Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
BAB 5



Happy reading yaaps..


❤️❤️❤️


"Lihat ini!"


Pria bersetelan jas hitam berkacak pinggang melempar koran dimeja.


"Pah.."


"Liat kecerobohan mu Lou!"


"Sudah papah bilang jangan ceroboh!"


"Louis mana tau ada paparazzi."


"Kamu harus nya sadar jika Kaggen selalu berhubungan dengan media. Papah tidak mau tau, kamu bereskan masalah ini!"


Louis pergi begitu saja. Ia harus mengurus kekacauan yang ia buat. Jika tidak maka Diego akan membunuhnya.


Louis pergi menemui salah satu lawyer nya.


"Don, bereskan kekacauan ku!"


Doni yang sedang bersantai berdecak kesal.


"Lou, masalah nya ini tak semudah membalik telapak tangan besarmu."


"Apa maksud mu?"


"Perempuan yang berada discandal bersamamu merupakan putri bungsu tuan Elden."


"Elden?"


"Ya, dia pengusaha terkenal hampir seperti paman Diego."


"Lalu masalahnya apa?!"


"Elden Rutheger adalah seorang mafia."


Louis memicingkan matanya, seorang mafia?sangat menarik. Kemudian Louis pergi begitu saja setelah mendengar penjelasan Doni.


"Dasar berandalan itu main pergi saja, cih." Gumam Doni.


Louis menjalankan mobilnya menuju sebuah mansion besar. Ditekannya bell. Seorang perempuan membukakan pintu untuknya.


"Pak Louis?!"


Wanita didepannya terkejut, ia hendak menutup pintu kembali, namun pintu nya ditahan oleh lengan kekar Louis.


"Ih, ngapain sih bapak kesini! Saya nggak ada urusan sama bapak ngerti?!"


"Saya ada urusan dengan kamu!"


"Ngapain sih? Nggak penting."


"Penting." Louis ngotot tetap ingin bicara namun wanita didepannya seolah enggan.


"Nggak!"


"Penting!"


"Nggakkkkkkkkk!!!"


"Penting!!!"


"Ihh kok bapak ngotot?!"


"Kenapa juga kamu ngotot dengan saya?!"


"Ya saya nggak mau!"


"Harus mau. Karena ulah kamu saya mengalami kerugian."


"Apasih nggak jelas banget."


"Silla.. yang datang siapa?"


Wanita itu sedikit panik dan gugup.


"Enggak bun.. bukan siapa - siapa!" Teriak Silla.


"Bapak harus pergi dari rumah saya! Cepet sana minggir!!"


"Pradita!" Suara bariton terdengar. Begitu pelan namun mengintimidasi siapapun yang mendengar.


"Pa-pah?"


Seorang pria menghampiri Silla dan Louis. Kesan pertama yang ia lihat bukan semenakutkan yang dibilang oleh Doni.


"Selamat siang om.."


Louis menyelonong masuk begitu saja dan berhadapan dengan papah Silla,Elden.


"Kamu siapa?!"


"Saya kekasih nya Silla om."


Silla melongo tak percaya. Ia kemudian menghampiri papah nya ingin menjelaskan.


"Bukan pah!"


"Sayang.." Louis melotot ke arah Silla. Silla yang dipelototin tak takut balik melotot.


"Tunggu.."


"Kenapa pah?"


"Kamu!" Teriak Elden, terlihat geram.


Louis meneguk salivanya. Salah dugaan sebelumnya, mafia sangat menakutkan.


Elden menarik kerah baju Louis. Silla panik yang melihat papah nya murka dengan Louis.


"Pah.." Silla berusaha menenangkan papahnya.


"Kamu ******** yang membawa putriku ke hotel!"


Silla meneguk salivanya gemetar. Bagaimana papah nya tau?? Ia bisa mati setelah ini.


"Omm.. tunggu dulu om.." Louis berusaha menjelaskan kepada Elden. Ia tak mau mati konyol ditangan Elden.


"Berani sekali kamu merusak putri saya!"


"Pahh.."


"Diam kamu Dita!"


Silla yang melihat kemurkaan papah nya tak berani bicara lagi. Ia harus selamatkan Louis dari kemarahan Elden. Tapi bagaimana caranya??


Silla kemudian masuk meninggalkan Elden yang masih menindas Louis. Louis melongo melihat wanita itu malah pergi saat ia sedang dalam keadaan genting.


Silla menemui bundanya.


"Bun.."


"Kamu kenapa? Ngos - ngos an gitu."


"Ha? Kok bisa?!"


"Ayoo bun.. nanti Louis habis dihajar papah."


Silla menarik tangan bundanya-Aegis. Aegis melihat suaminya sedang mencengkram kerah pemuda itu sambil menghajar wajahnya. Wajah Louis babak belur bukan main, darah keluar dari sudut bibirnya.


"Aiden stop!" Teriak Aegis.


Berhasil, cengkraman pada pemuda itu terlepas.


"Giss.."


"Apa?! Itu anak orang." Aegis tak suka kekerasan. Ia benci, sangat benci.


Silla menghampiri Louis dan membantunya berdiri. Sungguh keadaan Louis mengenaskan, tak ada wajah tampan seperti sebelumnya.


"Tapi ******** ini membuat kesalahan!"


"Kesalahan apa?! Semua bisa dibicaraakan baik - baik."


Aiden hendak menghajar Louis lagi namun suara Aegis membuat Elden berhenti.


"Brani kamu melangkah satu jengkal pun aku akan pergi dari rumah ini!" Ancam Aegis.


"Giss, apa - apa an kamu!!!"


"Itu bukan sekedar ancaman. Kamu tau aku seperti apa Den."


"Shit!"


Elden pergi keatas dengan marah. Sementara Aegis menghampiri Louis.


"Silla, ambil obat."


Silla mengangguk dan pergi mengambil kotak obat.


"Anak muda, kamu tidak papa?"


"Louis tante, nama saya Louis."


Aegis tersenyum hangat.


"Baiklah Louis, maaf kan papah nya Silla. Dia memang tegas, tapi dia sangat baik."


"Baik apanya! Kalau dia baik nggak mungkin habis muka aing.."


"Ahh, iya tant."


Silla datang membawa kotak obat dan mengobati memar diwajah Louis.


"Shhh.." ringis Louis.


"Diem deh! Siapa suruh tadi ngeyel."


"Jangan diteken, orang sakit juga.."


"Udah tau aku suruh pergi tadi malah ngeyel masuk. Sukurin!"


Silla menekan keras luka milik Louis membuat pria itu meringis kesakitan.


"Aww shh."


"Rasain tuh!!"


Silla melempar kompresan dan berdiri berkacak pinggang. Ia bingung bagaimana menangani amukan papahnya. Walau Aegis berhenti melerai pertengkaran bukan berarti wanita itu aman setelah ini. Ia bisa digantung di menara setan kalau gini caranya.


"Dita, masuk!"


"I-iya pah.."


Silla masuk dan naik. Ia berharap setidaknya Louis bisa hidup - hidup keluar dari rumahnya.


Elden duduk begitu juga Aegis yang duduk disampingnya.


"Kedatangan saya untuk bertanggung jawab."


"Maksud nak Louis?" Aegis bertanya.


"Saya telah meniduri Silla."


Elden mengepalkan tangannya hendak berdiri menghajar Louis namun ditahan Aegis.


"Tanggung jawab bagaimana maksud nak Louis?"


"Saya akan menikahi Silla."


"Tidak, tidak setuju!"


Bukan Elden melainkan Silla yang mematung ditangga. Silla melempar sandalnya ke arah Louis.


"Enak aja kalau ngomong! Silla nggak mau nikah sama dia pah.."


Elden hanya menatap keduanya tajam. Silla berlutut didepan papah nya. Ia tak mau menikah dengan Louis.


"Pahh.. Silla bakal jadi anak yang berbakti untuk papah janji nggak sering bolos kuliah, nggak ke klab lagi, nggak makan permen terus.. tapi Silla nggak mau nikah sama tempe orek ini pahh.." Silla melirik Louis tajam. Ingin rasanya ia sumpal mulut Louis pake *** ayam.


"Jadi selama papah pergi kamu sering seperti itu?"


Mati, ia keceplosan. Double sudah kesialannya. Ia meruntuki mulut sialannya ini.


"Nggak gitu pah.. ya-"


"Bulan depan." Elden bicara tegas.


"Bulan depan? Maksudnya?" Jawab Silla membeo.


"Pernikahan kalian."


"Haa!!"


"Bawa orang tua kamu kemari." Tunjuk Elden pada Louis.


"Pah, tapi-"


Elden mengangkat tangan tak ingin dibantah. Sementara Silla frustasi setengah mati.


Elden berdiri dan masuk begitu saja menyisakan Silla yang ingin menangis mendengar keputusan Elden.


"Arghhh sialan! Semua gara - gara bapak tau!"


"Apa calon istri?"


"Diem ya jijik!"


"Jangan gitu calon istri.."


"Diem atau gue santet tau rasa lo!!"


Louis tertawa melihat kemarahan Silla. Ia gemas bukan main, dia merasa suka semakin menjahili wanita itu.


"Calon istri.."


"Shut up your mouth ******!"


Tbc!