
Dinniar menyiapkan keperluan untuk suaminya pergi meeting ke luar kota. Darius kembali membohongi istrinya, sungguh pria yang tidak tahu malu. sudah mendapatkan istri cantik dan putri yang cantik, dia malah berpaling.
Dinniar bukan hanya menyiapkan keperluan Darius, tapi dia juga menyiapkan keperluannya. Dinniar akan mengikuti kemana suaminya pergi. Dia ingin tahu wanita mana dan seperti apa yang bisa membuat hati suaminya berlabuh kembali dan mencampakkan keluarganya.
Dinniar menutup tasnya. "Aku akan memergoki kalian. Aku ingin tahu wanita seperti apa yang membuatmu berpaling dari ku dan Tasya."
Dinniar membawa turun tas suaminya.
"Sayang, ini tas mu, di dalamnya aku sudah menyimpan setelan baju, pakaian dalam dan juga beberapa obat-obatan yang kamu perlukan."
"Aku juga menyimpan sesuatu yang bisa mendeteksi keberadaan mu," batinnya sebelum menyerahkan tas besar itu kepada Darius.
Dinniar sudah mempersiapkan diri dan juga mentalnya untuk mengetahui kenyataan yang sebenarnya.
Dia harus menemukan bukti-bukti perselingkuhan suaminya. Dinniar tidak mau pengkhianatan ini berlangsung begitu lama.
Darius berpamitan kepada keluarganya. Darius melangkah dengan senyum yang mengembang di wajahnya. Kebahagiaan yang hakiki akan segera dia raih, mungkin itu yang ada di dalam benaknya saat ini.
Dinniar langsung menyalakan alat penyadap yang berada di dalam tas suaminya setelah Darius meninggalkan rumah.
Dinniar lalu langsung menghubungi sahabatnya Sonia.
"Sonia, kita ketemu di sekolah ku, ada yang ingin aku bicarakan denganmu." Dinniar langsung meraih benda yang terbuat dari kulit buaya dan berwarna merah, lalu menggantungnya di bahu sempurnanya.
Dinniar merencanakan sesuatu dengan sahabatnya, dia ingin berdiskusi sebelum menentukan tindakan yang tepat.
"Aku sudah memutuskan, tapi aku tetap butuh nasehatmu." Dinniar melajukan motornya dengan kecepatan yang masih dibatas normal.
Meski dalam hati yang bergejolak, Dinniar masih bisa berpikir matang, dia masih butuh jalan pemikiran orang lain atas apa yang akan dia lakukan.
Dinniar memarkir motornya di halaman sekolah dan bersiap menemui Sonia yang sudah menunggunya di kantin sekolah.
Rumah Sonia tidak begitu jauh dari sekolahan yang menjadi tempat mengais rezeki Dinniar.
"Din, kenapa? Tumben banget hari libur begini kamu minta ketemuan sama aku?" Sonia mengenal sahabatnya yang sulit diajak keluar jika bukan hari kerja.
"Aku butuh saran dari mu."
Dinniar menceritakan semua yang dia rasakan dan menjadi penyebab kecurigaannya membesar.
"Aku bukan hanya merasakan, tapi aku juga mendengar mereka bilang suamiku dekat dengan model itu. Sejak itu aku perhatikan Mas Darius sering kali pulang terlambat dan hari libur masuk kantor, padahal biasanya tidak pernah terjadi." Cerita Dinniar.
"Din, aku mengerti perasaanmu. Sebagai seorang wanita yang mencintai suami dan ingin menjaga keutuhan rumah tangga. Sudah pasti kita harus waspada. Aku tidak bilang tindakanmu saat ini salah, tapi coba kamu pikirkan lagi, jika kamu kesana dan tidak terbukti dia selingkuh. Apa yang kamu akan lakukan?" tanya Sonia.
"Ya aku akan kembali kerumah dengan perasaan yang lebih tenang dan kembali mempercayai suamiku." Dinniar bicara sambil menangis.
Dia tidak kuasa menahan kesedihannya saat bercerita tentang rumah tangganya yang sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja.
"Kalau dia ternyata benar selingkuh? Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Sonia kepada sahabatnya lagi.
Sonia memiliki tingkat keyakinan yang tinggi tentang apa yang diceritakan oleh suami sahabatnya. Apa yang menjadi keyakinan Sonia mengenai penilaiannya tentang sikap Darius dan apa jawaban Dinniar tentang pertanyaan yang diajukan Sonia untuk dirinya?
.
.
Dinniar pergi menggunakan mobil sewaan. Dia tidak mungkin pergi ketempat suaminya berada menggunakan mobilnya sendiri. Itu bisa membuat rencananya gagal.
Dinniar dalam perjalanan untuk mengintai suaminya, dia terus dilema dengan bayangan-bayangan yang terlintas di pikirannya.
Pikiran bahwa dia akan memergoki suaminya sedang bermesraan. Memergoki suaminya sedang makan malam romantis dan ada juga terlintas pikiran positif yang dia buat untuk meyakinkan hatinya bahwa suaminya tidak mungkin mendua.
Semua pikiran dan bayangan itu berputar di otaknya membuat dirinya semakin tidak tenang.
"Bu, ini tempatnya, kemana tujuannya?" tanya sopir mobil sewaan.
"Pak, tunggu di sini, biar saya yang kesana saja. Saya tau tujuan selanjutnya."
Dinniar turun dari dalam mobil, tapi sebelum dia melangkahkan kakinya lebih jauh. Dinniar kembali menyiapkan hatinya.
Dinniar menarik napas panjang dan mengeluarkannya secara perlahan agar lebih relaks.
.
.
Cornelia melakukan syuting pencarian model berbakat di beberapa kota untuk dibawa ke kota besar yaitu Jakarta.
Saat istirahat syuting, Darius dan Cornelia memutuskan untuk beristirahat di kamar hotel yang sudah di daftar atas nama Darius.
Darius berani mendaftarkan namanya karena dia berada di luar kota, sehingga bertemu dengan rekan atau koleganya sangatlah kecil.
"Aku mau mandi dulu." Cornelia hendak membuka pintu, tapi Darius menghalangi.
"Kita masuk bersama. Aku sudah lama merindukan momen ini."
Darius dan Cornelia masuk ke dalam kamar mandi hotel. Mereka berdua bersenang-senang di dalam sana.
Sedangkan di depan hotel, Dinniar sedang mencari informasi tentang suaminya tapi sayang pihak hotel tidak bisa memberi tahukannya.
Akhirnya Dinniar berinisiatif untuk membuka kamar hotel juga. Dia ingin tahu dimana suaminya bermesraan dengan selingkuhannya.
Dinniar membuka kamarnya, kamar 201. Dia merebahkan tubuhnya untuk meregangkan beberapa otot tubuhnya yang kencang karena perjalanan jauh ke Bandung.
.
.
Di rumah, Tasya dijaga oleh Sonia. Sebelum Dinniar dan Sonia berpisah tadi, dia menitipkan Tasya kepada sahabatnya itu. Tasya memang dekat dengan Sonia, karena Sonia pintar mengambil hati putrinya.
"Tante Sonia, punya satu hadiah di dalam sini, sekarang Tasya harus menebak dimana hadiah itu."
Sonia yang menaruh hadiah di dalam kepalan tangannya, sudah memulai aksinya untuk membuat putri sahabatnya tenang saat ditinggal oleh Maminya.
Permainan kecil dan sederhana mereka mainkan berdua tapi di setiap permainan sederhana itu selalu terselip senyuman dan tawa Tasya.
.
.
Dinniar kembali menyalakan alat penyadapnya, tapi sayang sepertinya baterainya habis, jadi sepertinya dia harus berusaha sendiri.
Dia akhirnya iseng keluar dari kamar hotel menuju restoran.
Di sana dia melihat sekitar, kali saja dia memergoki suaminya sedang berselingkuh.
"Kita coffee break di sini ajah kali ya, sambil nunggu modelnya selesai istrirahat dan refresh dirinya."
Seseorang dari bangku sebelah sedang mengajak teman-temannya yang membawa beberapa keperluan pemotretan untuk istirahat di restoran yang sama dengan Dinniar.
Dinniar merasa seperti pernah melihat mereka.
"Sepertinya mereka salah satu fotografer di tempat Mas Darius." Dinniar memastikan dengan melihat seksama wajah mereka.
Ternyata benar mereka team Agensi di tempat suaminya karena ada logo agensi di salah satu kamera yang mereka bawa.
"Sepertinya ini jalan dari Allah." Senang Dinniar.
Bagaikan mendapatkan durian runtuh saja, Dinniar sangat senang dan dia mulai menyusun rencana yang ada di kepalanya.
.
.
Darius dan Cornelia keluar dari kamar hotel nomor 200.
Mereka akan pergi ke sebuah tempat yang sudah direncanakan oleh Darius.
"Waktu kita satu jam lagi. Setelah itu kita kembali syuting," ujar Darius dengan manisnya.
Cornelia mengerti, kekasihnya sangat disiplin dalam hal pekerjaan.
Mereka berdua langsung pergi menjemput kebahagiaan kedua yang akan Darius berikan untuk kekasihnya hari ini.