
Dinniar masih memikirkan kemana sekitanya Alesya pergi dan apa yang terjadi kepada Alesya sehingga bisa mengalami hal buruk.
Dinniar mengambil ponselnya dan berusaha menghubungi ponsel milik Alesya.
"nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif."
mendengar suara operator yang menjawab panggilan teleponnya membuat dinier semakin cemas akan kondisi Alesya saat ini.
tak lama setelah dinniar menelepon Alesya, datanglah Tasya dan juga baby sitternya ke dalam kamar Dinniar.
"Mami apa Kak Mami baik-baik saja tanya Tasya kepada ibunya.
Dinniar yakin halo Tasya sangat mengkhawatirkan kondisinya sekarang ini ditambah kepalanya malah terasa berat sekali dan perutnya terasa mual.
"ibu ibu tidak apa-apa baby sister Tasya mulai panik melihat kondisi Dinniar.
"Saya tidak apa-apa. tolong ambilkan saya air hangat saja." pinta Dinniar kepada baby sitter.
dengan cepat babysitter Tasya keluar kamar dan menuruni tangga lalu dia pergi ke dapur mengambil air putih hangat untuk Dinniar.
"ini Bu minumnya." itu menyodorkan segelas air hangat.
"terima kasih."
dengan cepat ia meneguk air minum dan menghabiskannya. setelah ia meminum air hangat ternyata perutnya semakin mual dan akhirnya dia harus pergi ke kamar mandi dengan mencopot selang infusannya lalu dia berlari.
terdengar suara orang yang sedang muntah-muntah dari dalam kamar mandi.
"Mbak itu Kenapa dengan mami tanya Tasya dengan wajah panik
"non Tasya tunggu dulu di sini biar Mbak yang pergi menemui Mami ya. jangan ke mana-mana dengar kata Mbak?"
baby sitter Tasya langsung berlari ke kamar mandi dan dia mendapati diniar yang sudah begitu lemas dan bahkan tidak sanggup untuk berdiri. punggung tangan Dinniar juga mengeluarkan sedikit darah. mungkin itu akibat dari Dinniar melepas paksa selang infusan.
"ya ampun ibu. Ibu Apa saya harus panggilkan dokter?" baby sitter itu terlihat panik.
"tidak perlu saya hanya perlu berbaring kembali di tempat tidur. mungkin ini karena saya terlalu banyak berpikir jadi saya sangat sehingga menjadi mual."
dunia di papah oleh baby sitter Tasya menuju ke ruang tidur dan ia juga membantu Dinniar untuk naik ke atas ranjang.
"Mami tidak apa-apa? apa kita harus telepon Papa?" Tasya mengkhawatirkan kondisi Maminya.
"tidak perlu sayang mami akan baik-baik saja setelah tidur. Tasya tidur bersama mami di samping mami."
Dinniar memeluk tubuh putri kecilnya dengan erat agar bisa tertidur pulas dan nyaman. meskipun di pikiran Dinniar masih terbayang wajah Alesya yang pasti sedang ketakutan saat ini. Dinniar sedikit melepaskan air matanya dan dia langsung menghapusnya. dia tidak ingin Tasya mengetahui kalau kakaknya sedang tidak berada di dalam rumah dan sedang tidak diketahui keberadaannya.
Dinniar dan Tasya tertidur lelap bersama di kamar mereka yang nyaman. sedangkan Alesya b rada di sebuah pabrik yang sangat gelap dan terbengkalai.
Alesya diberikan makanan dan minuman, tapi dia tidak menyentuhnya sama sekali.
"aku mau pulang." teriak Alesya.
dia tidak mengerti ada apa dengan semua ini. Dia di culik dan dia juga mendapatkan sebuah video yang menunjukkan bahwa Dinniar dan Jonathan seperti tidak memikirkan keberadaannya saat ini.
Nasib Alesya memang sangat tidak baik kali ini. Dia tidak bisa menghubungi siapapun dan juga tak bisa dihubungi oleh siapapun karena ponselnya yang habis daya baterainya.
"Mih, apa benar perkataan wanita di telepon tadi? apa perhatian dan kasih sayang yang mami tunjukkan untukku selama ini hanya sebuah kepalsuan?" Alesya mulai bertanya-tanya kepada dirinya sendiri.
wanita yang berbicara kepadanya melalui telepon seluler itu membicarakan tentang kepalsuan Dinniar.
Alesya mulai terpengaruh dengan apa yang disampaikan oleh wanita itu kepadanya. Dia mulai memikirkan beberapa hal tentang Dinniar yang dia rasakan saat mereka sedang berkumpul.
saat ini giliran Alesya menjadi kacau. dia menangis karena bingung.
"Mama, andai mama masih ada. aku kangen sama mama. mama pasti akan memberikan solusi untuk Alesya. mah, bantu Alesya. Alesya butuh mama." Alesya menangis tersedu-sedu sambil membayangkan wajah mamanya yang sudah lama tak bisa dia lihat.
kejadian ini membuat Alesya menjadi merindukan sosok mamanya. dia yang sudah mulai terbiasa dengan perhatian dan kasih sayang Dinniar. mulai mencari kembali sosok mamanya. dia kembali mengingat mamanya yang sangat dia rindukan.
Alesya yang lelah menangis akhirnya tertidur sambil duduk dan bersandar di dinding pabrik kosong.
"Dia sudah tidur bos. sepertinya kelelahan karena menangis dan memanggil-manggil mamanya." info seorang wanita yang menjaga Alesya.
"Kalau begitu besok kalian hubungi aku lagi. aku ingin bicara dengan anak itu lagi. sepertinya pembicaraanku dengannya tadi cukup mempengaruhi dirinya. jaga anak itu. jangan sampai kalian lengah."
kedua wanita itu menyudahi pembicaraan mereka. wanita yang membawa Alesya memperhatikan anak itu dengan seksama dan menutup pintu ruangan.
...****************...
Ditempat lain Jonathan menemui supir pribadi istri dan anaknya. Dia akan memulai interogasi terhadap supir itu.
"Bawa dia kemari." pinta Jonathan setelah dirinya duduk di sebuah ruangan khusus.
ruangan itu dibuat oleh Jonathan khusus untuk mengintrogasi orang-orang yang berurusan dengannya, terutama ketika dia harus berbicara empat mata dengan anak buahnya.
Supir di bawa oleh dua anak buah Jonathan ke dalam ruangan. Jonathan sudah menunggu dan supir diminta duduk berhadapan dengan dirinya.
"Kamu kenal beberapa orang yang menghadang mu?" tanya Jonathan.
"Sa-saya tidak kenal pak. baru pertama kali itu saya bertemu mereka." jawabnya dengan terbata-bata.
"kenapa kamu meninggalkan ponselmu di rumah?" tanya Jonathan lagi.
"Maaf pak. karena ponsel saya habis daya. makanya saya isi daya. namun, saat ingin menjemput non Alesya saya lupa membawanya. maafkan saya pak." ujar supir pribadi itu.
"Kamu tahu, kesalahan ini sangat fatal. kenapa kamu tidak melawan saat Alesya di bawa oleh mereka?" teriak Jonathan sangking putus asanya.
"Maaf pak. saya sudah berusaha melindungi non Alesya. saat saya meminta non Alesya kabur ternyata dia wanita sudah siap menghadangnya. saya terkena pukulan mereka dan akhirnya saya pingsan. saya tidak tahu mereka membawa non Alesya kemana." Supir itu memasang wajah bersalahnya.
Jonathan menjadi iba. dia kemudia menyuruh anak buahnya untuk membawa supir itu pergi dari ruangannya.
"Haaaah!" Jonathan sangat kesal hingga berteriak sambil memeluk meja.
"Kak, maafkan aku yang tidak becus menjaga anakmu. aku minta maaf karena kelalaianku, Alesya menjadi dalam bahaya. aku akan mencari anakmu. aku akan mencari Alesya. dia sekarang sudah menjadi putriku. aku akan pastikan membawa Alesya kembali pulang." Jonathan menangis dia merasa gagal menjaga Alesya.
Jonathan selalu berjanji kepada kakaknya kalau dia akan mengurus, menjaga dan melindungi Alesya hingga tidak ada satu orangpun yang mampu menyentuh keponakannya itu. Namun hari ini semua ceritanya berbeda. dia kehilangan Alesya gadis remaja yang sangat dia sayangi segenap hatinya.