
Erika menemui Cornelia di dalam sel tahanan bersama dengan kedua petugas kepolisian untuk berjaga-jaga Cornelia akan mengamuk.
"Ternyata kamu yang akan menjadi pasien ku?" Erika bergumam.
"Siapa kamu? kamu mengenalku?" tanya Cornelia mendengar ucapan Erika.
"Mungkin kau tak mengenal ku, tapi aku sangat tahu siapa dirimu dan seperti apa dirimu." Erika berbisik di telinga Cornelia.
"Aku memang seorang artis terkenal. siapa yang tidak mengetahui diriku." Cornelia bicara lalu disusul dengan tawa yang cukup melengking.
Semua yang mendengar tawa Cornelia menutup kuping karena mendengar suara yang begitu keras.
"Bisa bawa dia ke klinik. saya akan memeriksanya di sana." Erika meminta petugas kepolisian membawa Cornelia keluar dari tahanan dan membawanya ke klinik kepolisian.
Erika berjalan keluar dari sel tahanan. Dia akan melakukan beberapakali serangkaian pemeriksaan kepada Cornelia. Ada beberapa tes yang akan menentukan apakah Cornelia benar-benar mengalami gangguan jiwa.
"Lepaskan aku. aku bisa sendiri." Cornelia memberontak ketika dirinya di minta duduk di kursi.
"Lepaskan, biarkan dia duduk sendiri. kalian tunggu saja di luar." Erika menyiapkan beberapa barang yang akan dia gunakan untuk melakukan tes kejiwaan.
Kedua petugas itu masih membatu di tempatnya. Erika melirik kepada keduanya.
"Kalian tenang saja. aku tidak akan kehilangan dia dan dia tidak akan pernah bisa kabur dari sini." Erika mengerti perasaan kedua petugas itu.
Mereka berdua akhirnya pergi dan pintu di tutup rapat. Erika melihat keadaan sekitar dan dia mendekati Cornelia.
"Apa kau tidak ingat siapa aku?" tanyanya dengan tatapan penuh kebencian.
"Siapa kamu?" tanyanya yang tak mengingat wajah yang sedang menatapnya.
"Apa kau masih mengingat nama ini? Bisma." Erika menyebutkan nama seorang pria dengan sangat jelas di telinga Cornelia.
Cornelia langsung mendelik. Dia sudah tiga tahun ini tidak mendengar nama itu dan tidak juga pernah mendengar berita tentangnya.
"Ka-kau mengenal Bisma?" tanyanya.
"Tentu saja. aku dan dia bagaikan pinang dibelah dua. apa kau sudah lupa bagaimana wajahnya?" tanya Erika dengan mata yang menyimpan dendam.
"Tunggu! apa kau adalah saudara Bisma?" tanya Erika.
"Benar sekali. aku adalah saudara kembarnya. Lelaki yang pernah kau campakkan dan membuatnya kehilangan dirinya sendiri." Erika mengeratkan pegangannya di bahu kursi untuk menahan amarah dan sedihnya ketika menyebutkan nama saudara kembarnya.
"siapa kamu sebenarnya? apa kamu adalah psikiater sesungguhnya atau hanya ingin membalaskan dendam kepadaku?" tanyanya ketakutan.
"Sayangnya aku adalah seorang psikiater asli. Aku akan memberikan beberapa pertanyaan kepadamu. dan yang tadi aku adalah salah satu tes awal. ternyata kamu masih memiliki kesadaran penuh. Lantas kenapa kamu seperti orang yang kehilangan kejiwaannya?" tanya Erika.
"Apa maksudmu? aku tidak gila. aku masih waras. aku bahkan memiliki seorang anak dan seorang suami yang sedang menungguku di luar sana. aku harus pulang." Cornelia mulai bicara melantur.
"Kamu punya seorang anak?" tanyanya.
Erika tidak tahu kalau Cornelia memiliki seorang anak. Dan dia hanya tahu kalau Darius adalah suami Cornelia tanpa anak diantara mereka.
"Siapa dan dimana anakmu?" tanya Erika.
Cornelia kembali menjawab namun sayangnya jawabannya tidak tepat sasaran. Erika mulai mengeluarkan selembar kertas dan pulpen. Dia mulai menanyakan beberapa hal yang terkait kehidupan dengan cornelia.
"Mandi? untuk apa aku mandi. tanpa mandi aku sudah cantik dan wangi." Cornelia menjawab sambil mengendus bagian tubuhnya.
Erika kembali menanyakan beberapa pertanyaan dan tetap jawabannya melantur. Dia lalu menanyakan pertanyaan tentang Bisma lagi kepada Cornelia.
"Kamu tau dimana Bisma sekarang?" tanya Erika.
"Bisma? Bisma? di-dimana dia? dia pasti kecewa karena aku telah membuah janin yang sangat dia inginkan." Cornelia bicara sambil tertawa.
Erika tertegun, dia tidak mengetahui kalau ternyata Bisma memiliki calon anak dan Cornelia menggugurkannya.
"Jadi itu alasan kakakku kehilangan dirinya dan akhirnya bunuh diri?" Erika tak kuasa lagi menahan air mata. Dia sangat membenci wanita yang ada di hadapannya ini.
Ingin rasanya Erika menghukum wanita ini dengan caranya sendiri. Hanya saja dia tidak bisa melakukan hal itu. semua pernyataan Cornelia bahkan tidak bisa dibenarkan. Dia termasuk dalam kategori orang dalam gangguan jiwa.
Erika mengepalkan tangannya. Dia berusaha menetralkan emosi yang mulai menyerangnya. Dia benar-benar marah karena tidak mengetahui hal ini sama sekali. dia ternyata kehilangan kakak kembarnya karena kakaknya frustasi mengetahui anak di dalam kandungan Cornelia telah hilang untuk selamanya.
"Aku tidak akan pernah memaafkan dirimu. aku akan menghukum mu dengan caraku sendiri. ingat Cornelia kamu tidak akan pernah lepas dari karma atas segala yang kamu perbuat di dunia ini." Erika mengemas semua peralatannya.
Dia sudah selesai melakukan tes kepada Cornelia. Dia lalu memanggil kedua petugas itu dan membiarkan Cornelia kembali ke sel tahanan.
"Apa semua sudah selesai?" tanya seseorang yang dia sangat kenal suaranya.
Dia lihat sosok suaminya sudah menunggunya di ambang pintu. Dia langsung berlari dan memeluk suaminya.
"Jangan menangis lagi. dia akan mendapatkan hukumannya. Kita akan membuat dia menerima balasannya."
Erika menangis tersedu-sedu karena semua ini terjadi karena Cornelia. Dia langsung menghapus air matanya dan kembali sadarkan diri.
"Aku harus menyerahkan berkas tes ini. Kamu tunggu aku di sini dulu." Ujar Erika.
Erika berjalan meninggalkan suaminya dan masuk ke dalam ruangan kepala kepolisian untuk memberikan hasil tesnya.
"Bagaimana? apa dia benar-benar mengalami gangguan jiwa?" tanya kepala kepolisian.
"Ya, aku menemukannya. dia benar-benar mengalami gangguan jiwa awal. dia masih bisa mengingat masa lalunya dengan jelas. namun, jika diajukan beberapa pertanyaan dia akan menjawab dengan tidak tepat. ini masih gejala awal. saya akan memberikan resep obat agar bisa diberikan kepadanya." Erika memberikan berkas tes dan juga resep obat untuk di tebus.
"Terima kasih dokter Erika. Berkat anda saya bisa membuat keputusan untuk ibu Cornelia." Kepala kepolisian berjabat tangan dengan Erika.
Erika keluar dari ruangan kepala kepolisian. dia kembali menemui suaminya yang masih menunggunya.
"Kita pulang sekarang?" tanyanya.
"Kamu kemari membawa mobil?" tanya Erika.
"tentu saja, tapi supir sudah membawanya kembali ke rumah. Jadi kita bisa pulang dengan mobilmu. Aku yang akan menyetir dan kita akan makan malam bersama di restoran kesukaanmu. Ini adalah hari terberat mu. Pasti kamu merasa lelah karena terkuras tenaga akibat menahan marah."
Erika dan suaminya meninggalkan kantor polisi keagungan. Mereka akan pergi ke restoran Jepang kesukaan Erika dan Bisma. mereka bertiga dulu berteman dekat sehingga Erika dan suaminya sering bernostalgia di restoran favorit mereka bertiga.