
Jonathan bekerja seperti biasanya. Dia sedang mempersiapkan berbagai bahan untuk mensukseskan produknya.
"Pak, sepertinya kita harus mencari sekolah atau tempat kursus untuk penayangan iklan ini. Karena ini adalah produk yang berkaitan dengan pendidikan." Jelas sang asisten pribadi Jonathan.
"Akan aku pikirkan lokasinya. Selagi aku mencari lokasi. kalian pikirkan lagi keperluan apa yang dibutuhkan dan persiapkan modelnya." pinta Jonathan.
"siap, saya akan laksanakan dan persiapkan secepatnya." Asisten pribadi Jonathan keluar dari ruangan.
Jonathan berpikir dimana lokasi yang tepat untuk dia pakai sebagai lokasi syuting. dia menginginkan tempat yang strategis dan juga memiliki mutu yang baik agar iklannya kali ini bisa menjulang tinggi.
"Benar juga. Aku harus ke sana dan menemuinya." Jonathan melipat laptopnya dan bergegas keluar dari ruang kerjanya.
Jonathan melewati meja kerja sekertarisnya dan Tanpa pemberitahuan lagi kemana dia akan pergi. Jonathan berlaku begitu saja tanpa sempat sekretarisnya bertanya.
...****************...
Darius yang telah diusir pergi dari rumah Dinniar kini tak kehabisan akal. dia pergi ke penjara. Dia pergi ke sana untuk menemui istri keduanya. Darius pergi dengan hati yang dipenuhi amarah.
Darius menemui Cornelia. Dia tatap wajah wanita yang dulu dia cintai dan membuat dia mengkhianati istri dan putrinya.
"akhirnya kamu datang juga, mas. Aku punya kabar gembira untukmu." Cornelia bicara dengan mata berbinar.
"Simpan saja berita gembira itu. Aku tidak berniat untuk mendengarnya. Aku kemari ingin kamu tahu kalau aku akan menggugat cerai dirimu,"tutur Darius tanpa menatap manik mata istrinya.
"Mas, apa ini? kenapa kamu tiba-tiba bersikap seperti ini? kenapa kamu malah membahas perceraian kita disaat pertama kalinya kamu mengunjungiku. Apa ini permintaan ibumu?" tanya Cornelia.
"Ibu?" tanya Darius.
"Ya, kemarin ibumu menemui ku. Dia bicara banyak. seperti yang kamu tahu dia tidak menyetujui hubungan kita. namun, aku tidak menyangka kalau dia juga memintamu untuk menceraikan ku." Sesak Cornelia.
"Jangan asal bicara kamu tentang ibuku. Meski dia tidak merestui hubungan kita. dia tetap membelamu sebagai sesama perempuan, tapi sayangnya aku tak bisa lagi hidup dengan wanita yang sudah berbuat jahat terhadap putriku. Kamu melakukan penculikan dan bahkan sekarang putriku takut ketika melihatku karena trauma." Jelas Darius.
"Mas, aku mohon maaf untuk hal itu. aku tidak akan pernah melakukannya lagi. ditambah aku sedang mengandung buah hati kita. sudah pasti aku tidak akan pernah berbuat buruk lagi. aku juga menyesali perbuatannya itu." Cornelia bicara sambil mengurai air matanya.
"Jangan bermulut manis Cornelia. aku tahu siapa kamu. kamu adalah wanita yang penuh dengan ambisi. tidak mungkin kamu menyesal semudah itu. lagi pula. keputusanku sudah bulat, aku tidak bisa melanjutkan pernikahan kita." Tegas Darius.
"mas, aku mohon. pertimbangan lagi semua keputusanmu itu. aku sedang mengandung anakmu. Tidak mungkin kita berpisah. karena pengadilan juga akan menghalanginya. tidak diperbolehkan ada perceraian ketika istri sedang mengandung. aku yakin kamu tahu hal itu. Mas, aku mohon berikan aku satu kesempatan untuk bersamamu lagi." Cornelia benar-benar memohon dengan hatinya kali ini kepada Darius.
pria yang dicintainya segenap hati pergi begitu saja meninggalkan dirinya. Cornelia sibuk bersimpuh. Namun, tak dihiraukan. Darius pergi tanpa melihat wajah istrinya.
Cornelia begitu terluka dengan apa yang telah dilakukan oleh suaminya. Dia bagaikan sampah yang dibuang setelah dipakai. Sakit hatinya hingga dia tak sadarkan diri dan di bawa petugas medis dari pihak kepolisian.
Cornelia sepertinya mendapatkan balasan yang setimpal atas perbuatannya di masa lalu. Dia kini ditinggalkan begitu saja tanpa penjelasan yang pasti dan dalam kondisi mengandung. Dibilang kejam itulah dunia. Dia penuh misteri kehidupan dan kapan saja bisa membalikkan keadaan.
...****************...
Suara anak-anak yang sedang bermain di lapangan bagaikan alunan musik yang merdu di telinga salah satu wanita ini. Dia begitu sangat merindukan suara riuh dari dalam kelas dan dari lapangan. Suara mereka begitu sangat berharga baginya. Suara hentakan kaki di lantai karena anak-anak berlari juga begitu membuatnya terhibur. Baginya sekolah ini adalah rumah keduanya. dimana dia bisa melepaskan rasa penat dan juga kesedihannya.
Dinniar sangat menyayangi setiap siswa yang bersekolah ditempat yang menjadikannya kepala sekolah. Dia bisa dibilang akan menjadi kepala sekolah abadi, sebab tidak ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia tidak akan bisa terhempaskan oleh siapapun yang ingin menjatuhkannya.
Tidak akan ada yang berani menggantikan posisinya sebab dia sebagai seorang kepala sekolah sangat berdedikasi dan dapat menciptakan suasana kerja yang begitu damai selama ini. Setiap masalah di sekolah anTara guru dan murid atau guru dan wali murid, bisa dengan cepat dia bereskan. Tidak akan ada pertikaian yang ada hanya perdamaian.
"Din, bagaimana kondisimu sekarang? aku dengan dari Tante, kemarin Darius kembali menemui mu?" tanya Adrian.
"Dia benar-benar pria yang tidak tahu malu. Sudah menyakitimu sekarang dengan mudahnya ingin kembali." Adria bicara penuh rasa kesal.
"Sudahlah, tidak perlu membahas tentang dia lagi. Aku tidak mau memikirkannya. Aku tidak mau membuka luka yang hampir mengering ini." Dinniar menatap sahabatnya itu.
Adrian memang begitu dekat dengan kedua orang tua Dinniar. Kedua orang tua mereka sama-sama bergelut di dunia bisnis yang sama jadi mereka cukup sering bertemu.
Adrian yang selama ini menyimpan rasa kepada Dinniar seakan tidak pernah ada waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya. Dia selalu saja terhalang waktu. Setiap kali dia ingin menyampaikan perasaannya selalu saja kendala menghampiri seakan langit tak mengizinkan dia untuk mengungkapkan perasaannya.
Adria selalu menekan rasa itu dalam-dalam. Rasanya sesak setiap kali dia memikirkan Dinniar. Dia seakan tidak bisa menarik keluar wanita yang dia sukai dari dalam kesedihan. Dia ingin sekali menarik keluar Dinniar dari kejaran Darius.
Tok Tok Tok
Terdengar suara ketukan pintu.
"Biar aku saja yang buka." Adrian bergegas bangun dari duduknya.
Dibukanya pintu ruangan Dinniar dan terlihatlah sosok pria bertubuh tegap dan sedikit berotot dengan setelah jas yang sangat rapi seperti yang biasa di kenakan pria itu.
"Pak Jonathan." Adrian menyapa.
"Ah, selamat siang pak Adrian." Jonathan membalas sapaan Adrian.
"Pak Jonathan? Silahkan masuk pak." Dinniar langsung mempersilahkan Jonathan duduk.
Kini di dalam ruangan itu terdapat dia pria dengan perasaan yang sama untuk satu wanita. Mereka saling berpandangan, seakan saling melempar pertanyaan.
"Ada keperluan apa pak kemari?" tanya Dinniar yang membuat suasana tegang diantara kedua pria itu mencair.
"Oh, begini. Saya ada keperluan dan kebetulan sekali pak Adrian ada di sini juga. Jadi saya bisa sekalian meminta persetujuan." Jelas Jonathan.
"Izin untuk?" tanya Adrian dengan tatapan menyelidik.
"Begini, saya kebetulan ada satu projek iklan untuk produk yang baru saja saya dan team ingin promosikan. Kebetulan sekali semuanya berkaitan dengan pendidikan. Saya berencana akan menggunakan sekolah ini untuk syuting iklan jika di perkenankan." Tutur Jonathan.
"Untuk itu, harus ada proposal resmi dan surat pengajuan resmi. Tidak hanya sekedar ucapan." Tegas Adrian.
"Saya akan segera mengantar proposal dan juga surat permohonan izinnya. Saya kemari untuk menyambung ucapan saja agar saya bisa mendapatkan persetujuan awal sebelum persetujuan resminya." Jelas Jonathan.
"Baik, kamu akan tunggu proposal dan juga surat izinnya. Setelah itu kami akan pertimbangkan semuanya. Dan secepatnya memberikan jawaban." Dinniar mencoba menengahkan.
Dinniar sudah melihat ekspresi bersitegang antara kedua pria yang sedang bersamanya saat ini. Dia tahu bagaimana sikap Adrian jika ada pria yang mulai mendekati dirinya. Adrian juga jelas tahu kalau Jonathan menyimpan rasa untuknya. Jadi sebelum ada sesuatu hal yang tak diinginkan terjadi. Dengan cepat Dinniar memegang kendali suasana.
"Pak Adrian dan pak Jonathan. Hari sudah mulai sore. Dan saya harus bergegas pulang. Mohon maaf saya bukan mengusir, tapi putri saya sudah menunggu. Saya khawatir dia bosan berdiam di kelas sendirian." Dinniar meminta kedua pria itu pergi secara halus.
"Baiklah. Terima kasih atas waktunya." Jonathan lebih dulu keluar dari ruangan Dinniar.
"Aku ke atas dulu." Pamit Adrian.
Dinniar hanya tersenyum getir kepada kedua pria itu. Dinniar akhirnya bisa bernapas lega ketika keduanya pergi. Dia langsung ke ruangan kelas Tasya untuk pulang ke rumah.