Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Part 22 - Putri yang pintar



Dinniar hari ini tidak bisa kembali berkunjung ke kantor suaminya. Dia harus menemani putrinya di rumah. Tasya sempat protes dengan Dinniar yang pulang sore dan selalu menemani Papinya bekerja.


"Mami, bisakah kita bermain?" tanya Tasya.


Dinniar yang sedang melamun langsung tersadar. Dinniar hari ini menemani Tasya di rumah tapi pikirannya terus mengarah kepada suaminya.


"Maafkan Mami sayang. Ayo kita bermain, Tasya mau main apa?" tanya Dinniar sambil memandangi wajah putrinya.


"Mami, Do you have problem?"


Tasya seakan bisa membaca situasi maminya yang terlihat sering bengong.


"No, Baby. I don't have problem." Dinniar merengkuh pundak putrinya.


Dinniar merasa putrinya memiliki ikatan yang kuat dengannya. Tasya juga sudah lumayan besar untuk mengerti karena dia anak yang pintar.


"Mih, apa kita harus ke kantor Papi?" tanya Tasya.


"Kenapa sayang? Tasya memangnya mau ke kantor Papi?" Dinniar balik bertanya.


"Kita ke kantor Papi, tapi Mami harus janji enggak sedih lagi."


Ya Tuhan, anak yang usianya belum genap lima tahun ini sangat peka terhadap apa yang sedang dirasakan oleh Maminya.


Dinniar mengelus rambut putrinya dan menaruhnya di belakang daun telinga Tasya.


"Kita siap-siap terus kita pergi ke kantor Papi."


Dinniar mengantar putrinya ke kamar dan mendandaninya agar terlihat rapih, karena kalau cantik, Tasya sudah cantik.


.


.


Darius yang hari ini leluasa di kantornya karena tidak adanya Dinniar. Langsung pergi menemui kekasihnya untuk membujuk dan meminta maaf.


"Sayang, maafkan aku." Darius langsung bersimpuh di kaki Cornelia sambil memegang kedua tangan kekasihnya.


"Aku tidak mau memaafkanmu." Cornelia mengerucutkan bibirnya yang sexy.


Melihat wajah kekasihnya Darius memiliki sebuah rencana agar Cornelia bisa melunak.


Darius mengecup kening Cornelia dan mau mengecup bibirnya namun, Cornelia menolak.


"Aku tidak mau bibir bekas istrimu." Cornelia menutup bibirnya rapat.


Darius tidak mengerti apa maksud Cornelia.


"Ada apa? Memangnya aku kenapa?" tanyanya.


"Kamu tanya kenapa? Apa kamu tidak sadar yang telah kalian lakukan di kantor kemarin?" Cornelia kesal.


"Sayang, aku benar-benar tidak tahu maksudmu." Darius duduk di sampingnya.


"Kamu dan istrimu itu kemarin sibuk bercinta di ruangan kerjamu. Apa kamu pikir aku tidak melihat dan tidak mendengar kalian? Bahkan kamu sangat menikmati permainan istrimu. Aku menjadi tersingkirkan." Rajuk Cornelia.


Darius kemudian mengingat apa yang tengah dia lakukan kemarin bersama istrinya di kantor, tapi dia tidak mengetahui kalau kekasih tercintanya melihat bahkan mendengarnya.


"Bagaimana bisa kamu melihat dan mendengarnya?" tanya Darius.


"Jendela ruangannya terbuka Mas, aku lihat jelas kalian bercumbu. Dan saat aku menelepon mu, ternyata kalian sedang asyik memadu kasih, desahanku saja terdengar jelas ditelinga ku. Bahkan percakapan intim kalian." Cornelia membeberkan apa yang dia ketahui.


Darius menepuk keningnya, dia benar-benar tidak sadar akan hal itu. Dia mengetahui kalau Dinniar membenarkan gorden jendela, tapi dia tidak sadar kalau Cornelia melihat aksinya saat bercumbu dengan Dinniar.


Dia akui, memang istrinya sangat pandai berciuman yang membuat dirinya terlena dan terbawa suasana.


"Kamu ingat sekarang?" tanya Cornelia dengan melipat kedua tangannya di dada.


Melihat raut wajah kesal yang tergambar jelas di wajah kekasihnya, Darius langsung memutar otak untuk mencari ide agar bisa meluluhkan hati wanita yang tengah merajuk.