Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Perubahan sikap



Jonathan mendapatkan kabar yang menyegarkan dari anak buahnya. mereka memberitahukan kepadanya bahwa sudah menemukan tempat persembunyian wanita yang selalu mengusik hidup orang lain.  jonathan meminta mereka bergerak perlahan agar cornelia tidak lolos lagi kali ini. dia juga akan memastikan kalau wanita busuk itu tidak akan pernah bisa menghirup udara segar lagi. kali ini jonathan akan lebih waspada dan juga akan lebih ekstrim lagi dalam memperketat penjagaan untuk cornelia.


"Kalian jangan sampai lengah, ingat wanita itu sudah berapa kali berhasil melarikan diri. kali ini kalian jangan sampai kehilangannya lagi. sudah hampir dua tahun dia tidak berhasil ditemukan oleh pihak polisi. jadi kita harus menyerahkannya kepada polisi. kalian semua juga harus menjaga diri jangan sampai terjadi hal yang mencederai diri." pesan jonathan kepada anak buah yang sudah dianggap keluarga.


anak buah jonathan langsung mematuhi semua ucapannya. mereka bergerak seolah bukan sekelompok pemburu. mereka berbaur dengan masyarakat dan terus mengawasi gerak-gerik cornelia dengan seksama. mereka memasang seperangkat alat penyadap dan juga beberapa kamera untuk mengetahui pergerakan cornelia. ada juga yang berjaga di depan dan menjadi satpam komplek.


"Selamat siang, bu." seorang satpam menyapa cornelia dari pos.


Cornelia yang keluar komplek untuk berolah raga terus terpantau oleh orang-orang jonathan. mereka melihat pergerakan cornelia dari kamera pengintai yang di pasang di seluruh titik komplek.


"Dia sepertinya tidak menyadari keberadaan kita." ujar salah satu anggota.


"ya, dia bahkan tidak menyadari adanya perubahan penjaga pintu komplek." sahut yang lain.


"kalau begitu. kita bisa menyusun rencana sekarang. kita perlu langkah yang tepat agar bisa membawanya ke kantor polisi."


cornelia mulai berolah raga ringan di taman dekat komplek rumahnya. namun, tak berapa lama dia duduk dan ada seseorang yang mendekatinya.


"Perbesar gambar." ujar Rendy yang ikut mengawasi.


"Mereka sedang berbicara. suruh kelompok taman bersiap untuk mendekati mereka." perintah rendy yang ingin tahu percakapan diantara cornelia dengan orang asing itu.


seorang petugas kebersihan melewati mereka dan memangkas pohon yang sudah cukup rimbun. selama lima menit dia berada di sana lalu kembali pergi meninggalkan tempatnya. sedangkan cornelia dan orang itu terus berbincang.


"Perbesar volume suara." perintah rendy yang masih terus ikut mengamati.


terdengar dengan jelas apa yang sedang mereka bicarakan meski alat penyadap suara terpasang cukup jauh dari mereka. rendy menyusun rencana dengan sangat matang. mereka kali ini akan menangkap dengan tepat dan membawa kembali cornelia ke dalam jeruji besi.


cornelia beranjak dari bangku taman. dia kembali masuk ke dalam komplek menuju ke rumahnya. tepat di depan pintu rumah cornelia merasakan kegelisahan. dia merasa ada yang mengawasi dirinya. dia lihat sekitar dan buru-buru masuk ke dalam rumah. di dalam rumah dia mengunci setiap pintu dan juga jendela.


Cornelia berdiam diri di dalam kamarnya. dia tidak mau keluar kamar. kebetulan sekali dia beberapa hari ini di rumah sendirian. sahabatnya sedang pulang kampung ke rumah orang tuanya. kecemasan cornelia berawal ketika dirinya di tinggal sendirian. dia takut sahabatnya akan mengkhianatinya. Pemikiran ini berawal dari sahabatnya yang selalu menentang perbuatannya dan meminta izin untuk pulang ke rumah orang tua. dengan alasan orang tua yang sakit.


"tidak-tidak mungkin kan dia pergi ke kantor polisi untuk melaporkan keberadaan ku di sini? Kalau benar, aku harus pergi ke mana lagi. Hanya rumah ini satu-satunya tempat teraman. Kalau pergi ke luar sudah pasti aku harus menggunakan kartu identitas sebagai jaminan. Sedangkan kartu identitas milikku sekarang palsu." Cornelia menjadi semakin kebingungan.


Dia mencoba menghubungi sahabatnya, tapi ternyata sahabatnya tidak bisa di hubungi. operator terus menerus bilang kalau telepon seluler sedang dalam kondisi tidak aktif.


"Kenapa dia tidak bisa dihubungi?" gumamnya.


Hidup bersembunyi memang tidaklah nyaman. Apalagi bersembunyi dari hukum sudah pasti hidup akan seperti di kejar-kejar. Kegelisahan akan semakin menumpuk bukan hanya sekedar takut, tapi juga karena rasa penyesalan yang tak disadari.


.


.


.


"Berarti kamu perlu menyelidiki rumah sakit jiwa dan juga kantor polisi. Kamu amati, dan cari tahu siapa kaki tangannya. Kita juga perlu dia sebagai saksi dan tersangka." kata Jonathan saat mereka berdua berada di kantor.


Rendy mengangguk dan keluar meninggalkan ruangan bosnya. Saat dia keluar, ada Dinniar yang baru datang dan hendak masuk ke ruangan Jonathan.


"Selamat siang, Bu Dinniar." sapanya.


Mendengar Rendy menyebut nama istrinya. Jonathan langsung sumringah. Dia sangat senang sekali kalau jam makan siang istrinya datang. Karena Dinniar biasanya akan membawakan makanan kesukaannya.


"Selamat datang istriku." Jonathan menyambut Dinniar.


"Hai, mas. Kamu semangat banget nyambut aku." Dinniar duduk di sofa.


"Iyah dong. Kamu ke sini pasti mau bawain aku makan siang kan?" tanya Jonathan dan duduk di samping istrinya.


"Yaah, maaf banget, mas. Aku hari ini enggak sempet pulang dan enggak bikinin kamu makan siang deh. Tadi ada client Dateng dan baru selesai tadi. Setelah itu aku langsung ke sini. Mau ajak kamu makan siang di luar."


Jonathan langsung memasang wajah muram. Dinniar langsung merasa bersalah kepada sang suami.


"Kalau begitu, aku akan mengajakmu makan di restoran yang baru buka di area perkantoran dekat sini." Jonathan langsung kembali ceria.


"Aku kira kamu akan marah kepadaku." tutur Dinniar.


"sayang kamu kaya enggak paham aku saja. Mana bisa aku marah kepadamu. Kamu adalah harta paling berharga untukku. Jika aku marah kepadamu itu berarti aku memarahi seorang wanita yang sudah bertaruh nyawa demi anakku." Jonathan mengecup punggung tangan suaminya.


Dinniar menjadi sangat lega. Dia tidak menyangka sebegitu cintanya sang suami kepada dia. Jonathan dan Dinniar lalu keluar dari ruangan dan segera pergi menuju parkiran VIP.


Jonathan membawa sang istri untuk mencicipi bersama restoran jepang yang baru buka seminggu lalu di area perkantoran.


Dinniar dan Jonathan saling berpegangan tangan selama perjalanan mereka. Dua sejoli ini benar-benar menjadi panutan setiap anak muda yang akan menikah dan mereka juga dikagumi oleh rekan kerja yang mengetahui hubungan keduanya.


Dinniar dan Jonathan tiba di restoran dan mereka langsung masuk ke dalam. pasangan suami-isteri itu disambut oleh beberapa pelayan yang berjaga di depan pintu. Dan mereka dibawa ke meja yang kosong.


"Silahkan di pilih menunya." seorang pelayang menyodorkan buku menu.


"Mas Jonathan." sapa seorang wanita muda yang usianya lima tahun di bawah Jonathan.


"Bu Melinda." Jonathan balas menyapa.


Dinniar terkejut mendengar wanita itu memanggil suaminya dengan sebutan 'Mas'.