
Dinniar sampai di restoran tempat dimana Darius dan Tasya makan malam bersama Cornelia.
Dinniar turun dari dalam mobilnya.
"Perhatian kepada ananda Tasya ditunggu oleh ayahnya yaitu Papi Darius. Sekali lagi kepada ananda Tasya di tunggu di dalam restoran."
"Kepada para pengunjung. Jika menemukan seorang anak kecil berusia lima tahun. Dikepang dua dan memakai baju dress bunga. Mohon dapat membawanya ke ruang informasinya."
Beberapa kali Dinniar mendengar pemanggilan atas nama Tasya dan ciri-ciri yang disebutkan juga sama dengan apa yang Tasya putrinya kenakan.
Dinniar dengan langkah terburu dia masuk ke dalam restoran dan mencari pria yang ternyata tengah duduk santai bersama istri barunya.
"Dimana Tasya?" tanya Dinniar.
Mendengar suara yang familiar ditelinga nya dan keduanya langsung menoleh bersamaan.
Darius dan Cornelia menjadi panik karena Dinniar tiba-tiba ada di dalam restoran.
"Kamu, kenapa kamu di sini?" tanya Darius dengan gagap.
"Tidak perlu mengalihkan pembicaraan. Jawab saja pertanyaanku tadi. Dimana putriku?"
Genderang kencang seakan berbunyi keras. Suasana menjadi tegang dengan kehadiran ibu dari putri yang hilang.
Darius tak bisa berkata. Dia hanya bisa terdiam mematung. Cornelia menjadi ketakutan ketika harus berhadapan dengan wanita yang pernah dia temui beberapa bulan lalu.
Dinniar mengedarkan pandangannya ke Cornelia. Cornelia pun terjatuh ke atas kursi yang ada di belakangnya.
Tubuhnya menjadi lemas ketika datang Dinniar dengan tatapan penuh amarah.
"Mas, aku tanya dimana putriku?" Dinniar berteriak hingga frustasi.
Dia tidak melihat keberadaan putrinya sama sekali. Dan pria yang dihadapannya pun terlihat begitu kebingungan.
...****************...
Anak kecil berusaha untuk melepaskan ikatan tali yang melingkar kencang mengikat tangan dan kakinya.
"Sekap anak itu. Dan jangan lepaskan dia." Seorang pria memberikan perintahnya.
seorang anak kecil diturunkan dari belakang. Dia terus meronta namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Tubuh kecilnya dengan mudah dilumpuhkan hanya dengan sedikit tenaga orang-orang yang bertubuh besar itu.
..."Siapa mereka? Kenapa mereka membekap dan mengikatku? Dimana tempat ini? Mami, Tasya takut."...
Tasya diangkat dengan satu tangan dan di masukkan ke dalam sebuah ruangan yang di dalamnya sudah terdapat kasur dan peralatan lainnya.
Tangan, kaki ikatannya telah di lepaskan dan bekapan di bibirnya juga sudah terlepas.
Tasya segera berlari menuju pintu kamar. Sayangnya tubuh mungilnya langsung tertangkap dan dia di letakkan di atas kasur.
Pria bertubuh kekar itu pergi meninggalkan Tasya dan mengunci pintu kamar itu.
"Semua sudah beres?" tanyanya.
"Sudah. Kalian jaga di sini. Aku mau melapor dulu kepada Boss dulu.
...****************...
Berjalan-jalan menjadi suatu kegiatan baru yang sedang di sukai oleh Jonathan. Dia bersama dengan keponakannya Alesya pergi menggunakan kendaraan sendiri. Jonathan dan Alesya duduk di kursi penumpang. Sedangkan yang mengendarai mobil adalah supir mereka.
"Om. Terima kasih sudah ajak aku jalan-jalan lagi." Alesya mengembangkan senyumannya.
Jonathan sangat senang melihat keponakannya kembali bahagia setelah kehilangan mama dan papanya.
Beberapa bulan lalu keluarga mereka mengalami duka. Jonathan kehilangan kakaknya dan kakak iparnya dalam kecelakaan pesawat.
Alesya merasa sangat bersalah karena dia memaksakan orang tuanya pulang ke Indonesia untuk menemaninya pergi karya wisata.
Saat perjalanan ternyata ada kendala dengan pesawat yang ditumpangi.
Alesya bersedih dan merasa bersalah selama beberapa hari. Sungguh membuat hati Jonathan semakin hancur.