lakukan ternyata sia-sia apa yang aku pertahankan ternyata tak patut untuk dipertahankan. kini aku hanya bisa mengawasi putriku dari kejauhan." gumam Darius di dalam hatinya.
Jonathan dan kedua putrinya sudah sampai di rumah. Dinniar langsung menyambut kedatangan mereka. dia langsung berlari dan memeluk kedua putrinya. Tasya dan Alesya menjadi terkejut karena tiba-tiba Mami mereka memeluk dengan erat.
"mami ada apa memangnya? Kenapa tiba-tiba kita?" tanya Tasya yang merasa heran dengan sikap maminya yang tidak biasa.
"ah, tidak Mami hanya bangga saja kepada kalian berdua. jadi Mami sangat antusias dan ingin memeluk kalian." dinner berusaha menyembunyikan kecemasannya di depan kedua putri-putrinya.
"apakah penampilan aku tadi bagus mami?"
"tentu saja sayang. tentu sangat bagus. makanya Mami begitu bangga kepada kalian berdua. anak-anak manis sudah menjadi anak-anak yang dewasa dan juga sangat berbakat. Mami harap kalian semakin percaya diri dan berkembang seiring waktu." Harap Dinniar kepada kedua anaknya sambil menyentuh lembut kedua pipi mereka.
Alesya ikut tersenyum, tapi di dalam hatinya dia menyadari kalau mami dan papanya sedang menyembunyikan sesuatu. Dia menyadari hal itu karena Darius yang tiba-tiba datang menghampiri mereka dan papa mereka yang kembali ke sekolah. padahal sudah ada pak supir yang menunggu mereka berdua. ditambah ada Rendy yang juga menyusul mereka dengan beberapa bodyguard yang terlihat oleh Alesya saat sedang memanggil jonathan.
"Apapun yang mereka sembunyikan. pasti itu bertujuan baik untuk kami berdua. aku akan berusaha untuk menjaga diriku lebih ketat lagi. aku juga akan menjaga Tasya. Aku kali ini tidak akan mudah dikalahkan." Alesya bicara di dalam hatinya sambil tersenyum kepada Dinniar.
Alesya menjadi semakin peka terhadap situasi. dia yang semakin dewasa dan bisa membaca situasi langsung bisa memahami apa yang terjadi disekelilingnya meski belum tau apa sebenarnya yang terjadi. dia hanya akan menjadi semakin waspada dan menjaga dirinya sendiri lebih baik lagi.
Alesya masuk ke dalam kamarnya dan membuka tasnya. dia setiap hari membawa barang yang dia sembunyikan di dalam tasnya. Dia juga memiliki barang yang tidak mudah orang lain dapatkan. dia menaruh alat deteksi di jam tangan milik Tasya. semua yang dia alami di masa lalu membuat dia belajar pentingnya beberapa barang yang bisa membuatnya tetap aman dan bisa di jadikan untuk melindungi diri.
"Semua ini aku lakukan agar hal buruk bisa aku atasi sendiri tanpa harus membuat kedua orang tuaku menjadi khawatir. Semoga tidak ada orang yang tahu kalau aku menyimpan semua ini di dalam tasku." Alesya memasukkan ke Bali barang-barang di dalam tasnya yang tersembunyi.