Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Part 211 - Sebuah kisah



Alesya yang sedang membaca buku di ganggu oleh adiknya Tasya. Tasya merengek ingin melihat apa yang sedang dibaca oleh kakaknya kali ini. dia memang selalu ingin tahu apa yang sedang dilakukan oleh kakaknya itu.


Alesya yang melihat betapa lucunya Tasya yang sedang merengek membuat dirinya menjadi tertawa dan mencubit gemas pipi sang adik.


"kalau papa tahu kamu merengek terus kerjaannya. pasti papa akan menggelitik kamu agar berhenti merengek seperti ini." Alesya menggelitik pinggang adiknya


Tasya menjadi tertawa karena kakaknya menggodanya dengan menggelitik pinggangnya.


"Tasya kahanya ingin tahu apa yang sedang kakak baca. Tasya ingin lihat juga." rengek Tasya lagi.


"baiklah kakak akan menceritakannya." Alesya mulai membuka halaman yang tadi dia buka untuk dia ceritakan kepada adiknya yang sudah merengek manja.


sangking sayangnya Alesya kepada Tasya dia membacakan dua buku sekaligus. Dia ingin membagikan kisah tentang


Aldi terbangun melihat atraksi di depannya seorang laki-laki seusia ayahnya sedang melakukan adegan yang berbahaya anehnya tidak ada setetes darah pun yang menetes seakan-akan benda tajam itu tidak terasa tajam dan tidak menyayatnya Padahal tadi jelas benda tajam itu sudah diperagakan untuk memotong bambu bambunya pun sudah terbelah .


Aldi pun merasa ngeri saat melihat seorang anak mengunyah serpihan kaca dengan tenangnya seakan-akan serpihan kaca itu sepotong roti tawar yang lembut dan enak lalu masih ada lelaki muda yang tubuhnya dibakar ajaibnya Ia tetap tenang dan tersenyum kepada penonton.


"Apa yang sedang dia lakukan Kak?" tanya Tasya kepada Alesya.


"itu namanya mereka sedang melakukan aksi debus. debus hanya dilakukan oleh orang-orang yang ahli saja bukan orang-orang seperti kita." jelas Alesya kepada adiknya.


"Kakak akan bacakan kembali ya ceritanya dek."


Karena tidak tahan lagi Aldi buru-buru pulang ke rumah sepanjang jalan ia merasa mual jika mengingat atraksi yang baru ditontonnya anehnya tidak ada satu orang pun yang melarang orang-orang tadi melakukan kegiatan itu bukankah membakar diri itu bahaya padahal di sana ada banyak bapak-bapak dan ibu-ibu menontonnya Ahmad yakin kalau dia melakukan itu pasti Bapak dan ibunya akan memarahinya.


lari Aldi semakin kencang begitu rumahnya terlihat dia ingin cepat-cepat sampai rumah dan menceritakan peristiwa itu kepada ibunya Siapa tahu ibu bisa mencegah orang-orang itu berbuat hal-hal yang membahayakan diri mereka sendiri.


setelah membuka sepatu dan mengucapkan salam Aldi langsung menerobos ke ruangan keluarga mencari-cari ibunya.


Ibu Ibu di mana?


ternyata ibunya sedang menidurkan adiknya di kamar.


Ibu di sini. Ali melambaikan tangan ke arah ibunya. Ibu memberi isyarat agar jangan berisik sepertinya Adik baru saja tidur Ibu juga memberi tanda agar Aldi mencuci kaki dan tangan.


Aldi menurut setelah menyimpan tas sekolahnya Dia pun segera mencuci kaki dan tangannya sebelum mencuci tangan dia sempat membuka tutup saji. Aldi ingin tahu apa Menu hari ini.


"Kak aku jadi lapar setelah dengar tutup saji. apakah kita bisa makan dulu baru kita teruskan lagi ceritanya." ajak Tasya kepada kakaknya Alesya.


"okeh kalau begitu. sebentar kakak lipat dulu bagian terakhir kita baca." Alesya menandai halaman terakhir yang dia baca.


Tasya dan Alessia mencuci tangannya setelah mereka sampai di dapur.


"Bi aku mau makan." kata Tasya. kepada Bi Imah.


"bibi sudah memasak dan ada di meja makan." jawab BI Imah.


Tasya langsung mengambil piring untuk makan siang dahulu. dia lihat sepertinya maminya sedang di dalam kamar dan sedang memberi ASI kepada Devano. maminya memang belum keluar kamar dari tadi.


Tasya dan kakaknya menyantap makanannya dengan sangat lahap. hari ini di Imah memasak semur ayam dan juga sayur bayam serta tahu goreng. menu itu adalah menu-menu kesukaan dari Tasya dan juga Alesya.


kedua kakak beradik yang tidak saudara itu memiliki hobi serta makanan kesukaan yang sama. makanya mereka para asisten rumah tangga tidak begitu kesulitan untuk memasak hidangan makanan.


usai makan siang Tasya mencuci tangannya. Rena maminya selalu mengajarkannya seperti itu. setiap kali habis makan Tasya pasti akan membawa piring serta gelas bekas ia pakai ke tempat cucian piring untuk nanti dicuci oleh Bi Imah atau mbak Surti. semua itu sudah diajarkan oleh maminya sejak ia duduk di taman kanak-kanak.


saat Tasya melihat diniar keluar dari kamarnya bersama dengan Devano. Tasya buru-buru bercerita tentang apa yang tadi diceritakan oleh kakaknya. Tasya bercerita dengan begitu menggebu-gebu. dia juga bertanya kepada diniar tentang apa yang dilakukan oleh orang-orang tersebut.


"Mami bukankah itu berbahaya? seharusnya kan tidak dilakukan oleh kita?"tanya Tasya kepada Maminya.


Dinniar tergelak. Tasya pun merasa bingung.


"sayang itu namanya debus nak. debus itu salah satu kesenian bela diri tradisional dari Banten."urai Dinniar.


Dinniar lalu menjelaskan tentang asal usul debus dan cara orang-orang itu agar tidak terluka.


"debus itu jenis beladiri yang berkembang sejalan dengan perkembangan Islam di Banten. dulu debus digunakan untuk membangkitkan semangat juang menentang penjajah Belanda."


Tasya mendengarkan dengan penuh perhatian.


"orang-orang itu harus melakukan ritual yang berat sebelum pertunjukan. mereka juga harus memiliki iman yang kuat agar tidak terluka. tidak boleh melanggar ajaran agama juga." urai Dinniar lagi.


"debus mengajarkan keberanian untuk melawan kejahatan. ini bukan atraksi untuk pamer para pemain debus harus taat beribadah."


Tasya terdiam sejenak. dia memikirkan kata-kata maminya barusan.


"Jadi kalau aku mau sekuat mereka aku harus taat beribadah ya Mami?"tanya Tasya kepada Maminya.


"semua orang yang taat beribadah dan beriman kepada Allah subhanahu wa ta'ala. pasti akan kuat. kuat menghadapi perjalanan hidup yang panjang dan penuh dengan ujian. itulah makanya Mami selalu mengajarkan Tasya untuk salat tepat waktu dan selalu beriman kepada Allah."jelas Maminya.


"kalau begitu aku juga mau main debus mami." ucap Tasya.


Alesya dan maminya kemudian tertawa mendengar ucapan anak kecil itu. meski dia sudah jelas dua sekolah dasar tetap dia sangat polos dan menggemaskan.


"Siapa yang mau belajar debus?" tanya Jonathan yang sudah sampai dirumah.


"ini lho pa si Tasya mau belajar debus katanya." jawab Alesya sambil terus cekikikan.


"Sayang kenapa kamu mau belajar terus?" tanya Jonathan sambil mengusap rambut putrinya yang lucu.


"bukan begitu papa. kami bilang debus itu mengajarkan keberanian melawan kejahatan. Tasya harus bisa belajar debus untuk melawan kejahatan ketika menyerang Tasya ataupun orang lain. tadi kan aku bisa bantu untuk menyelamatkan diri." ujarnya dengan cara yang lucu.


mereka semua tertawa keras karena Tasya begitu menggemaskan.