
Darius yang sedang pusing dengan kondisinya pergi ke sebuah club malam dan meneguk beberapa botol minuman beralkohol. Dia terus meminta satu botol tambahan setelah botol sebelumnya habis diteguk tak tersisa.
Darius mengalami stres berat. Dia ditolak hadir dalam kehidupan Dinniar lagi. Dia juga ditolak oleh putrinya sendiri sejak kejadian penculikan itu. Sungguh masalah datang bertubi-tubi sejak dia menikah dengan Cornelia. Dia juga mengalami kemerosotan dalam usahanya. Banyak model yang pindah agency karena kerap kali Darius tidak fokus dalam mengurus usahanya.
Tempramen Darius juga sering kali meledak-ledak ketika sedikit masalah kantor membuatnya pusing. Sikap Darius ini tidak pernah di tunjukkan saat masih berstatus sebagai suami Dinniar. Semua staff kerjanya menjadi aneh dan merasa tidak nyaman lagi bekerja dengannya.
"Lihat apa yang telah kamu lakukan Cornelia. Awalnya kamu hampir nyaris merusak bisnis yang selama ini aku bangun. Kamu membatasi setiap model yang ingin masuk ke agensiku dan kamu juga sudah membuat model yang ada menjadi tidak nyaman lagi karena terus kamu curigai akan berselingkuh denganku. Sekarang kamu berhasil membuat seorang anak menjauh dari papinya sendiri. Kamu benar-benar membuatku jengkel." Darius mengepal erat botol minumannya.
Flashback on
Darius sedang melihat beberapa jadwal model yang ada dan dia juga mengawasi beberapa model yang akan menjalani pemotretan dan penyuntingan video.
Cornelia yang sudah mulai vakum dari dunia modeling memilih menjadi ibu rumah tangga. Di saat dia sudah menjadi ibu rumah tangga. muncul pemikiran yang aneh-aneh di benaknya. Dia merasa beberapa model bisa saja merayu suaminya. Sehingga dia memutuskan untuk menemui suaminya di perusahaan. kebetulan sekali saya itu Darius sedang mengarahkan salah satu model baru di agensinya. Beberapa kali Darius lihat gayanya kurang pas saat berpasangan dengan model prianya.
Cornelia yang datang dan melihat adegan itu mulai menyimpan rasa cemburunya. Sejak saat itu Cornelia sering ke kantor diam-diam dan meneror beberapa model baru atau bisa di bilang juniornya.
Cornelia menaruh curiga kepada setiap model baru yang bergabung dalam agensi suaminya. dia juga kerap kali memberikan ancaman kalau-kalau mereka berani menggoda suaminya. Merasa tidak nyaman mereka akhirnya memutuskan untuk keluar dari agency. Darius merasa aneh dengan kejadian itu. Dia tidak pernah menerima pengunduran diri model dalam jumlah yang cukup sering setelah mereka merekrut model baru. Darius kemudian menyelidikinya dan dia mendapati istrinya tengah mengancam salah satu model baru.
Darius merasa marah karena usahanya sudah mulai di usik okeh sang istri. Dia menarik paksa Cornelia keluar dari ruang modeling dan masuk ke dalam ruangan kerjanya.
"Mas, aduh sakit." Cornelia melepaskan tangannya dari cengkraman Darius.
Dia menggosok-gosok tangannya yang terasa perih dan panas akibat cengkraman kuat suaminya.
"Kamu sedang apa di sini? aku lihat kamu tadi sedang mengancam para modelku. apa maksudmu?" tanya Darius dengan mata melotot.
"Aku hanya memperingatkan mereka agar menjaga jarak darimu. tidak lebih." Cornelia bicara dengan santai sambil menaikkan pundaknya acuh.
"Cornelia, aku tidak suka dengan caramu ini. kamu pikir aku ini semudah itu jatuh cinta dan berpaling?" tanya Darius kesal.
"Mas, aku hanya takut. Dulu kita dekat dan hanya sekedar Atara pemilik agensi dengan model yang dibayarnya, tapi kenyataannya kamu berpaling dari istri dan anakmu setelah menaruh hati kepadaku," kata Cornelia dengan tatapan menantang.
Darius tidak habis pikir dengan jalan pikiran Cornelia. Dulu saat dia mendekati Cornelia bukan karena awalnya cinta. Dia hanya iseng dan lama kelamaan timbul rasa. bukan ada rasa dulu baru menjalin hubungan. Cornelia tidak mengetahui kenyataan yang sebenarnya sampai saat ini. karena memang dulu Darius awalnya hanya iseng dan ingin mendapatkan tubuh molek modelnya.
Sejak saat itu kemerosotan mulai terjadi di agensi yang Darius bangun.
flashback off
Darius terus meneguk minumannya dan dia tak sadarkan diri.
...****************...
Dinniar dan Tasya bersiap untuk pergi ke sekolah. Dinniar sudah memanaskan mobilnya dan siap untuk digunakan.
"Non, ini tasnya. Belajar dengan giat ya." Kata baby sitter Tasya.
"Siap."
Tasya dan Dinniar masuk ke dalam mobil dan mereka segera keluar dari kompleks perumahan elit itu.
"Tasya, nanti di sekolah belajar yang pintar dan jangan lupa pekerjaan rumahnya di kumpulkan." Dinniar mengelus rambut putrinya.
"Okeh, Mami. Aku akan belajar dengan sungguh-sungguh agar bisa jadi seperti Mami." Tasya sangat menggemaskan.
"Tasya ayo kita turun dan bawa tasnya." Dinniar menghentikan mobilnya dan membuka sabuk pengamannya.
Tasya langsung berlari ke dalam kelasnya dan Dinniar memperhatikan putrinya dari kejauhan. Dia bangga kepada Tasya yang sudah bisa mandiri sejak memasuki sekolah taman kanak-kanak dulu. Sekarang saat di sekolah dasar tingkat kedewasaannya juga sudah mulai terbentuk.
"Apapun yang terjadi, Mami akan selalu melindungi Tasya. Mami enggak akan pernah biarin Tasya kembali merasakan kesendirian seperti waktu itu. Cukup sekali Mami merasakan kehilangan Tasya hingga rasanya nyawa mami hampir hilang dari dalam tubuh ini." Dinniar bergumam sambil terus melihat putrinya yang semakin tak terlihat.
"Jangan kebanyakan bengong." Ucap seseorang.
Dinniar menoleh ke samping kanan. "Hai, Adrian." Dinniar tersenyum.
"Gimana acara kemarin?" tanya Adrian tanpa menatap sahabatnya itu.
"Alhamdulillah berjalan lancar. Terima kasih ya kiriman kuenya. Kenapa kemarin enggak Dateng ajah sih?" tanya Dinniar.
"Maaf, soalnya kemarin ada acara yang tidak bisa ditinggal. Jadi aku hanya bisa mengirimkan kuenya." Adrian tersenyum getir.
Dinniar tidak tahu kalau Adrian sengaja tidak datang ke acaranya. Adrian masih belum bisa menerima keadaan seperti dulu lagi. Kali ini dia bahkan tambah tidak bisa menerimanya. Karena ternyata pria yang mampu untuk menarik Dinniar keluar dari masalahnya adalah Jonathan saingannya.
Entah kenapa dia selalu kalah telak. Dulu dia kalah dari Darius yang lebih dulu mengungkapkan rasa dan menjalin hubungan hingga akhirnya menikah. Sekarang saat Dinniar sudah kembali melajang, dia tetap tidak bisa mendapatkan pujaan hatinya. Dinniar telah memilih orang lain sebagai pendamping hidupnya yang baru.
"Kok, kita jadi diam-diaman di sini sih. Ayok kita ke ruanganku." Ajak Dinniar.
"Aku langsung ke ruangan kerja ajah. Lagi ada beberapa kerjaan yang harus segera diselesaikan." Tolak Adrian secara halus.
"Ooh, jadi pemilik sekolah sekarang sudah mulai fokus banget ya sama kerjaannya." Ledek Dinniar.
"Ya begitu deh. Biar makin sukses." Adrian tersenyum kecil lalu mereka berjalan beriringan dengan diamnya masing-masing.
Dinniar masuk ke dalam ruangannya dan Adrian naik ke lantai dua menuju ruangannya.
Dinniar di dalam ruangannya membereskan beberapa berkas yang harus dia persiapkan untuk rapat guru siang ini.
Tok Tok Tok
ketukan pintu terdengar. Dinniar mempersilahkan yang mengetuk pintu masuk ke dalam ruangannya.
"Bu, maaf ada yang ingin bertemu." Penjaga sekolah muncul dari balik pintu ruangan.
"Siapa, Pak?" tanya Dinniar.
"Ibu ini. Katanya mertua ibu."
Penjaga sekolah menyingkir sedikit dan terlihat wajah wanita paruh baya yang begitu Dinniar hormati.
"Ibu. Masuk Bu. kenapa ibu enggak bilang kalau mau kemari?" tanya Dinniar sambil menyambut tangan ibu mertuanya dan mengecupnya.
"Maafkan ibu ya Dinniar. Ibu mengganggu waktu kerjamu." Susi menatap Dinniar dengan tatapan sendu.
"Bu, tidak perlu bicara begitu. Ibu kan ibu mertua Dinniar. Nenek dari Tasya meski aku sudah tidak lagi hidup bersama dengan mas Darius." Dinniar begitu bersahaja sebagai seorang wanita.
"Din, Ibu dengar kamu akan segera menikah?" tanya Susi.
Sudah pasti Susi mendengar hal itu dari mulut Darius. Dinniar mengangguk pelan.
"Ibu doakan, kali ini dia pria yang tepat dan kalian hanya akan terpisahkan oleh maut. Ibu tidak mau melihatmu terluka lagi. Meski ibu hanya mertuamu. Namun, ibu sudah menganggap dirimu anak ibu sendiri. Rasa sayang ibu kepadamu melebihi rasa sayang ibu kepada Darius. Makanya ibu sangat marah kepada Darius karena telah mencampakkan wanita sebaik dirimu." Susi mulai berkaca-kaca.
Dinniar langsung memeluk ibu mertuanya itu. Dia juga sangat menyayangi mertuanya seperti menyayangi ibu kandungnya sendiri.
...****************...
Dinniar sepulang bekerja langsung mengeluarkan ponselnya dan kembali membaca lanjutan novel yang sedang dia baca.
"sudah update belum ya penulisnya." kata Dinniar.
dia mengecek dan ternyata sudah update dua bab. dia bergegas membaca ceritanya.
cerita lanjutan novel kesukaan dinniar yang membuatnya terasa masuk ke dalam novel.
Haura datang kembali ke tempat kerjanya yaitu rumah sakit milik keluarga Wiranto.
Terlihat dari kejauhan banyak kerumunan yang memenuhi ruang meeting.
"Pimpinan baru kita." celetuk seorang perawat yang sedang sibuk jingkek-jingkek untuk melihat sosok yang katanya pimpinan baru.
"Lantas kenapa kalian berkumpul di sini? Bukannya nanti juga dia akan memperkenalkan diri kepada seluruh karyawan rumah sakit ya?" Haura yang ikut penasaran berjinjit agar bisa melihatnya.
"Katanya dia adalah seorang dokter ahli bedah yang pernah di juluki tangan hantu."
Mendengar perkataan dari perawat itu. Dengan cepat Haura membuka jalan untuknya sampai di depan ruang meeting.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya seorang pria yang suara sangat familiar ditelinga.
"Aah, Maaf. Dia temanku." Lidya segera menarik tubuh Haura menjauh dari pria itu.
"Tapi ... tapi Lidya. Dia itu Bryan." Haura ingin kembali menghampiri pria yang begitu di rindunya. Namun, Lidya terus menyeretnya tak memberi kesempatan.
Sesampainya di ruangan Haura. Lidya langsung membenarkan posisi mereka.
"Dengarkan aku baik-baik. Kakak sepupuku alias Kak Bryan masih dalam tahap pemulihan. Usahakan tidak berdekatan dulu dengannya. Setelah bangun dari komanya. Dia melupakan semua memorinya. Terutama ...," Lidya ragu memberitahukannya kepada Haura.
"Terutama apa?" tanya Haura.
"Terutama tentang dirimu. Tentang semua yang berkaitan dengan kita." Lidya menjelaskan dengan perasaan tak tega.
"Jadi, dia lupa kepadaku?" tanya Haura seakan tak percaya.
"Haura, kamu tahu'kan. Kalau aku tidak mungkin membohongimu?" Lidya memasang wajah meyakinkannya.
Haura mengangguk. Memang benar kalau Lidya tidak akan pernah berbohong kepada dirinya.
Lidya membawa sahabatnya itu untuk duduk disampingnya. Lidya menjelaskan semua yang terjadi dengan kakak sepupunya selama ini.
"Aku tidak tahu jika dia akan mengalami amnesia seperti saat ini," lirih Haura.
"Haura, aku ingin katakan satu hal lagi. Kakak sepupuku bahkan tidak mengingat perselingkuhan kekasihnya dengan kak Marco. Bahkan dia kembali menempel kepada wanita itu." Lidya menjelaskan dengan sangat berat hati.
Dia tahu hak ini akan membuat sahabatnya menjadi sakit hati sekali. Haura sudah menunggu selama ini. Dia bahkan seringkali mencari keberadaan Bryan diam-diam.
Lidya memeluk sahabatnya. dia sangat tidak tega dengan kondisi yang dialami oleh Haura.
Lidya sedang berusaha keras agar kakak sepupunya bisa kembali normal lagi. sedangkan saat ini Lidya sedang berusaha mencari bukti lain mengenai Marco. Memang Kakeknya sudah percaya dengan cerita Lidya bahwa Marco yang telah menyebabkan kecelakaan Bryan. Hanya saja kakeknya masih belum percaya jika cucunya itu menginginkan rumah sakit dengan cara kotor.
"Sabarlah Haura. Aku akan segera membantumu agar bisa bersatu dengan kak Bryan. Aku tidak akan membuat dirimu menderita lagi." Lidya memastikan dirinya akan membongkar semuanya dan mengembalikan ingatan Bryan.
----------------
Bryan mencari keberadaan wanita yang tadi dia temui di depan pintu ruangan meeting. Dia ingin melihat wajah wanita yang infonya bernama Haura. Dokter spesialis yang katanya hebat.
"Maaf, sepertinya. Dokter Haura sedang tidak berada di ruangannya."
Seorang asisten Bryan memberi informasi.
Bryan dan dirinya pergi ke ruangan yang akan menjadi tempat Bryan bekerja sebagai pemimpin rumah sakit.
"Kalau begitu. Suruh dia ke ruangan kerjaku setelah jam kerjanya usai." Perintah Bryan.
"Baik, Pak."
"Maafkan aku karena harus berbohong. Sebenarnya Dokter Haura berada di ruangannya bersama dokter Lidya."
Lidya yang sudah tidak tahan lagi melihat kesedihan yang mendalam terhadap sahabatnya dan juga tidak rela jika kakak sepupunya kembali dengan wanita yang sudah pernah mengkhianati hubungan.
Lidya berusaha berpikir bagaimana cara dia bisa membuat Bryan mengingat Haura kembali. Dia berusaha untuk membuat Bryan sedikit demi sedikit bisa mengenang masalalu tentang pengkhianatan Siena.
"Hei, bengong ajah." Kiki menghampiri Lidya.
Dia dan Lidya memang sengaja janjian di sebuah cafe. Kiki saat ini sahabat yang bisa dia ajak bicara secara normal. Lidya sudah pusing bagaimana cara dia bisa membuat Bryan sadar tanpa membuat kondisinya memburuk.
"Kenapa?" tanya Kiki yang melihat wajah murah sahabatnya.
"Itu loh, Haura dan Kak Bryan. Kemarin Kak Bryan sudah kembali ke rumah sakit sebagai pemimpin." Cerita Lidya.
"Lalu? Kenapa?" tanya Kiki yang belum mengerti maksud dari arah pembicaraan Lidya.
"Kak Bryan itu ternyata enggak inget semua yang dialami beberapa bulan saat dia koma." Lidya bercerita sambil mengaduk minumannya.
"Itu'kan sudah biasa. Kalian seharusnya sudah bisa memprediksi tentang itu semua. Bryan tidak akan mengingat apa yang terjadi di alam bawah sadarnya." Kiki menjelaskan seperti lebih mengerti dari pada seorang dokter.
"Ya, aku sih kepikiran kesana, tapi setelah kita mengoperasi Kak Bryan." Sesal Lidya.
"Kami bahkan tidak meninggalkan jejak sedikitpun tentang keberadaan Kak Bryan. Andai ada, aku bisa meyakinkannya." Pikiran Lidya menerawang.
"udah enggak usah dipikirin terlalu keras begitu. Nih makan." Kiki menyodorkan sepiring steak tenderloin kesukaan Lidya.
Lidya langsung terlihat senang. Dia langsung menyambar makanan kesukaannya itu.
"Tahu ajah sih kalo orang lagi laper." Lidya memotong-motong steak miliknya.
"Bukan laper kali, tapi doyan."
Kiki nyengir sambil ikut memotong steak sirloin miliknya.
Lidya begitu menikmati steak miliknya. Dagingnya yang tanpa lemak membuat kenikmatannya semakin nikmat. Sedangkan Kiki menikmati daging dengan sedikit lemak kesukaannya.
****************
Bryan berdiri di balkon kamarnya. Dia memikirkan siapa orang yang telah berhasil menyelamatkan nyawanya.
"Siapa dokter yang melakukan operasi kepadaku?" tanya Bryan.
"Dokter, Pak." Dirga menjawab pertanyaan atasannya.
"Iyah saya tahu, Dirga. Maksud saya siapa namanya dan bagaimana dia bisa menguasai ilmu yang sama persis dengan yang saya miliki?" tanya Bryan yang mulai tersulit emosi.
"Kalau masalah itu. Saya juga kurang tahu Pak." Dirga menundukkan wajahnya.
Bryan ingin sekali mengetahui siapa sebenarnya dokter yang telah melakukan operasi kepadanya. Sehingga dia bisa berdiri lagi di tempat yang selalu dia rindukan.
"Aku harus mencari tahu siapa dia. Aku merasa kalian menyembunyikan sesuatu kepadaku." Bryan membalikkan tubuhnya dan masuk ke dalam kamarnya.
Dirga menjaga Bryan yang masih belum sangat stabil. Dia juga kerap kali berjaga di ruangan depan kamar tidur. Dia tidak mau Bryan mengalami hal kritis seperti beberapa bulan lalu.
****************
Lidya selesai dengan makanannya dan Kiki pun sama.
"Ki, cari cara ya." Lidya kembali membahas persoalan Bryan.
"Lid, gimana caranya? Dokter ajah bingung. Apalagi orang biasa." Kiki juga bingung.
Lidya membuang kasar napasnya. Dia seakan sudah buntu dan putus asa.
"Lid, jalani saja. Suatu hari nanti takdir yang akan menuntun semua untuk kembali pada tempatnya semula. Percayalah." Kiki menguatkan sahabatnya yang begitu putus asa.
Lidya merasa kalau dia harus mulai sedikit demi sedikit belajar menjali hidup dengan ikhlas agar apa yang dikatakan Kiki segera terjadi.