
Dinniar dan jonathan sampai di rumah. kondisi rumah sudah gelap. menandakan kalau anak-anak mereka dan para pekerja sudah terlelap menikmati malam.
"Sepertinya semua sudah tidur." Dinniar menyalakan salah satu lampu dan melihat sekitar.
"Sepertinya begitu. Aku periksa anak-anak dulu." Jonathan melangkah menaiki tangga dan pergi menuju ke kamar anak-anak mereka.
Dibukanya pintu kamar Devano dan Jonathan melihat putranya sudah tertidur lelap. setelah itu dia pergi ke kamar Tasya dan putrinya juga sudah tertidur. saat dia hendak pergi ke kamar anak gadisnya. terlihat lampu masih menyala terang.
"Oh, ternyata anak papa belum tidur." Ucap jonathan yang sudah masuk ke dalam kamar putrinya.
"Papa sudah pulang? bagaimana acaranya?" tanya Alesya yang sedang mengoleskan cream malam ke wajahnya.
"Seru! apalagi di sana juga ada teman kamu." ujarnya.
"teman aku? siapa?" tanya Alesya sambil membalikkan tubuhnya dan berpandangan dengan sang papa.
"itu loh yang tempo hari ke sini bawa motor. dia ternyata temen relasi bisnis papa dan mamanya salah satu pelanggan di butik mami." jelas jonathan.
"oh, dia. dia mah bukan temen aku pah." Alesya kembali mengubah posisi duduknya.
"loh dia salah satu murid di sekolah kamu kan kak?" tanya jonathan yang heran dengan jawaban putrinya.
"Iyah, tapi bukan temen aku." Alesya kembali menegaskan.
"terus? kalo bukan temen sekolah apa dong?" tanya jonathan yang semakin penasaran.
"dia itu cuma salah penghuni kelas ajah." ketus Alesya yang kemudian bangkit dari duduknya.
"Sayang, kamu jangan ledekin anak kita kayak begitu dong. kamu inget enggak tadi. si Raka itu benar-benar banyak banget fansnya. kalo anak kita itu enggak mungkin ngefans sama Raka. secara Alesya bukan anak alai yang sering teriak-teriak kalo liat wajah tampan dengan tinggi semampai." Dinniar datang ke kamar Alesya dan bicara seolah sedang membela putrinya padahal, dia sedang menggoda sang anak yang enggan mengakui perasaannya sendiri.
"Tuh dengerin kata Mami. aku bukan anak alai." Alesya naik ke ranjangnya dan merebahkan tubuhnya.
"okeh kamu bukan anak alai, tapi inget. jangan menjilat ludah sendiri. dan awas jatuh cinta." Jonathan langsung terburu beranjak dari duduknya dan menarik tangan sang istri untuk keluar kamar Alesya.
saat jonathan hendak menutup pintu kamar, Alesya melempar salah satu bantal dan langsung mengenai pintu kamar.
"Awas ya papa. kerjaannya ngeledek anak ajah." teriak Alesya yang kesal dengan kelakuan papanya.
Alesya yang tadinya hendak langsung tidur. dia menjadi terbangun karena mendengar suara ponsel dan memeriksa siapa yang mengiriminya pesan.
melihat pesan masuk Alesya langsung mengerutkan keningnya. "Kenapa aku harus satu kelompok belajar dengan dia?" Alesya protes di dalam pesan group
pesan group.
Wulan: Udah sya, terima ajah.
Alesya: siapa sih yang bikin kelompoknya?
Kelvin: guru lah sya.
Alesya lalu mematikan ponselnya dan menyimpannya. dia langsung menarik selimutnya menutupi seluruh tubuhnya. di dalam selimut dia menggerakkan tubuhnya menunjukkan ekspresi kesal.