Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Part 189 ~ Dia menghilang



Alesya dan Tasya bersiap untuk pergi ke area gedung serbaguna milik sekolah harapan. Alesya dengan cepat menyambar tasnya dan menaruhnya di belakang punggungnya. dia lalu berlari keluar kamar dan menuruni tangga dengan sangat cepat.


"Sayang hati-hati jangan lari-lari. Mami takut kamu jatuh Sayang." Dinniar memperhatikan langkah Alesya.


"tenang aja Mami aku nggak bakalan jatuh aku pasti akan hati-hati." Alesya mengecup pipi maminya ketika dia sampai di sisi Dinniar


"kamu mau sarapan di sini atau kamu mau bawa bekalnya aja?" tanya Dinniar sambil menatap wajah cantik putrinya.


"aku bawa aja deh mih. soalnya aku takutnya terlambat oh ya Tasya mana mih?" Alesya menjawab lalu mengajukan pertanyaan.


"adik kamu udah menunggu di depan. katanya dia bekalnya juga mau dimakan di mobil karena, dia takut kamu terlambat sayang." Dinniar menyapu lembut rambut Alesya.


Alesya sangat menyadari kasih sangat Dinniar. dia sangat menghargai setiap kasih sayang yang telah di curahkan oleh Dinniar untuknya. makanya itu dia selalu senang ketika mendapatkan sentuhan dari Dinniar.


"ya udah kalau kayak gitu, aku juga bakalan sarapan di mobil mih." Alesya menyalami tangan Dinniar.


"janji ya kalian harus sarapan, jangan sampai perut kalian sampai kosong. karena acara kalian pasti hari ini padat sekali. Mami nggak mau kalian sampai sakit." pesan Dinniar


"siap Mami. aku nggak bakalan lewatin sarapan. Aku juga bakalan pastiin kalau Tasya akan menghabiskan sarapannya hingga tak tersisa." Alesya kembali memberikan senyuman manisnya.


"ya sudah kamu pergi sana dan ingat selalu hati-hati kabarin Mami atau papa kalau terjadi sesuatu. Mami dan papa akan tiba dia atau tiga jam lagi oke."


"siapa nih Aku berangkat assalamualaikum."


Dinniar melihat Alesya keluar dari rumah. dia tersenyum ketika melihat anak-anak yang sudah tumbuh menjadi anak-anak yang lebih dewasa. dia bangga kepada kedua anak-anaknya bisa saling menjaga saling menghormati dan saling menyayangi meski mereka bukanlah saudara kandung. bagi dia mereka saling menyayangi saja itu sudah sangat cukup dan berharap hubungan ini akan erat sampai kapanpun.


mendapati hari-hari yang sulit yang pernah mereka semua lalui di masa lalu. membuat keluarga mereka sangat rukun dan berjanji akan selalu menjaga keutuhan keluarga. hari-hari berat itu bukan hanya sekedar ujian, tetapi juga sebagai pembelajaran bagi mereka bahwa ada kalanya kehidupan itu berputar tidak sesuai dengan apa yang ada di pikiran kita. dan tidak sesuai dengan apa yang telah kita rencanakan.


Dinniar lalu bersiap untuk memandikan Devano seperti biasa. dia juga harus menunggu ibu mertuanya datang untuk membantu menjaga Devano.


"Anak mami sudah ganteng dan wangi. sekarang kamu main sama mba Surti dulu ya. mami mau mandi dan siap-siap ke acara kakak Alesya dan Kakak Tasya." Dinniar menyerahkan Devano kepada Surti.


"Hai anak ganteng. sekarang sama mba Surti dulu ya. kita tunggu nenek di luar." Mbak Surti membawa Devano keluar kamar.


Dinniar langsung bersiap untuk mandi dan merias diri agar terlihat anggun di cara sekolah karena kebetulan dia juga menjadi salah satu pengisi acara di sana.


Dinniar telah mendapatkan kembali kebahagiaan dan keamanannya setelah kejadian pahit itu menghampirinya. Sedangkan Cornelia tidak pernah mendapatkan apa yang dia inginkan. Semua itu menjadi ambisi yang begitu besar di hati Cornelia dia kini telah menggemparkan seluruh area rumah sakit jiwa dengan hilangnya dirinya.


"Tidak ada. kami sudah memeriksanya ke setiap tempat. kami masih belum bisa menemukannya." satpam memberikan informasi.


"Bagaimana ini? bagaimana kalau dia kabur dari rumah sakit ini? kita semua akan berada dalam masalah yang besar." Eni sangat frustasi dengan hilangnya Cornelia.


"Apa kamu yakin tadi tidak lupa untuk menggembok kembali kamar pasien?" tanya rekan kerjanya yang ikut membantu mencari keberadaan Cornelia.


"Aku yakin sekali kalau sudah menguncinya dengan benar." Eni kembali mengingat kejadian setelah dia memberikan obat untuk cornelia terakhir kali.


"Oh iya, tadi satpam bilang kalau dia menemukan kunci kamu di lantai dekat kamar Bu cornelia. apa dia membuka pintunya dan lari?" ujar rekan kerjanya yang mendengar penuturan satpam tadi.


Eni kemudian mencari kunci ruangan Cornelia. dan dia mendapati kunci itu tidak ada di saku bajunya.


"Benar, kuncinya tidak ada." Eni langsung berlarian untuk menemui satpam itu. dia ingin mendengar langsung dari satpam dan ingin melihat rekaman CCTV.


Cornelia yang sedang dicari-cari malah asik makan dan minum es kelapa di sebuah warung yang jauh dari rumah sakit. Cornelia sangat lahap dalam menikmati makanannya.


"Ah, sudah lama aku tidak menikmati makanan di luar seperti ini sambil menghirup udara segar." Cornelia menatap sekitarnya.


"Bu, boleh saya pinjam ponselnya? saya mau hubungi rekan saya. tadi ponsel saya di curi orang." Cornelia berusaha mencuri simpatik dari pemilik warung.


"boleh." ibu warung itu memberikan ponselnya.


Cornelia langsung menghubungi nomor telepon yang dia sangat hafal. dan dia meminta orang itu untuk menjemputnya.


"Aku tunggu."


.


.


.


siapa yang dihubungi oleh Cornelia?