
Darius masuk ke dalam kantor Lancer Group. Dia kemudian membuat keributan dengan meminta untuk bertemu CEO Lancer Group.
"Maaf, Pak. Jika ingin bertemu dengannya harus membuat janji terlebih dahulu. Terlebih hari ini beliau sedang tidak mau di ganggu." Jelas seorang pria yang berjaga tidak jauh dari ruangan Jonathan.
Darius tetap memaksa untuk masuk dan menerobos, tapi tubuhnya tertahan dua orang itu. Dua orang yang bertubuh besar dan berwajah garang.
"Dengar, kamu bisa bersikap sangat kasar jika anda bersikeras ingin masuk dan menemui Bos kami." salah satu pria itu mengancam Darius.
"Haaa! Saya tidak perduli. Saya mau bertemu dengan CEO perusahaan ini!" teriak Darius.
.
.
Dinniar mengunjungi satu persatu kelas untuk mengecek kondisi kelas.
Dinniar juga sekarang lebih aktif lagi dalam memantau kelas setiap istirahat tiba. Memang anak tidak hanya bergaul disekolah dan tidak hanya berteman dengan sesama murid. Mereka berinteraksi dengan siapapun di luar sekolah. Hanya saja bagi Dinniar dia ini memaksimalkan pendidikan dan pengawasan di sekolah agar di dalam sekolah tidak terjadi situasi seperti beberapa waktu lalu.
"Siang, Bu." Salah satu guru menyapa.
"Siang. Gimana kondisi kelas kondusif?" tanya Dinniar.
"Situasi aman terkendali, Bu." lapornya.
Memang setelah kejadian waktu itu situasi tetap aman terkendali. Kejadian yang hanya akan terjadi cukup sekali saja.
Dinniar meneruskan berkeliling kelas dan sesekali ikut bermain atau menciptakan permainan untuk anak-anak yang sedang istirahat di kelas.
"Hore, Bu Dinniar emang hebat." Alesya terlihat girang ketika dia sedang bermain dengan Dinniar.
Mereka semua tampak sangat senang dengan suasana baru sekolah. Guru ikut dalam permainan mereka dan mengajak bermain ketika istirahat.
Guru dan kepala sekolah memang harus pintar dalam menciptakan suasana dan kreatif dalam mengelola kelas.
.
.
Suami istri itu berjalan sambil bergandengan tangan.
"Kita langsung kerumah mereka atau pulang dulu ke rumah kita?" tanya suaminya kepada Sang istri.
"Kita langsung kerumah mereka dulu. Aku sudah rindu dengan cucuku." Istrinya bergelayut manja.
Pasang fonomenal ini sangat mesra sepanjang perjalanan pernikahan mereka. Mereka selalu kemapuan berdua dan selalu bersama dalam suka dan duka. Meski kehidupan mereka tidak mulus, ada jatuh bangunnya. Namun, mereka selalu kompak dan selalu support.
"Dia pasti sudah sangat besar. Aku sangat ingin memeluknya." Nurmala merindukan seorang anak kecil yang sangat mengingatkannya kepada putrinya saat kecil.
"Silahkan, Nyonya dan Tuan." Salah seorang penjaga membukakan pintu mobil.
Baiklah sepasang suami istri itu ke dalam mobil dan siap mengunjungi rumah putri mereka.
.
.
Mendengar ada ribut-ribut di luar ruangan kerjanya. Jonathan meminta Rendy untuk memeriksanya.
"Pak, ternyata di luar Pak Darius memaksa ingin bertemu dengan anda. Apa perlu saya panggilkan bodyguard Bapak?" tanya Rendy.
"Tidak perlu. Aku akan menemuinya. Aku ingin membuat perhitungan kepadanya."
Kaki jenjang itu mulai menapakkan kaki ke luar ruangan. Dia menampakkan dirinya dengan sejuta pesona membuat seluruh yang melihat terpana.
"Kamu mencari ku?" tanya Jonathan setelah keluar dari ruang kerjanya.
Darius terdiam ketika melihat pria yang tadi pagi dia temui di depan gerbang sekolah harapan.
"Kamu?" tanyanya.
"Ya, aku. Aku adalah CEO di sini." Jonathan mendekat ke Darius.
"Siapa kamu sebenarnya?"