
Setelah membawa kembali Alesya pulang ke rumah besar. Jonathan langsung pergi ketika melihat kondisi Alesya sudah aman dan tenang.
"Tidurlah. Papa harus pergi ke rumah sakit. Mami ada di rumah sakit." Jonathan izin pamit kepada Alesya.
Ada rasa cemas di hati Alesya mengenai kondisi Dinniar yang tiba-tiba dilarikan ke rumah sakit. Dia juga baru pertama kali ini melihat Dinniar sakit bahkan harus sampai di rawat.
"Untuk apa aku perduli." Alesya berdesis ketika Jonathan sudah keluar dan menutup pintu kamarnya.
Alesya menarik selimut dan merebahkan tubuhnya. Dia berusaha mengelak, tapi dia juga termakan omongan wanita misterius itu. Di dalam kepalanya banyak sekali kemungkinan-kemungkinan yang ada. banyak hal yang dia sangkal. namun, dia juga merasa kalau tidak ada satu orangpun yang memiliki kasih sayang yang tulus kepada orang yang tidak memiliki ikatan darah.
"Aaaah!" Alesya kembali terbangun dan duduk sambil bersandar. rasanya kepalanya ingin pecah karena omongan wanita itu terus terngiang di telinganya.
Alesya kembali menangis, entah apa yang di tangisannya kini. Anak remaja yang masih sangat lugu dan masih mudah untuk di pengaruhi sedang berusaha mengendalikan dirinya.
...****************...
Dinniar masih belum sadarkan diri. Dia masih ditemani oleh BI Imah di sampingnya.
BI Imah yang mengantuk pun tertidur lelap di samping tubuh majikannya. Tak lama pundak Bi Imah di tepuk oleh seseorang.
"BI, pulanglah. Supir menunggu di tempat parkir." kata Jonathan ketika bi Imah sudah terbangun.
"Pak Jonathan. maaf saya ketiduran." BI Imah merasa tidak enak.
"Tidak perlu minta maaf Bi. Terima kasih sudah menjaga Dinniar untuk saya." Jonathan sangat berterima kasih.
"Sama-sama, pak. saya izin pulang dulu. jika ada sesuatu yang bapak butuhkan hubungi saya saja." kata BI Imah.
"saya minta bantuan untuk menjaga anak-anak." pinta Jonathan
BI Imah mengangguk tanda mengerti permintaan tuannya. BI Imah segera berlalu dan menuju ke parkiran mobil.
Jonathan yang mendapatkan kabar bahwa istrinya sedang mengandung sangatlah bahagia. di tambah dia juga sangat menginginkan menjadi ayah yang sesungguhnya dari darahnya sendiri.
"Aku bersyukur sekali kamu sedang mengandung anak kita. Aku akan menjagamu dan melindungi anak kita yang ada di rahimmu. Buka matamu sekarang sayang. Kamu pasti akan senang menerima kabar gembira ini." Jonathan mengecup kening istrinya.
Jonathan bahkan melinangkan air matanya tanda dia sangat terharu. Dia benar-benar merasa kebahagiaan dalam hidupnya semakin sempurna. meski hari ini terjadi dua insiden yang sangat membuat dirinya hampir putus asa. namun, setelah melewati kejadian hari ini dia bisa kembali mensyukuri hidupnya.
Di setiap hujan turun, sesudahnya pasti akan ada pelangi indah yang menjadi penghias awan. kejadian Jonathan hari ini membenarkan kata-kata tersebut. Badai yang menghampirinya bisa dia singkirkan sehingga pelangi itu muncul dihadapannya.
saat dia sedang menangis haru. Dinniar membuka matanya perlahan menandakan dia sudah siuman dari kondisinya. Jonathan langsung memanggil dokter.
"Sayang, terima kasih sudah membuka matamu. Dokter akan segera datang." Jonathan tersenyum lebar.
Dia mengecup punggung tangan istrinya berkali-kali karena istrinya telah membuka mata.
"Alesya." nama itu yang pertama kali dia sebut.
"Alesya sudah di rumah. aku sudah menemukannya. kamu tidak perlu khawatirkan Alesya lagi." Jonathan membelai lembut rambut istrinya yang hitam mengkilat.
Dinniar menarik nafas lega. Dia sangat senang akhirnya Alesya diketemukan oleh suaminya.
"Aku mau pulang."pinta Dinniar.
"Sayang, kita akan pulang, tapi kita harus menunggu perintah dokter dulu. kita tidak bisa main pulang begitu saja. kamu harus di rawat dulu. anak kita harus sehat saat pulang nanti." Jonathan mengelus perut Dinniar yang masih rata.
"Ya anak kita. kamu sedang mengandung anak kita. aku sayang bersyukur. anak-anak pasti senang mendengar berita ini." Jonathan bicara sambil menahan air matanya.
Dinniar tidak menyangka kalau dirinya sedang mengandung. diapun berkaca-kaca dengan senyuman manis di wajahnya.
...****************...
Malam kembali pulang dan pagi kembali datang. Pergantian hari yang ditentukan oleh pagi dan malam bukan hanya menentukan waktu, tapi juga menentukan nasib manusia pada hari yang baru.
Di rumah semua orang seperti sedang akan mengadakan pesta. BI Imah, mbak Surti dan asisten rumah tangga lainnya menyiapkan banyak menu makanan untuk di sajikan makan siang nanti.
Selepas membuat sarapan untuk seisi rumah. mereka bergegas untuk memasak makan siang.
"Ayo cepat, ibu dan bapak akan segera pulang nanti siang. Sebelum makan siang tiba dan mereka sampai di rumah. kita harus sudah selesai menata semua makanan di atas meja makan." BI Imah memberi komando.
Mendengar suara ricuh di lantai dasar. Alesya keluar dari kamarnya dan menuruni tangga untuk melihat apa yang terjadi sebenarnya.
"Ada apa ini?" tanya Alesya ketika sampai di dapur yang menjadi pusat keributan di pagi hari.
"Maaf nona Alesya. Kita membuat nona terganggu. Kami sedang mempersiapkan makan siang untuk menyambut Bu Dinniar yang akan pulang ke rumah." jelas mba Surti.
Alesya hanya diam saja. begitu senangnya mereka semua menyambut kedatangan maminya. sedangkan dia yang sejak kemarin malam pulang ke rumah setelah mengalami banyak hal. Tidak terlalu diistimewakan kepulangannya.
Alesya menyimpan rasa kecewa dihatinya setelah melihat langsung fakta yang ada di depan matanya.
"Non Alesya pasti belum tahu kalau Bu Dinniar akan segera memiliki bayi lagi. non. non Alesya akan punya adik lagi." Kata BI Imah dengan wajah sumringah.
Mendengar hal yang menggembirakan itu tidak membuat Alesya menyunggingkan senyuman dan tidak membuat Alesya memberikan respon positif.
Alesya hanya diam dan membalikkan badannya pergi meninggalkan dapur yang masih sangat sibuk.
BI Imah dan mba Surti agak heran melihat ekspresi lain dari wajah Alesya. namun, mereka tidak terlalu memikirkannya.
"Mungkin dia masih lelah dan mungkin dia masih merasa terkejut." Respon BI Imah
Alesya yang sedang menaiki tangga ke arah kamarnya dan saat di tangga terakhir dia berhenti sejenak sambil melihat ke arah pintu kamar Tasya.
"Kemana Tasya? kenapa dia terus mengurung diri di dalam kamar?" tanya Alesya pada dirinya sendiri.
Alesya berusaha membuka pintu kamar Tasya, tapi dia ragu-ragu. baru kali ini dia merasa tidak senang bertemu dengan bocah kecil yang menggemaskan itu.
"Kakak." suara yang dikenalnya terdengar dari arah lain.
"Tasya? kamu di kamar papa dan Mamih?" tanyanya.
"Iyah, semalam aku tidur di sini. memang kakak tidak tahu?" tanya Tasya dengan sangat polos.
Alesya mengingat kembali apa yang dia lihat di video semalam. dan dia ingat kalau Tasya tertidur di pelukan maminya.
"Kakak, ayok kita main." ajak Tasya sambil menggoyangkan salah satu tangan Alesya.
Alesya dengan cepat menyingkirkan tangan kecil itu. "Tasya, kakak capek banget. Jadi kakak mau tidur." Alesya sangat tidak berminat saat ini bermain dengan adik tak sedarah itu.
Tasya sangat sedih karena kakaknya tidak mau diajak bermain olehnya.