
Dinniar kembali ke rumahnya bersama dengan jonathan. di rumah ketiga anak mereka sedang menunggu.
anak-anaknya langsung berlarian untuk memeluk mereka karena rindu. baru saja kedua orang tua ini pulang terlambat rindu sudah mengisi seluruh relung hati ketiga anak-anaknya. hal ini yang membuat pasangan suami istri ini tidak bisa berjauhan lama dan tidak rela jika hal apapun memisahkan mereka semua.
"Kalian sudah makan malam?" tanya jonathan kepada ketiga anaknya.
"kita tunggu papa dan mami pulang biar bisa makan malam bersama." jawab Alesya sambil menggandeng tangan jonathan.
jonathan tersenyum dan membawa mereka semua ke dalam ruang makan untuk makan malam bersama.
masakan sudah terhidang dan masih hangat. wangi maskan sudah membuat perut mereka semua keroncongan segera dinniar menyendokkan nasi serta lauk-pauk serta sayur mayur untuk mereka semua. kehangatan keluarga selalu mereka ciptakan setiap harinya.
makan malam bersama dengan keluarga memang adalah momen indah sebelum mereka beristirahat. dinniar dengan senyuman diwajahnya menatap satu persatu wajah anak-anaknya. dia juga menatap mesra wajah sang suami.
Malam semakin larut selesai makan malam dan sedikit bercengkrama dengan keluarga kecilnya yang bahagia. Mereka semua kembali ke kamar masing-masing dan beristirahat.
"Selamat tidur mami dan papa." Devano tersenyum dengan manis.
Dinniar dan jonathan masuk ke dalam kamar mereka sambil bergandengan tangan.
"Anak-anak kita tumbuh dengan sangat baik. Alesya tumbuh menjadi sosok kakak yang penuh perhatian dan sangat menjaga adik-adiknya." Ujar Dinniar sambil menutup pintu kamar.
"Itu semua berkat mamanya yang sangat baik dalam mendidik dan selalu memperhatikan tumbuh kembang mereka. Hanya sepertinya. Devano memiliki sifat seperti ku. Semoga tidak seratus persen seperti aku." Jonathan menghela nafas panjang.
"memangnya kenapa? Apa ada yang salah dengan sifatmu?" Tanya Dinniar yang seolah tak memahami sifat suaminya.
"Kamu tahu sendiri aku seperti apa. Kaku dan sangat menyebalkan ketika berpapasan dengan orang baru. Dan seringkali memendam perasaan sendiri karena tidak terlalu percaya kepada orang lain." Jelasnya.
"Sosok itu justru yang membuat aku menjadi nyaman. Dan sangat bahagia saat bersamanya. Kamu itu penuh kehangatan. Hanya saja perlu bertemu dengan orang yang tepat." Ucap Dinniar sambil tersenyum lebar.
"Dan orang yang tepat itu kamu. Hanya kamu seorang." Jonathan mencubit gemas ujung hidung sang istri.
Setelah berbincang sedikit mereka memutuskan untuk tidur. Dinniar dan jonathan tidur sambil berpelukan. Mereka selalu mesra dimanapun berada.
.
.
.
Pagi menjelang, semua kembali beraktivitas seperti biasanya. Dinniar sibuk dengan mempersiapkan makan pagi untuk anggota keluarga dan juga bekal untuk anak-anak mereka.
"Wah ... Harum sekali mami masakannya. Aku yakin ini pasti chicken Cordon blue kesukaan papa." Tebak Alesya yang lebih dulu siap daripada kedua adiknya.
"Kakak tahu betul." Senyum Dinniar
"Tahu dong. Masakan mami itu semua aku hafal. Aku sangat suka semua yang mami buat. Hampir semuanya menjadi menu favorit kakak." Puji putri sulungnya.
"Kamu ini paling bisa ya kalo bagian nyenengin hati mami." Goda Dinniar.
Anak menggemaskan dengan bobot badan yang sekal dan berkulit putih itu membuat semua orang ingin mencubitnya sangking gemas.
"Semua sudah siap. Ayo kita Sapan pagi bersama. Papa belum turun kak?" Tanya Dinniar kepada Alesya.
"Belum mih. Masih di atas kayaknya." Jawab Alesya.
"Kalian makan dulu bersama. Mami mau lihat papa dulu." Dinniar membuka apronnya dan bergegas naik tangga menuju ke kamar.
Sesampainya di depan pintu kamar. Dia mendengar percakapan suaminya dengan seseorang di telepon. Sepertinya jonathan sedang mendapatkan masalah seputar pekerjaan di hotel. Pekerjaan di hotel dan juga pekerjaan di perusahaan pribadi semua di pegang sendiri oleh Jonathan.
Selesai suaminya berbincang. Dinniar masuk ke dalam kamar dan memeluk suaminya dari belakang dengan erat.
"Kenapa sayang?" Tanya Jonathan.
"Seharusnya aku yang bertanya. Kamu sedang ada masalah apa di hotel. Bolehkah aku tahu? Siapa tahu aku bisa membantunya." Tutur Dinniar.
"Ada masalah mengenai tenaga kerja yang mengalami cedera saat renovasi taman. Kebetulan di sana hanya ada dua titik yang ada cctv. Hanya saja itu tidak menjangkau keseluruhan. Sehingga aku sulit menemukan apakah itu kelalaian kita atau kelalaian dari developer yang membangunnya. Kamu tidak perlu khawatir aku sudah mengurusnya. Tinggal melihat hasilnya saja." Tutur jonathan sambil membalikkan badan dan mengecup kening istrinya.
"Kalau kamu butuh cerita. Ceritakan saja kepadaku. Meski aku sedikit mengerti. Setidaknya kamu bisa mengeluarkan unek-unekmu." Dinniar bicara sambil memakaikan dasi suaminya.
Mereka berjalan keluar kamar dan menuju ruang makan untuk sarapan bersama dengan anak-anak mereka.
"Selamat pagi kesayangan papa." Jonathan mengecup kening mereka satu persatu.
"Ayo pah makan. Mami bikin masakan favorit papa." Tutur Tasya.
"Wah, sepertinya mami punya maksud nih bikinin papa masakan favorit." Ujarnya sambil mengerlingkan satu matanya kepada Dinniar.
"Kamu ini bisa ajah. Emangnya aku baik kalo ada maunya ajah?" Tanya Dinniar sambil bercanda.
"Ya, siapa tahu gitu." Jonathan tertawa kecil.
"Sudah jangan menggodaku terus. Kita makan saja. Nanti kalian terlambat." Kata Dinniar.
"Kamu hari ini ke butik?" Tanya Jonathan.
"Hem, benar. Aku harus ke butik. Ada design baru yang harus aku berikan kepada staff dan tukang jahit." Jawabnya.
"Ya sudah nanti makan siang denganku. Aku mau mengajakmu ke suatu tempat." Jelasnya.
"Kemana? Papa dan mami mau kemana?" Tanya devano penasaran.
"Urusan kerja sayang ini." Jonathan tahu maksud pertanyaan putranya.
"Okeh. Tapi kalau Sabtu papa harus ajak kita ke mall ya. Aku sudah lama tidak ke sana." Pinta Devano
"Baiklah. Papa berjanji." Jonathan bicara dengan bersemangat.