
Melinda yang akan berangkat bekerja mendapatkan sebuah surat kaleng. Dia terkejut membacanya.
"Siapa? Siapa yang mengirimi aku ini? Apa ada orang yang tahu tentang rencanaku?" Melinda gemetaran membaca surat itu.
Melinda meremas kertas yang dikirimkan untuknya dan membuangnya di tempat sampah. Dia lalu menaiki mobilnya dan pergi bekerja.
Dalam perjalanannya menuju ke hotel. Pikiran Melinda semakin gusar. Hatinya menjadi tidak tenang. Dia takut kalau sampai usahanya gagal karena orang yang mengirimi surat kepadanya itu.
"Sial! Siapa yang mengirimi aku surat?" Melinda memukul stir mobilnya dengan kuat.
Dia terus berpikir siapa kita-yabg bisa mengiriminya surat itu dan mengetahui rencananya.
"yang mengetahui rencana asliku. Hanya aku dan papa saja. Tidak mungkin ada yang tahu. Anak buahku juga hanya tahu sedikit. Apa mungkin Evelin? Tidak mungkin. Anak buahku sudah menyingkirkannya."
flashback saat di bar.
Melinda mengumpulkan dua anak buahnya. Dia memberikan sebuah botol kecil berisi cairan. Melinda memerintahkan anak buahnya menuangkan cairan racun itu di minuman khusus untuk Evelin.
"saat aku memulai aksi. Kalian harus bersiap untuk membuang jasadnya ke sungai. taruh botol obat ini di genggaman tangannya. aku mau dia dikabarkan meninggal karena bunuh diri." jelas Melinda.
Setelah memerintahkan hal keji itu. Melinda kembali ke ruangan depan untuk bergabung dengan para staff hotel.
Flashback off
Melinda melangkah dengan sangat kesal. Dia tidak akan membiarkan Rencananya gagal. Dia ingin mendapatkan Jonathan sebagai miliknya.
"Siapa yang berani bermain-main denganku. Aku akan pastikan dia lenyap dari muka bumi ini." ujarnya sambil memukul stir mobil.
Aksi kesal Melinda membuat mamanya keluar rumah dan menghampiri putrinya.
"Melinda kamu kenapa?" tanya mama Kamelia sambil mengetuk kaca jendela mobil.
Melinda menurunkan kaca mobil. "Aku tidak apa-apa, mah. Aku hanya terlalu bersemangat untuk ke hotel." jawabnya sambil tersenyum kaku.
"mama kira ada apa. Kamu mengagetkan mama saja sayang. Ya sudah kamu segera berangkat. Hati-hati dijalan. Jangan ngebut-ngebut." pesan mama Kamelia.
Melinda mengarahkan mobilnya menuju ke hotel. Dia di dalam perjalanan terus memikirkan surat kaleng yang diterimanya.
Melinda turun dari dalam mobilnya. Dia berjalan masuk ke dalam hotel dan banyak mata yang memandangnya.
"Apa benar pak Jonathan tidur dengannya?"
"menurutku dia jauh sekali dengan Bu Dinniar istri pak Jonathan."
"benar, Bu Dinniar sangatlah anggun dan baik juga. dia itu seperti nenek lampir. Kalau sudah marah menyeramkan."
para staff saling bersahutan membicarakan Melinda. Banyak dari mereka yang tidak percaya kalau Jonathan melakukan hal kotor itu. Sebab mereka sudah lama sekali bekerja di hotel dan Jonathan bukan tipe laki-laki yang genit kepada wanita.
"kalian ingat saat kita dipaksa ikut acara pesta penyambutan Bu Dinniar olehnya? Dia mengancam memecat kita kalau tidak hadir. Aku sampai tak habis pikir."
"benar, padahal tanpa mengancam pun. Kita akan datang. Siapa yang tidak mau ikut acara pesta."
Melinda terus dibicarakan oleh banyak orang. Semua orang tidak percaya kalau Jonathan mengkhianati Dinniar. Mereka lebih percaya kepada Jonathan dibandingkan dengan berita-berita yang menuding pria yang terkenal dingin sejak dulu.
Dengan Rasa kesal dihatinya. Melinda masuk ke dalam ruangan dan membanting pintu. Melinda melipat tangan di dada dan mondar-mandir di dalam ruangannya.
"Kurang ajar. Mereka malah bergunjing tentang aku di belakang. lihat saja nanti. Aku akan benar-benar memecat kalian semua." kesal Melinda.
Melinda sangat tidak suka jika ada orang yang membicarakan dirinya. namun, dia harus bersikap tenang. Jika dia mengambil langkah yang salah. Malahan nanti semuanya akan berantakan.
"tenang Melinda. Kamu harus tenang. Jika kamu meladeni mereka sekarang. Kamu akan terlihat salah. dan mereka tidak akan bersimpati kepadamu." Melinda menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan demi mendapatkan ketenangan dalam dirinya.
Sebagai anak perempuan satu-satunya di dalam keluarga. Melinda lebih mudah marah. Dia sering kali mengancam dan bahkan membuat orang menyesal karena telah berbuat ulah kepadanya.
.
.
.
"Kalian sedang membicarakan apa?" tanya Dinniar.
"ah, tidak, Bu. Kami sedang ngobrol tentang makanan saja." mereka langsung bubar dan kembali bekerja.
Dinniar masih memperhatikan mereka semua. Dinniar ingin menegur, tapi dia rasa itu tidak penting. Semua orang punya pandangan masing-masing dan juga punya hak bicara tentang pendapat mereka.
Dinniar kembali melangkah dan pergi menuju ruang kerjanya. Dia ada banyak sekali pekerjaan yang harus di handle selama dia dan Jonathan tidak bisa terlihat bersama. Dia hanya bisa membahas semuanya bersama kalau sedang berada di rumah lamanya.
Dinniar juga tidak bisa pulang bersama dengan Jonathan ke rumah mereka karena orang-orang Melinda masih sibuk untuk mengawasi.
Dinniar duduk di kursinya dan mengurus kembali tentang kerja sama yang pernah di jalankan oleh Melinda. Dia memeriksa kembali dokumen yang sudah di susun oleh timnya dan dia juga menandatanganinya setelah semuanya benar tersusun.
Dinniar melihat layar ponselnya. Ternyata suaminya tadi menghubunginya. Dinniar langsung menghubungi Jonathan kembali.
"Halo mas. Ada apa?" tanya Dinniar.
Saat dia selesai telepon dengan suaminya. Dinniar keluar ruangan dan pergi menuju parkiran mobil.
Jonathan meminta Dinniar untuk ketemuan dengannya di rumah sakit. Jonathan sudah mendapatkan kabar kalau Evelin sadarkan diri dari anak buahnya yang berjaga di rumah sakit.
Dinniar sangat senang mengetahui kalau Evelin sudah bangun dari tidurnya yang cukup panjang. Dinniar mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang cukup membuatnya sampai di rumah sakit dalam waktu lima belas menit.
Sesampainya di rumah sakit. Dinniar disambut oleh sang suami dengan pelukan. Sudah beberapa hari ini mereka tidak leluasa untuk bertemu. Jadi dikala bertemu mereka gunakan untuk melepas rindu.
"Bagaimana dengan Evelin?" tanya Dinniar setelah puas berpelukan.
"Kondisinya berangsur-angsur membaik. Sonia sedang memeriksanya." tutur jonathan.
"kalau begitu kita harus menemuinya."
Dinniar dan Jonathan berjalan menuju ruangan pasien. Dinniar tidak sabar ingin bertemu dengan Evelin. Meski Evelin adalah mantan ke kasih suaminya dan masih mencintai suaminya. Dinniar sudah menganggapnya sebagai teman.
Dinniar membuka pintu ruangan pasien. dia lihat Evelin masih dalam pemeriksaan.
"Hai, Dinniar." sapanya dengan senyuman yang lebar.
Dinniar menghampiri Evelin. " hai Evelin. Bagaimana kondisimu?" tanya Dinniar.
"Aku sudah sangat jauh lebih baik. Ini semua berkat dirimu yang tanggap dengan keadaanku. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana jadinya jika kalian tidak mengubah rencana Melinda. aku pasti sudah tidak ada di dunia ini." Evelin menangis haru.
Dia sangat berterima kasih kepada Dinniar yang sudah menjadi penyelamat baginya. Mereka saling berpelukan. Dinniar juga menitikkan air mata.
"Dinniar, apa kau melihat tasku?" tanyanya.
"Tas? Tunggu sepertinya anak buah Rendy yang merapikannya. apa kamu butuh cepat?" tanya Dinniar.
"Tidak, kalau tas itu aman. Berarti barang buktinya juga aman." ucapnya.
"barang bukti? apa maksudmu?" Dinniar tidak mengerti.
"Aku merekam semua perkataan Melinda saat dia mengajakku untuk bergabung dalam rencananya. Itu bisa dijadikan bukti bahwa dia merencanakan kejahatan ini. Aku harus melakukan itu sebagai jaga-jaga kalau aku berubah pikiran. Maafkan aku Dinniar. Aku awalnya ingin mengikuti rencananya." Evelin merasa malu kepada Dinniar.
"kamu termasuk dalam rencana?"
"benar. Dia membujukku untuk merebut Nathan. Dia bilang aku harus tidur dengan Nathan agar bisa merusak hubungan kalian dan bisa memiliki Jonathan lagi. aku sempat menyetujui idenya itu. Namun, saat sampai di rumah. Aku banyak berpikir. untuk apa aku memiliki raganya, tapi hatinya masih tetap milik orang lain. Aku tidak bisa hidup dengan raganya saja. Jadi aku putuskan untuk tidak melakukannya. Namun, ternyata. Dia malah ingin membunuhku." urainya kepada Dinniar.
"Dia benar-benar sangat licik. Dia sudah berbuat kriminal. aku akan meminta anak buah Rendy membawakan barang-barang mu." Dinniar lalu menghubungi Rendy.