
Cornelia kini tidak bisa berkutik lagi. dia di dalam penjara hanya bisa meratapi nasibnya. dia bahkan sering kali tertawa sendiri, menangis tiba-tiba dan bicara sendiri bahkan terkadang dia memakai tanpa tau siapa yang dimakinya.
Kondisi Cornelia sangat memprihatinkan selama di dalam tahanan penjara. beberapa orang yang tinggal satu sel dengannya merasa terganggu.
"Woy, kalau gila jangan bikin rusuh dong. gak perlu teriak-teriak. berisik tau." salah satu tahanan memarahinya dengan keras.
Cornelia hanya tertawa saja tanpa perlawanan. membuat semua orang yang melihatnya merasa ngeri. dia benar-benar jelas seperti orang yang sudah kehilangan akal sehatnya.
"Pak polisi. tolong pindahkan orang ini. kami sangat terganggu sekali. dia bahkan tidak tidur dan hanya tertawa dan menangis tiba-tiba. kami tidak mau tertular penyakit tidak waras."
para penghuni tahanan protes dengan keadaan di dalam sel tahanan. mereka benar-benar sangat takut karena sikap Cornelia yang sering aneh.
"Kalian diam saja. kalau tidak mau satu sel dengannya. sebaiknya kalian jangan berbuat kejahatan." polisi yang kesal karena mendapatkan banyak protes membuat dirinya ikut marah.
Siapa yang tidak marah. kondisi tahanan semakin tidak kondusif dengan kedatangan Cornelia.
salah seorang petugas kepolisian mendatangi ruangan kepala polisi.
"Permisi pak." ujarnya.
"masuk."
"pak bagaimana dengan pengajuan kami untuk pemanggilan psikiater?" tanyanya.
"Saya sudah ajukan. kita tunggu konfirmasinya hari ini. karena beberapa psikiater yang bekerjasama dengan kita sedang sibuk." jelasnya.
"baik, saya tunggu info selanjutnya pak. terima kasih, saya pamit dulu." ujarnya sambil undur diri.
kepala kepolisian kembali memeriksa pesan masuk di email. dia juga ingin sekali segera mendapatkan jawaban agar tahanan yang mengalami gangguan jiwa bisa segera ditangani dan dipindahkan ke rumah sakit jiwa.
pihak kepolisian berusaha dengan keras agar bisa menanyai Cornelia mengenai kejahatan yang telah dilakukan olehnya. pihak kepolisian belum bisa menindak lanjuti kasus yang di ajukan oleh Jonathan. kesehatan jiwa tersangka yang sedang tidak baik-baik saja membuat penyelidikan menjadi terhambat delapan puluh persen.
Beberapa orang yang di tangkap karena membantu melakukan kejahatan sudah memberikan keterangan. namun, hanya berasal dari perkataan saja. sedangkan bukti lainnya belum mendukung. bukti yang di berikan oleh pihak penggugat juga belum bisa di nyatakan sah. belum ada saksi mata lainnya yang membuktikan kalau Cornelia adalah orang atau otak dibalik penculikan Alesya.
.
.
.
keesokan harinya kantor polisi sudah sibuk dengan beberapa kasus baru. mulai dari pencurian, pembunuhan, tauran anak sekolah dan masih banyak lagi.
Kepala kepolisian masih menunggu konfirmasi untuk psikiater yang akan ditugaskan dalam menangani Cornelia. Dia terus menunggu dengan cemas karena takut tidak ada psikiater yang bisa menjalankan tugas. sebab beberapa dari mereka sedang ada dinas di luar kota dan ada juga yang sedang mengurus pasien.
Cling
Dia langsung membagikan kabar berita itu. mereka juga membagikan kepada penghuni lapas.
"akhirnya dia akan pergi juga dari sini. kupingku akhirnya akan bisa tenang juga." ujar salah satu penghuni tahanan.
"Siapa yang akan pergi? kamu ya?" tanya Cornelia dengan senyuman anehnya yang membuat orang-orang bergidik ketakutan.
Matanya sedikit mendelik dengan senyuman yang menyeringai sangat khas dengan orang yang kehilangan akalnya.
Mereka yang melihat merasa ngeri sekaligus geli juga. namun, mereka menyembunyikan rasa geli itu. mereka takut di serang oleh Cornelia. karena yang sudah-sudah orang yang kehilangan akalnya sering kali bertindak brutal.
"Sudah-sudah jangan berisik dan jangan menganggu dia." petugas yang menjaga memberikan peringatan.
Mereka lantas terdiam. Tiga orang penghuni sel tahanan duduk di sisi kanan pojokan sedangkan Cornelia duduk di pojok kiri sendirian bertemakan sepi.
Kepala kepolisian melihat Cornelia dari kejauhan. "hubungi keluarganya. bilang kalau tahanan nomor delapan puluh tiga mengalami gangguan jiwa dan akan dilakukan pemeriksaan fisik dan juga mental. kita butuh persetujuan mereka." jelasnya kemudian kembali ke ruangannya.
Petugas administrasi kepolisian langsung mencari data untuk mencari nomor telepon keluarga Cornelia. mereka langsung menghubungi Darius. Namun, sayangnya Darius tidak menganggap teleponnya. di data hanya tertera nama suami saja yang bisa dihubungi.
"Pak, keluarga tahanan belum bisa di hubungi. saya sudah mencobanya tiga kali, tapi tidak di angkat oleh suaminya." jelas petugas kepolisian.
"hubungi lagi nanti. pastikan mereka bisa dihubungi sampai besok. jika tidak kita harus mengirimkan surat persetujuan langsung ke rumah keluarga tahanan." kepala kepolisian memberikan solusi.
"Siap pak. laksanakan." jawabnya sambil memberi hormat.
Darius sudah tidak ingin memiliki hubungan apapun lagi. dia bahkan sedang memproses untuk pengajuan cerainya ke pengadilan agama.
kini Cornelia tidak hanya kehilangan akalnya, tapi dia juga akan kehilangan suami yang sangat dia cintai seutuhnya. semua yang dia lakukan kini memberikannya buah untuk di petik. Dia sedang menuai apa yang dia tanam. alih-alih kesuksesan dan kepuasan karena bisa menghancurkan orang yang dibencinya. dia malah menghancurkan masa depannya dan kebahagiannya sendiri. mulai dari kehilangan anak, masuk sel penjara, kehilangan akal sampai kehilangan lelaki yang dia cintai.
Semua dibayar kontan secara bersamaan oleh tuhan kepada Cornelia. si wanita jahat yang tidak suka melihat orang lain bahagia. tidak ada manusia yang luput dari karma atas apa yang dia lakukan. Semua perbuatan akan menerima bayarannya sesuai dengan kategori yang dia lakukan. kebaikan atau kejahatan.
Cornelia hanya bisa senyum-senyum sendirian. Dia tidak tahu kalau suaminya sedang bersiap untuk gugatan cerai. Darius sedang konsultasi kepada pengacaranya mengenai perceraian tanpa tahu kondisi intinya saat ini.
"Hahahaah." Cornelia tiba-tiba tertawa.
"Hancur kau Dinniar. lihat anakmu tidak lagi bernyawa. lihat dia tidak bisa bangun lagi. hahahaha." dia bicara sendiri dan di akhiri dengan tawa.
"Anakku ... anakku sayang. kenapa kamu tinggalkan mama sayang. mama tidak mau kehilanganmu. mama sayang kepadamu. kembalikan anakku. kembalikan dia kepadaku." Cornelia tiba-tiba menangis dan marah sambil memegangi perutnya.
Dia teringat kalau dia kehilangan janin di dalam perutnya. dia menangis tersedu-sedu. beberapa yang melihatnya merasa iba.
"dia sepertinya keguguran. kasihan juga dia. sebenarnya dia ini salah apa sampai dipenjara?" tanya salah seorang penghuni sel tahanan.
"Katanya dia menculik anak dari mantan istri suaminya dan sudah dua kali melakukannya. dia sepertinya takut suaminya kembali kepada mantan istrinya. itulah pelakor. pasti hatinya tidak akan tenang. dia akan merasa terancam terus dan takut suaminya berpaling darinya." ujar salah satu penghuni sel tahanan yang sudah cukup lama tinggal di sana.