Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Part 21 - Api cemburu



Dinniar dan Darius selesai dengan permainan mereka yang sangat panas. Darius yang melihat istrinya sudah masuk ke dalam kamar mandi. Langsung mencari keberadaan ponselnya. Dia melihat begitu banyak panggilan masuk dari kekasihnya.


Darius langsung menghubungi Cornelia namun tidak kunjung diangkat. Dia menjadi panik, Darius tiba-tiba seperti orang kehilangan akalnya, dia gelisah dan mondar mandir tiada henti.


Dinniar yang memperhatikan tingkah suaminya, langsung menghampiri Darius dan menghentikan langkah suaminya.


"Mas kamu kenapa sih? Kok jadi mondar-mandir kayak begini?" Dinniar memegang tubuh Darius.


Melihat istrinya, Dia berusaha tenang. Darius masih ingin rumah tangganya baik-baik saja.


"Mas, kamu belum menjawab pertanyaanku, kamu kenapa?" tanya Darius.


"Aku hanya menunggumu. ini sudah jam lima sore, kita pulang sekarang." Ajak Darius.


Dinniar langsung meraih tas selempangnya dan keluar dari ulangan suaminya. Darius terlihat langkahnya yang sangat cepat seakan sedang mengejar sesuatu.


Dinniar yang sadar akan hal itu, langsung menggenggam tangan suaminya agar Darius tenang. Kebiasaan itu selalu ditunjukkan Darius ketika dalam keadaan kalut atau stress.


Dinniar yang mengetahui kebiasaan suaminya, dia selalu melakukan hal yang sama, berharap suaminya dapat tenang.


Ternyata usahanya berhasil. Darius memperlambat tempo langkahnya menjadi biasa dan seirama dengan langkah istrinya. Darius menoleh ke Dinniar dan tersenyum.


Kamu memang selalu mengerti kondisiku. Sekali lagi aku minta maaf dan sekali lagi aku hanya bisa minta maaf di dalam hatiku tanpa bisa mengungkapkannya kepadamu.


Darius merekatkan kembali tautan tangan mereka, sehingga Dinniar merasa bahagia suaminya seakan sudah kembali.


Mereka berdua menuju pulang ke rumah. Selama perjalanan pulang Darius seakan menyetir dengan pandangan kosong. Dinniar khawatir mereka akan celaka.


"Mas, sebaiknya kita menepi. Aku akan menggantikan mu menyetir."


"Kenapa? Apa kamu ingin pergi ke suatu tempat?" tanya Darius.


"Bukan, Mas. Aku hanya merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatimu. Aku takut kamu tidak fokus menyetir." Dinniar mengatakan maksudnya.


"Tidak sayang, aku baik-baik saja. Kamu tidak perlu khawatir ya." Darius menggenggam tangan istrinya kuat.


"Baiklah. Kalau kamu butuh gantian, bilang ajah sama aku." Dinniar mengecup tangan suaminya.


Mereka benar-benar pasangan yang sangat serasi, andai Darius tidak berkhianat.


.


.


"Sebentar lagi pasti pulang." ujar pengasuhnya.


"Tasya kenapa?" tanya pengasuhnya yang melihat bibir Tasya mulai mengerucut.


"Kenapa sih, Mami beberapa hari ini pulang sore terus bareng Papi. Biasanya'kan, Mami selalu pulang siang dan bisa temenin aku belajar." Tasya semakin cemberut.


Melihat anak majikannya cemberut dan merajuk, dirinya tidak tega dan mau mengajaknya main di halaman belakang. Namun, baru mereka ingin beranjak, ternyata suara mobil Darius terdengar.


"Itu Mami dan Papi." Tasya langsung berlari kearah pintu depan.


Melihat putrinya berlari. dengan cepat Darius menangkapnya lalu menggendongnya.


"Anak Papi kenapa?" tanya Darius.


"Aku bosen, Mami selalu pulang telat." Rajuk Tasya.


Darius merasa ini kesempatan dirinya agar Dinniar besok tidak menempel dengannya.


"Mamih, lihat putrimu mulai merajuk. Mami kenapa pulang telat?" tanya Darius yang melakukan interaksi untuk membuat putrinya tidak sedih lagi.


"Mami tadi pergi ke kantor Papi. Main sebentar di sana. Maaf ya." Dinniar menyentuh pipi kenyal putrinya.


"Pokoknya besok Mami harus pulang cepat." Pinta Tasya dengan menggoyang'kan tubuhnya yang masih dalam gendongan Darius.


Dinniar menjadi merasa bersalah dan dia mulai berpikir lagi untuk terus menempel pada suaminya.


"Besok, Mami akan pulang cepat." Dinniar menyerah tapi tidak pasrah.


Dinniar pasti sudah memikirkan langkah cadangan untuknya agar bisa memisahkan suaminya dari pelakor.


.


.