
Jonathan bangun dari ketidak sadarannya. dia melihat di dalam kamar istrinya sedang menatap ke luar jendela. Jonathan yang ingin bangun merasa kepalanya masih sangat berat. dia menghampiri istrinya sambil terhuyung.
Dinniar yang menyadari suaminya sudah bangun. membalikkan badan dan menangkap suaminya yang hampir saja terjatuh.
"sayang. apa terasa pusing?" tanya Dinniar.
"Kepalaku sangat sakit sekali. ada apa sebenarnya?" tanya Jonathan sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit.
"kita duduk dulu." Dinniar membawa suaminya ke kursi.
"minum dulu." Dinniar menyodorkan air teh manis hangat untuk Jonathan.
Jonathan meneguk air teh tersebut dan kondisinya mulai sedikit lebih baik. Jonathan lalu menatap Dinniar.
"Ada apa?" tanya Jonathan dengan suara yang masih lesu.
"Aku ambilkan kamu makanan dulu. aku sudah membuatkan kamu bubur kaldu ayam. Kita pulihkan staminamu dulu. itu lebih penting saat ini." Dinniar meninggalkan Jonathan di kamar dan dia pergi turun ke lantai dasar rumah mereka.
Saat Dinniar masuk ke ruang dapur. dia langsung menuang bubur ke dalam mangkuk. Dinniar menuang dengan tangan yang sedikit gemetar dan tubuh yang sedikit lemas. Dia sejak tadi banyak sekali yang dipikirkan dan tidak sedikitpun makanan masuk ke dalam perutnya.
"Bu Dinniar." Rendy melihat Dinniar menjatuhkan sendok bubur.
"Tidak apa pak Rendy." Dinniar menyeimbangkan kembali posisinya.
Rendy merasa kalau istri bosnya tidak dalam keadaan baik-baik saja. Dia terus memperhatikan sambil memainkan ponselnya.
"apa perlu saya bantu untuk membawanya?" tanya Rendy.
"Terima kasih." Dinniar menyerahkan nampan makanan kepada Rendy.
Dinniar memimpin jalan sedangkan Rendy mengekor di belakangnya. Rendy terus memperhatikan Dinniar yang terlihat sudah lemah dan berjalan tidak fokus.
sesampainya mereka di depan kamar Dinniar mengambil alih kembali nampan makanan yang ada di tangan Rendy dan dia membawanya ke dalam kamar. Rendy menutup pintu kamar bosnya dan menunggu di depan kamar untuk bersiaga.
Dinniar meletakkan nampan makanan di atas meja dan menuangkan kaldu ayam ke dalam mangkuk berisi bubur yang dibuatnya.
"Di makan dulu sayang." Dinniar menyodorkan sesendok bubur.
"Kamu juga makan. aku lihat wajahmu pucat. apa kamu belum makan?" tanya Jonathan yang menyadari kondisi istrinya.
"Aku tidak apa-apa." Dinniar berusaha kuat.
tok tok tok
terdengar suara ketukan pintu dari luar pintu kamar mereka.
"Masuk." teriak Jonathan.
Rendy muncul dari balik pintu. " Maaf, dokter datang untuk memeriksa kondisi pak Jonathan." ujar Rendy dengan sangat sopan sekali.
Tidak salah memang Jonathan memperkerjakan pria muda yang memiliki sikap santun dan sangat sigap itu.
"Silahkan masuk dokter." Dinniar mempersilahkan dokter untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Maaf, apakah saya bisa lebih dahulu memeriksa anda nyonya. dan saya rasa anda butuh di infus." tutur dokter.
"ah, tapi dokter saya baik-baik saja." Dinniar menolak secara halus.
"sayang, sebaiknya kamu ikuti kata dokter. sambil menunggu mu di periksa aku akan pastikan bubur ini habis aku makan." Jonathan gegas mengambil mangkuk dan memakan bubur kaldu ayam yang beraroma khas jahe yang membuat tubuhnya menjadi hangat dan berenergi lagi.
Selesai makan Jonathan keluar dan berbicara dengan Rendy. dia sadar situasi ini tidak berarti baik. dia kemudian bertanya kepada Rendy apa yang terjadi kepadanya terlebih dahulu.
"Jadi aku tidak sadarkan diri selama itu?" tanya Jonathan.
"Benar, Pak. Bu Dinniar membawa anda pulang setelah menghubungi anda beberapa kali dan di jawab oleh pelayan restoran." jelas Rendy.
"saya kesana untuk membeli steak kesukaan Dinniar sebelum menjemputnya di sekolah. namun, bagaimana bisa saya tidak sadarkan diri?" Jonathan menjadi heran mendengar cerita dari Rendy.
"Cari tahu semuanya. apa ada hal lain lagi yang harus saya ketahui?" tanya Jonathan.
"begini pak. nona Alesya menghilang. dan sopir ditemukan dengan kondisi sudah babak belur. pintu mobil juga kacanya pecah. anak buah saya masih mencari keberadaan nona Alesya." Rendy menceritakan dengan perasaan yang sangat takut. dia gugup karena ini menyangkut keponakan kesayangan bosnya yang dirawat sejak kecil.
permata yang berharga itu selalu di jaga dan dilindungi olehnya sejak kecil. dan kini hal yang buruk menimpa keponakannya. baru pertama kali ini ada orang yang dengan gegabah menyentuh hal yang berharga dalam hidupnya.
"Kerahkan anak buah ku. suruh mereka mencari Alesya. temukan petunjuk sekecil apapun dan interogasi supir sampai kita mendapatkan cerita yang pasti. tidak ada yang tahu keberadaan Alesya selain supir, saya dan Dinniar." kata Jonathan.
Jonathan memang masih mengawasi supir yang baru mereka pekerjakan selama dua bulan ini. dia merekrut orang baru untuk dijadikan supir pribadi anak dan istrinya.
"kalau sesuatu terjadi kepada keponakanku. makan aku akan membuat kalian menderita." kecam Jonathan sambil mengepal kedua tangannya.
Jonathan kembali masuk ke dalam kamar dan dia menemui dokter menanyakan tentang kondisi istrinya.
"Sebaiknya besok Bu Dinniar dibawa ke dokter. saya rasa dia sedang mengandung." jelas dokter.
Jonathan terlihat bengong. disaat kesulitan menghampirinya, datang berita yang membuatnya bahagia. namun, saat ini dia bingung harus bersikap bagaimana. dia tidak bisa bahagia dikala kehilangan satu putrinya.
Jonathan menghampiri Dinniar. "sayang, bagaimana kondisimu?" tanya Jonathan.
"Sudah lebih baik. apa kamu juga sudah lebih baik?" tanya Dinniar yang masih mengkhawatirkan suaminya.
"aku sudah sangat baik. aku sudah mengetahui semua kejadian yang terjadi hari ini. Aku harus mengurus semuanya segera. kamu tunggu di sini. jangan banyak yang dipikirkan. aku sudah kembali seperti semula. jadi aku akan membersihkan semuanya. aku akan meminta Tasya dan baby sitter untuk bersamamu malam ini." Jonathan mengecup kening istrinya dan pergi bersama Rendy.
Rendy dan Jonathan membicarakan beberapa hal selagi mereka berjalan menuruni tangga.
"baik, pak. saya akan segera mencari tahu." Rendy bergegas berlari keluar rumah dan memasuki mobilnya.
sedangkan Jonathan menghubungi beberapa pihak yang bisa membantunya terutama Samuel sahabatnya.
"Terima kasih atas bantuannya. berikan kabar jika ada petunjuk." Jonathan menutup telepon.
dia berjalan menuju ke dapur dan menemui beberapa pekerja yang bertugas di dalam rumah. dia memberikan beberapa pembicaraan kepada mereka semua.
"baik. kamu akan melaksanakannya. kami pasti akan menjaga ibu dan non Tasya."
selesai memberikan pengarahan Jonathan keluar rumah dan kembali mengumpulkan beberapa pekerjanya. dia kembali membicarakan beberapa hal dengan para pekerja yang bertugas di luar rumah.
"kalian akan di bantu oleh beberapa bodyguard. mereka akan segera sampai. dua orang akan berjaga di depan pintu pagar. dua orang akan berjaga di depan pintu rumah dan dua orang akan bekerja di dalam rumah. kamu Boim tolong masuk ke dalam rumah untuk ikut mengawasi. hubungi saya jika adalah mendesak yang terjadi. sisanya dari mereka akan berkeliling. saya harap kalian fokus kepada pekerjaan. jangan sampai kehilangan fokus. kalian mengerti?" tanya Jonathan dengan sangat tegas.
"mengerti." jawab mereka dengan serentak.
Jonathan masuk ke dalam mobilnya dan dia langsung mengendarainya untuk pergi ke suatu tempat.