Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
307 - Evelin Carmenia



Evelin masuk ke sebuah bar. Dia duduk dan menunggu seseorang datang untuk menemaninya di malam yang sunyi baginya.


"Apa kamu sudah sampai?" ujarnya lewat telepon.


seseorang lalu melambaikan tangannya dari kejauhan dan berjalan ke arahnya yang sudah berwajah muram.


"Hai, apa kabar?" tanyanya.


"Kabarku baik." jawab Evelin kepada kenalan saat dia masih bekerja di Jerman.


"Kamu mau minum apa Silvia?" tanya Evelin.


"apa cocktail?" tanyanya lagi sambil terkekeh.


"Haha ini bukan luar negeri dan aku juga sedang program hamil jadi tidak minum minuman yang mengandung alkohol." ujarnya.


"Oh, ya? Aku berdoa agar kalian segera diberikan momongan." doa Evelin.


"Mocktail Early Grey Cobbler satu." Selvia memesan minuman untuknya.


"Kapan kamu ke Indonesia?"


"Sudah dua bulan lalu. Hanya saja baru ini aku berada di jakarta karena menerima beberapa job iklan."


"Kamu memang pekerja keras dalam bekerja, tapi tidak dalam urusan asmara." Selvia menepuk bahu temannya itu.


"Kali ini aku akan berusaha keras untuk hubungan asmaraku. Aku tidak ingin kehilangannya lagi." jawab Evelin.


"oh ya? Apa ini masih tentang Nathan?" tanya Selvia yang mengetahui pria yang menjadi mantan Evelin.


"heem. Benar sekali. Aku bertemu dengannya. Dan hubungannya dengan sang istri hanya sebatas rasa kasihan saja bukan karena cinta. Aku akan mengeluarkan dia dari dunia menyakitkan itu. Hidup berpura-pura tidaklah mudah." Evelin bicara dengan kesadaran tujuh puluh persen.


Sebelum Selvia tiba. Evelin sudah meneguk gua gelas minuman beralkohol. Selama bercerita dia sudah meminum satu gelas. Selvia lalu menahan tangan Evelin yang hendak meneguk satu gelas minuman lagi.


"hentikan. Kamu akan menjadi tak terkendali." pinta Selvia.


"Aku sangat merindukannya. Aku masih sangat mencintainya. Aku tidak mau lagi kehilangannya." Evelin memukul-mukul dadanya sendiri.


"Evelin sadarlah. Ini hanya akan menyakitkan dirimu. Apa kamu yakin kalau dia tidak mencintai istrinya? Atau itu hanya pendapat dari dirimu yang masih mengharapkan dia?" tanya Selvia sambil memegang tangan kanan Evelin.


"Aku dengar dari saudaranya. Kalau itu pernikahan karena rasa kasihan dan manager ku juga sudah mencari informasi dan itu sama seperti yang dikatakan oleh saudara Nathan." Evelin berhasil meneguk satu minuman.


Selvia menghela napas. Dia masih hapal dengan kelakuan Evelin jika sudah mabuk. Tidak terkendali dan pastinya akan menangisi tentang penyesalannya yang memutuskan Nathan.


"Dengarkan aku. Sesuatu yang diceritakan belum semuanya benar. Dari sikap Nathan yang mana yang membuatmu bisa mempercayai kata-kata orang-orang itu?" tanya Selvia yang berusaha mengubah pikiran Evelin.


"sikapnya? Tidak ada sikapnya yang menunjukkan dia tidak suka kepada istrinya. Bahkan dia di depanku menggandeng mesra istrinya. Lalu dia juga enggan bertemu denganku. Saat aku berusaha mendekatkan diri. Dia menghindar. Oh, tunggu ada yang membuatku yakin. Tatapannya saat pertama kali kita bertemu. Dia menatapku. Aku yakin itu tatapan cinta." Evelin sudah semakin ngaco cara bicaranya.


"Kenapa kamu malah jadi seperti ini Evelin. Seharusnya kamu bisa mencari pria lain dan tidak mengganggu rumah tangga orang lain. lupakan dia." bisik Selvia.


"Kamu bicara apa?" kata Evelin yang sudah setengah tidak sadarkan diri.


"Kita pulang. Aku akan mengantarmu ke mobil dan meminta managermu datang." Selvia merogoh tasnya dan menelepon manager Evelin.


"Hah, Untung saja kau seorang model. Jadi tidak terlalu berat." Selvia mengatur napasnya yang kelelahan.


"Selvia." teriak seorang wanita yang berlarian menuju parkiran mobil.


"Hah ... Hah ... Hah. Maaf aku terlambat." ujarnya sambil mengatur napas yang tersengal-sengal.


"tidak apa. Ini kunci mobilnya." Selvia menyerahkan kunci mobil yang dia ambil dari tas Evelin.


"Dia, benar-benar membuat aku khawatir." ujarnya sambil membuka pintu dan membantu Selvia memasukkan Evelin ke dalam mobil.


"Kau bisa sendirian membawanya?" tanya Selvia.


"tenang saja. Aku sudah terbiasa. Terima kasih sudah menghubungi aku."


"Boleh aku tahu pria seperti apa yang disukai oleh Evelin?" tanya Selvia yang tidak pernah sekalipun melihat foto Nathan.


"Ah, dia pemilik hotel itu. Namanya Jonathan." manager Evelin menunjuk hotel yang terlihat dari parkiran bar.


Evelin membulatkan kedua matanya. Dia sangat tidak percaya. Evelin ternyata menyukai pria yang merupakan suami dari sahabatnya.


"Maksudmu. Jonathan suaminya Dinniar?" gumam Selvia tanpa mengalihkan pandangannya dari nama hotel yang bersinar terang.


"Benar sekali. Apa kamu mengenal mereka?"


"Ah, cepat sudah malam. sebaiknya segera bawa Evelin pulang." Selvia langsung menyadarkan dirinya sendiri dan menyuruh wanita itu membawa temannya pulang.


"Besok aku akan menemui Evelin lagi. Bilang padanya ada yang ingin aku sampaikan tentang Nathan." Selvia lalu mengeluarkan ponselnya dan menghubungi suaminya.


Selvia berjalan menuju mobilnya sambil terus bicara melalui telepon.


"Aku juga tidak menyangka. Dunia ini benar-benar sempit. Kami saling mengenal karena hal yang tak terduga. Aku tidak bisa membiarkan Evelin terus terpenjara dengan cintanya kepada Jonathan. Aku tidak mau rumah tangga sahabatku kembali diterpa masalah karena pelakor." ujarnya saat sudah di dalam mobil.


"Aku akan segera sampai di rumah. Tunggu aku." Selvia mematikan telepon dan menyalakan mesin mobil untuk segera pulang ke rumahnya.


Di dalam mobilnya Selvia tidak habis pikir kalau takdir akan mempertemukan mereka dengan cara yang tak biasa. Temannya adalah mantan pacar Jonathan yang pernah diceritakan oleh Dinniar.


"Dinniar, aku akan membantumu. Aku akan buat Evelin menyerah dengan cintanya. Aku tidak akan membiarkan kebahagiaanmu dirusak oleh siapapun." Selvia menancap gas untuk mempercepat laju mobilnya.


Tiga puluh menit sudah dia menuju perjalanan pulang. Selvia langsung turun dari mobil dan lari masuk ke dalam rumah seperti orang yang sedang di kejar jin.


"Sayang, hati-hati. Tidak perlu berlarian seperti itu. Aku sudah mencari tahu semuanya sesuai keinginanmu. Benar mereka pernah menjalin kasih. Evelin meninggalkan Jonathan karena ingin karirnya lebih baik lagi."


"Aku tidak menyangka dunia sangatlah sempit. Dan dia orang yang aku kenal sama-sama mengenal dan menjalin kasih dengan Jonathan. Aku akan menemui Evelin besok. Semoga dia mau mendengarkan aku."


"Sudah. Kita pikirkan lagi besok. Hari ini bukannya masa suburmu? Dokter meminta kita melakukannya. Aku harap ada berita baik untuk kita kali ini sayang."


Sanga suami menggendong Selvia sampai mereka masuk ke dalam kamar. Selvia dibaringkan di tempat tidur. Malam ini mereka bercinta sesuai arahan dari dokter demi mendapatkan keturunan. Selvia dan suaminya sudah sangat menanti datangnya buah hati sejak lama. Anak-anak tirinya juga sudah menanti adik baru.


Malam semakin larut. Hari semakin gelap. Dan banyak orang yang semakin terlelap.


Dunia ini memang banyak sekali menyimpan misteri dan kejutan dalam kehidupan. satu persatu misteri itu muncul dan sering kali menghantui. Akan tetapi siapa yang tidak takut akan bisa melewatinya dan bisa mendapatkan nasib yang baik. Selvia dan suami juga sedang melawan misteri kehidupan. Semoga mereka bisa melewatinya dan bisa mendapatkan hadiah dari Tuhan.