Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Part 89 - Lampu yang menyala



Sonia, violin dan Dinniar membuat janji temu hari ini. Mereka akan makan malam bersama hari ini. Dinniar sudah siap dan akan berangkat tanpa Tasya.


"Bi, Mba. Saya titip Tasya ya. Mungkin saya akan pulang agak malam." Dinniar menitip pesan sebelum pergi.


Dia tidak membawa serta Tasya hari ini. Karena memang ada pembicaraan yang mereka harus fokus. Dinniar takut kehilangan fokus dan terjadi hal yang buruk lagi kepada putrinya.


Dinniar juga berpamitan kepada Tasya sebelum dia pergi.


...****************...


Sonia dan violin sudah lebih dulu menunggu di cafe esterning bersama suami mereka masing-masing.


"Seru kayaknya kali ini kita kumpulnya. Enggak ada si mahkluk sok baik itu." Sewot Sonia.


"Makhluk Soak baik? siapa?" tanya violin penasaran.


"Siapa lagi kalo bukan Mas Darius." Sonia mencebikkan bibirnya.


"Oh, Iyah benar. Sekarangkan ada si sweet om baik." Violin menggoda sahabat suaminya.


"Eh, aku Dateng enggak apa nih? takutnya Dinniar enggak berkenan." Jonathan merasa tidak enak hati.


"Udah santai ajah bro. Bentar lagikan jadi anggota kita." Samuel menyenggol tubuh sahabatnya itu.


Jonathan dan Samuel saling bertukar senyuman.


Selang tak berapa lama mereka sedang asik mengobrol dan menggoda calon pengantin pria. Dinniar datang menghampiri mereka semua.


"Hai." Dinniar menyapa semua sahabatnya dan menyapa calon suaminya.


"Maaf aku ikut datang." Jonathan menundukkan sedikit wajahnya.


"Tidak apa, Mas. Lagi pula tema hari ini tentang acara untuk pernikahan kita. Meeting kecil." Tawa Dinniar.


Jonathan lega mendengarnya. Dia benar-benar sangat ingin menjaga perasaan wanita yang kelak akan menjadi istrinya. Dia begitu mencintai Dinniar.


"geng, ciwi-ciwi ini kan bestie banget nih. Nah gimana kalau kita bikin group juga bertiga. namanya group ghibahin istri." Bisik Samuel yang terdengar oleh semua orang.


Mereka tertawa lepas setelah mendengar kata-kata Samuel.


"Kamuh tuh yank, ada-ada ajah deh idenya. Jangan bikin esmosi para istri ya. Bisa-bisa enggak dapet jatah malam loh." Violin mencubit gemas pipi suaminya itu.


"eh, jangan bawa-bawa jatah malam dong. Di sini masih ada yang di bawah umur belum pernah tau rasanya jatah malam,"Kata suami Sonia.


"Lagian juga ya, jatahnya cuma dikurangin di malam doang, masih ada pagi, siang dan sore. Bener gak bro?" tanya Samuel kepada suami Sonia.


Mereka kembali tertawa lepas. Semua orang malam ini rasanya sedang bergembira ria. Dinniar sangat bersyukur memiliki sahabat yang saling support seperti mereka semua.


...****************...


"Maaf, Pak. Bu Dinniar sedang tidak ada di rumah. Sebaiknya bapak pulang saja." Bibi meminta Mantan majikannya pulang.


Darius tetap menerobos masuk ke dalam rumah. Dia lihat lampu kamar putrinya menyala. Dia hafal betul kalau lampunya menyala berarti Tasya ada di rumah.


"Saya mau bertemu dengan Tasya. Bukan mau bertemu dengan Dinniar." Darius membuka pintu kamar putrinya.


"Papi." Tasya memanggil dengan nada penuh ketakutan. Dia bersembunyi di balik tubuh baby sitternya.


"Tasya, ikut papi yuk." Ajak Darius sambil mengulurkan tangannya.


"Aku enggak mau ikut papi. Aku mau sama mami ajah." Tasya menolak keras ajakan papinya.


"Tasya, papi kangen banget sama kamu. Ayo ikut papi dulu. Nanti papi anter pulang lagi." Darius tetap memaksa.


Tasya berlari ke arah bibi yang menurutnya lebih bisa melindunginya.


"Bi, telepon Mami. Tasya takut sama papi." Tasya merengek kepada bibi.


Bibi langsung mencari ponselnya yang dia sedang isi data baterainya di ruang menyetrika baju.


Bibi yang hendak mencabut ponselnya mendengar teriakan dari baby sitter Tasya. Dengan cepat kabel isi data baterai dia cabutnya dan langsung kembali ke dapur.


Di dapur bibi hanya melihat baby sitter saja tanpa Tasya bersamanya.


"Dimana non Tasya?" tanya bibi.


"Maaf Bi, saya tidak bisa menghalangi pak Darius membawanya. Katanya Tasya akan menginap di rumahnya malam ini." baby sitter Tasya bicara dengan gelagapan.


"Kenapa kamu tidak menghalanginya sekuat tenagamu. Non Tasya pasti saat ini sedang ketakutan sekali." Oceh bibi yang panik hingga menimbulkan emosinya.


"Maaf, Bi. tadi saya berusaha menghalangi di depan pintu, tapi pak Darius mendorong kuat tubuh saya Sampar tersungkur. Makanya saya berteriak keras tadi." Cerita baby sitter itu.


Bibi memijat keningnya lalu membuka layar ponselnya. Dia segera menghubungi majikannya agar bisa mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.


"Halo, Bu. Ini bibi." Bibi menceritakan kronologisnya dan melaporkannya kemana Darius akan membawa Tasya pergi.


"Baik, Bu. Bibi tunggu di rumah. hati-hati Bu."


...****************...


Dinniar dan teman-temannya masih asik membahas tentang acara dan konsep pernikahan Dinniar dan Jonathan.


Mereka berdua berencana mendekorasi ruangan dengan abu-abu dan gold agar terlihat lebih elegan.


"Sudah hampir jam delapan malam. Sebaiknya aku pulang, kasihan anakku di rumah, takut stok Asiku habis." Violin bersiap untuk pulang.


Dinniar juga berencana untuk kembali ke rumahnya. Dia kemudian mendengar ponselnya berdering.


"Halo. Apa? Gimana ceritanya bi bisa dibawa mas Darius?" tanya Dinniar setelah mendapat laporan dari asisten rumah tangganya.


"Kalau begitu saya akan segera ke rumah mas Darius. Terima kasih atas informasinya, Bi. Bibi tunggu saja kabar dari saya ya." Dinniar menutup teleponnya dan dia langsung bergegas.


"Ada apa?" Jonathan meraih tangan Dinniar.


"Maaf, sangking paniknya aku sampai lupa memberitahu kalian semua." Dinniar kembali duduk dan menarik napasnya dalam-dalam.


"Mas Darius membawa Tasya pergi dari rumah. Aku benar-benar panik. Aku harus segera pergi ke rumah mas Darius. Aku pergi dulu," kata Dinniar


"Tunggu Dinniar." cegah Jonathan.


"Aku akan pergi bersamamu. Kalau kamu menyetir dalam keadaan panik. Bisa jadi terjadi sesuatu kepadamu." Jonathan beranjak dari duduknya.


"Benar Din, aku takut kamu malah mengalami hal buruk. Belum lagi kamu di sana harus berhadapan dengan mas Darius. Kalau ada Jonathan pasti aman." Sonia membenarkan perkataan Jonathan.


"Baik, tapi pakai mobilku saja." Dinniar memberikan kunci mobilnya kepada Jonathan.


"Jagain Dinniar ya, Bro." pinta Samuel kepada sahabatnya.


Dinniar dan Jonathan bergegas pergi ke rumah Darius. Dengan cepat Jonathan melajukan mobil Dinniar agar sampai lebih awal dari perkiraan waktu yang ada di map.


"Tenang, jangan terlalu panik. Darius tidak akan membuat celaka Tasya dan tidak akan pernah teledor seperti waktu itu lagi." Jonathan berusaha membuat Dinniar tenang.


"Aku tahu, tapi putriku masih dalam kondisi trauma. aku takut dia akan drop lagi." Dinniar menatap manik mata Jonathan.


"Aku akan mempercepat lagi laju mobilnya." Jonathan mengerti perasaan Dinniar. Dia juga takut terjadi sesuatu kepada calon anak sambungnya itu.