
selentingan Dinniar akan meninggalkan sekolah harapan sudah terdengar. karena Adrian sudah mulai mempersiapkan kandidat kepala sekolah yang baru.
Dinniar hari ini tidak masuk bekerja karena masih harus bed rest di rumah. Dia melihat pesan yang ada di ponselnya dan benar saja sudah banyak sekali pesan masuk di group chat sekolah harapan selalu jaya. itu adalah nama group mereka.
Dinniar membuka chat group sekolah dan membaca satu persatu pesan yang di dapatnya.
isi pesan Group chat sekolah harapan selalu jaya.
Juwita : Saya dengar katanya Bu diniar mau pamit dari sekolah harapan apakah benar seperti itu Bu Dinniar?
Kalista : Apa benar kepala sekolah kita akan ganti? Saya harap berita ini hanya berita bohong belaka karena saya tidak ingin kepala sekolah dari sekolah harapan berganti
Qiara : iya pasti nggak seru banget kalau misalkan kepala sekolahnya ganti karena Bu deniar sudah terkenal dan sudah menjadi ikon dari sekolah harapan
Dita : benar apa kata Bu qiara Bu Juwita dan bu kalista. saya juga sama berharap kalau kepala sekolah tidak akan pernah ganti selama saya masih berada di lingkungan sekolah harapan
Priyono : wah pasti sepi sekali ini kalau misalkan kepala sekolah kita yang hebat tidak ada lagi
alvinos : Saya rasa Sekolah harapan tidak akan semaju sekarang kalau misalkan kepala sekolahnya berganti.
tri : saya juga memohon kepada Bu Dinniar untuk tidak berhenti menjadi kepala sekolah di Sekolah harapan
Tere : Bu diniar Kami mohon Ibu agar mempertimbangkan kembali keputusan untuk keluar dari sekolah harapan
Sulaiman : jujur saya baru pertama kali ini mendapatkan seorang kepala Sekolah yang bijaksana dan sangat membimbing guru-guru untuk lebih berkembang dalam mengajarkan murid-murid di sekolah.
semua orang memberikan kata-kata penolakan terhadap Dinniar yang akan keluar dari sekolah harapan. pesan yang dibaca olehnya membuat dirinya galau akan tetapi dia harus tetap membulatkan tekadnya dan tetap keluar dari sekolah. dia ingin fokus dengan keluarga saat ini.
melihat istrinya galau Jonathan menghampiri diniar.
sayang sebaiknya kita menonton film kesukaanmu saja. Aku lihat hari ini salah satu film kesukaanmu sudah update video terbarunya." akan mengajak diniat untuk menonton film kesukaan mereka berdua.
menonton film big house.
"Selamaaat."
Semua mengucapkan selamat kepada Viko yang sudah menikah dengan wanita yang dia cintai.
Viko merupakan anak pertama di keluarga ini, akan tetapi ini adalah acara kedua yang di gelar oleh keluarga besar Doulton.
Doulton adalah nama papa dari para anak-anak yang tinggal di rumah besar itu.
Doulton kini sudah sangat sepuh sehingga harus ditemani kursi rodanya kemanapun dia pergi.
Leni adik dari Viko dan kakak dari Selena menikah lebih dulu. Leni melangkahi Viko karena dia terlibat one night dengan seorang pengusaha muda dan kaya.
Setelah mengetahui kalau ternyata putrinya mengandung benih seorang pria. Doulton memaksa pria itu untuk bertanggung jawab.
Setelah lelah memikirkan putrinya dan setelah selesai menggelar acara pernikahan putrinya. Doulton pingsan di kamar mandi dan dinyatakan terkena struk ringan oleh dokter. Karena itulah dia kini selalu di temani oleh kursi rodanya.
Doulton masih bisa bicara meskipun terbata-bata, Dia juga masih bisa berjalan sendiri. Namun, tidak kuat lama.
Doulton terkena struk ringan dua tahun lalu dan terlambat dibawa ke rumah sakit saat itu.
****************
Selesai acara pernikahan kemarin, Selena terlihat murung. Sebab hanya dia kini yang belum mendapatkan pasangan hidup.
Usianya memang baru menginjak dua puluh enam tahun dan sedang bekerja sebagai lawyer di sebuah perusahaan.
Selena sangat pendiam dan jarang berbaur dengan kakak-kakaknya. Ditambah lagi, kedua kakaknya sering nongkrong di sebuah club malam dan menghambur-hamburkan uang di sana.
Selena bukan anak yang sering bermain bersama para temannya. Dia tidak terlalu suka keramaian dan suara bising yang membuat telinganya sulit mendengar.
Selena bahkan punya sebuah apartemen yang tidak diketahui oleh anggota keluarganya. Dia sering ke sana hanya untuk menenangkan diri dan mengenang mamanya.
Juliet adalah seorang ibu yang sangat baik dan perhatian terhadap dirinya. Dia juga sempurna sebagai seorang istri. Juliet meninggal saat usia Selena beranjak delapan belas tahun.
Selena sangat terpukul dengan kepergian mamanya yang secara cepat. Juliet mengidap penyakit kanker dan ternyata sudah menjalar ke seluruh jaringan tubuhnya. Juliet pasrah, karena dia tahu tidak akan tertolong lagi.
Kedua kakak Selena tinggal menjadi satu dengannya di rumah besar itu meskipun mereka sudah menikah. Doulton meminta kepada mereka untuk tetap tinggal bersama apapun yang terjadi.
Leni yang sudah menikah lama dan sudah memiliki satu putri selalu sibuk dengan pekerjaannya. Dia bahkan tidak pernah sempat untuk bercengkrama dengan anak dan suaminya.
Viko sekarang sedang sibuk berbulan madu ke Paris. Mereka memilih Paris sebagai negara yang memiliki sejuta kisah romantis.
****************
Doulton ikut sarapan pagi bersama dua putrinya, satu menantu dan satu cucu yang cantik. Tidak biasanya Doulton ikut makan bersama mereka.
"Caca. Apa Caca mau bermain dengan kakek?" tanya Doulton kepada bocah berusia dua tahun dengan kata yang terbata.
"Pah, jangan terlalu capek. Caca sudah ada baby sitter yang menjaga dan mengajaknya bermain." Leni menunjukkan perhatiannya kepada sang ayah.
"Tidak capek. Lagi pula dia itu'kan cucuku. Bukan cucu pembantu atau Baby sitternya." Doulton malah marah saat diperhatikan.
Doulton kerap kali meminta Leni untuk berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga saja. Namun, putrinya selalu tidak terima jika dia hanya menjadi ibu rumah tangga di jaman moderen ini.
Leni termasuk salah satu golongan ibu-ibu sosialita yang selalu mengenakan merk branded dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Dia dibawa kerumah itu setelah ibunya meninggal dunia. Dia tahu kalau dia adalah anak dari Doulton seorang pengusaha kaya raya yang sekarang perusahaannya di alihkan kepada anak pertama nya dari istri sah.
"Pah, sebaiknya papa kembali ke kamar saja. Selena akan mengantar papa ke kamar." Ujar Selena.
Doulton hanya bisa menundukkan kepalanya saja. Dia yang sudah duduk di kursi roda dan tidak bisa bicara dengan lancar lagi hanya bisa pasrah dengan keputusan anak-anaknya.
Doulton juga hanya bisa menonton pertikaian keempat anaknya ketika mempermasalahkan keuangan perusahaan.
Dua anak laki-laki memegang penuh kendali dua kerajaan bisnis yang di miliki oleh keluarga Doulton. Satu bergerak di dunia perhotelan dan satunya bergerak di bidang pariwisata. Semua masih berkaitan satu sama lain.
Selena sampai di dalam kamar papanya yang cukup besar dan hanya sendirian tinggal di ruangan itu.
"Selena tunggu." Doulton memanggil putrinya.
"Ya, ada apa papa?" tanyanya.
"Selena, apa kamu tidak berminat untuk bergabung dengan kakakmu di perusahaan?" Doulton menanyai putri bungsunya.
Selena hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia tidak tertarik dengan harta kekayaan yang dimiliki oleh papanya. Dia tidak mau harus bertengkar dengan saudara-saudaranya. Melihat pertengkaran itu saja dia sudah muak, apalagi harus ikut masuk dalam pertengkaran itu.
"Selena, papa harap kamu bisa menyelamatkan perusahaan. Cuma kamu yang bisa melakukan hal itu. Papa tahu kamu belajar tentang bisnis. Papa rasa kamu memiliki ketertarikan kepada dunia bisnis." Doulton diam-diam mengawasi putri bungsunya.
"Aku tidak tertarik." Selena meninggalkan Doulton sendirian di dalam kamar dan dia kembali ke meja makan.
"Kamu sudah mengantar kakek tua itu?" tanya Leni dengan tidak berperasaan.
Selena hanya bisa diam mendengar kakak tirinya tidak menghormati papanya sedikitpun.
"Selena, aku peringatkan jangan pernah ikut campur di perusahaan. Aku tidak mau semakin rumit keadaannya. Dan aku tidak mau kamu terseret dalam kehidupan yang menyeramkan." Leni seakan menunjukkan perhatiannya kepada Selena sebagai seorang kakak.
Selena hanya meneguk susu miliknya tanpa menanggapi ucapan kakak perempuannya. Leni pun hanya menyeringai melihat sikap adiknya yang angkuh.
Selena terkenal pendiam, kutu buku dan angkuh. Diantara mereka semua Selena masih memiliki keluarga selain papanya. Selena masih memiliki seorang nenek yang membuka kedai makanan di pinggiran kota.
Saat jenuh Selena akan pergi ke kedai dan membantu neneknya menyajikan makanan kepada para tamu yang datang. Semua orang tahu kalau Selena adalah seorang anak dari pengusaha. Namun, Selena tak perduli dengan pandangan orang tentang dirinya.
Selena selesai dengan sarapan paginya dan dia langsung pergi menggunakan motornya ke tempat dia bekerja. Selena bekerja di salah satu kantor lawyer yang cukup terkenal. Dia di sana sebagai seorang pengacara dan sering kali dia juga membantu kakaknya keluar dari jeratan hukum.
Selena sebenarnya sangat muak dengan kelakuan kedua kakak perempuannya yang sering terlibat dengan hukum.
Selena diperdayakan oleh mereka karena bekerja sebagai seorang pengacara.
"Selamat pagi, Bu Selena. Saya ingin memberikan berkas ini. Ada seseorang yang ingin mengajukan gugatan cerai. Dan sepertinya wanita itu mengalami kekerasan dalam rumah tangga." Melati menjelaskan sedikit duduk permasalahan salah satu klien yang baru saja menyerahkan berkas kepadanya.
Selena hanya bisa menarik nafas panjang. Dia beberapa bulan ini selalu di hadapkan dengan kasus perceraian. Sudah sepuluh kasus perceraian yang dia tangani dalam satu bulan ini saja.
Dinniar merasa bingung dengan adegan yang ada di film tersebut. karena film itu sangat banyak sekali pemainnya.
"sayang filmnya sepertinya akan rumit. ini sepertinya film action. aku masih bingung mencerna film ini. tetapi aku penasaran di buatnya. kira-kira siapa ya pembunuhnya?" tanya Dinniar kepada suaminya.
"aku juga tidak tahu sayang. di pikiranku ada tiga tersangka. wanita itu. si Bragi sendiri atau adik si Bragi. sebaiknya kita lihat kelanjutan ceritanya besok. aku juga sangat penasaran dengan adegan film ini." Jonathan menunjukkan ketertarikan terhadap film yang baru saja dia tonton tadi.
"sayang aku mau lihat anak-anak dulu. aku takut mereka belum tidur. biasanya mereka kalau tidak ada Surti pasti akan bercerita atau membaca buku cerita sepanjang malam sampai akhirnya mereka ketiduran."
Dinniar sangat tahu sekali bagaimana kedua putrinya itu. dia langsung turun dari ranjang dan membuka pintu kamarnya.
Dinniar membuka pintu kamar Tasya dan ternyata benar saja kalau kedua anaknya sedang sibuk bercerita berdua.
Mbak Surti hari ini pulang ke kampungnya karena akan ada pernikahan adik bungsunya. jadi Tasya dan Alesya tidur berdua di kamar Tasya.
"nah'kan. kalian berdua masih bercerita. mami tadi sudah pesan. kalau kalian harus tidur cepat jangan tidur terlalu malam sayang." Dinniar menghampiri kedua anaknya.
Dinniar melihat buku apa yang sedang dibaca oleh Tasya dan juga Alesya.
"oh kalian sedang membaca cerita tentang wayang ya?" tanya Dinniar.
"Iyah Mamih. tadi Tasya sangat penasaran apa itu wayang. jadi aku membacakan buku cerita tentang wayang. kebetulan aku meminjam buku tentang wayang di perpustakaan." cerita Alesya.
"ya sudah, lanjutkan bercerita dan mencari tahu tentang wayangnya besok saja. sekarang waktunya kita untuk tidur. mami tidak mau kalian besok bangun kesiangan. ingat besok adalah hari Senin dan akan ada upacara bendera. kita harus pergi lebih pagi lagi." kata Dinniar sambil mengambil buku dari tangan Alesya.
Dinniar juga membenarkan posisi selimut anak-anaknya. dia mengecup kening Tasya dan Alesya sebelum mematikan lampu kamar anaknya.
"selamat tidur kesayangan Mamih." Dinniar menutup pintu kamar Tasya.
Dinniar kembali ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya di samping suami tercintanya.
"mereka masih membaca buku cerita?" tanya Jonathan.
"ya sesuai dugaanku mereka masih membaca buku cerita dan malam ini Alesya membacakan buku tentang wayang. karena Tasya sangat penasaran apa itu wayang." ujar Dinniar.
Jonathan tertawa kecil. sikap Tasya sangat mirip dengan Dinniar.
"kenapa kamu tertawa?" tanya Dinniar.
"sikap Tasya itu jelas sangat mirip denganmu. kamu dan dia sama-sama punya tingkat keingintahuan yang sangat tinggi dan tidak sabar jika sudah ingin mengetahui sesuatu." ujar jonathan yang membuat Dinniar tersipu malu.