Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Part 30 - Jangan Paksa Aku



Darius rasanya ingin sekali menghajar pria itu. Dia sadar kalau pria itu mengagumi istrinya. Dinniar memang hari ini tampil lain dari biasanya.


Dinniar menghampiri putrinya. Dia memeluk erat sang putri yang tengah bersama para sahabatnya.


"Makasih ya. Udah mau di tutupin Tasya." Dinniar bersyukur memiliki sahabat yang baik.


"Sama-sama," jawab Sonia.


"Din, yang tadi siapa?" tanya Violin.


"Oh Itu Pak Jonathan. Dia wali dari salah satu murid di sekolah." Jelas Dinniar.


"Jonathan?" tanya Samuel ketika hendak duduk.


"Urusan kamu sudah selesai?" tanya Violin kepada suaminya.


"Sudah, makanya aku tadi menanyakan tentang Jonathan. Karena sahabatku juga bernama sama." Samuel duduk disebelah istrinya.


"Jonathan'kan banyak sayang. Bukan hanya sahabat mu." Violin mencubit kecil perut suaminya.


Semua tertawa dengan tingkah Violin yang tengah hamil muda. Katanya Violin jadi gemas sekali kepada suaminya. Kadang mencubit dan kadang suka memeluk erat.


Darius hanya mendengarkan dan melihat saja tanpa bereaksi. Seluruh sahabat Dinniar sangat bahagia hari ini termasuk dengan Dinniar sendiri.


Darius seperti tidak dianggap diantara mereka. Biasanya dia selalu menjadi model diantara mereka. Hari ini semua telah berubah.


"Hei! Aku dengar ada model yang menikah dengan pengusaha di Bali. Aku sih belum lihat siapa. Hanya info di grup chat ibu-ibu komplek."


Darius yang mendengar perkataan Violin langsung mengedarkan pandangannya kepada sahabat istrinya itu.


"Kenapa bisa berita itu menyebar? Apa ada wartawan disekitar sana?" Darius mulai keringat dingin.


"Papih, kenapa? Kok berkeringat? kan di sini ruangan dingin." Tasya ternyata memperhatikan papinya.


"Tidak apa sayang. Papi hanya sedikit masih gerah karena dari luar kan tadi. mungkin dinginnya belum terasa." Darius menjawab pertanyaan putrinya.


"Ada apalagi dengan mu, Mas? Apa ada yang kamu sembunyikan lagi? Apapun itu aku akan menemukan kebohonganmu yang tersisa." Dinniar menatap lurus memandang suaminya.


"Mas, Masih gerah ya? Apa mau aku besarkan lagi suhunya?" kata Violin.


"Ah ... tidak apa-apa, tidak perlu. Sebentar lagi juga hilang gerahnya." Darius bicara dengan gagap.


Adrian sejak tadi yang ikut mengobrol. Melihat tingkah para sahabatnya sangat diluar kebiasaan mereka semua.


"Biasanya, mereka sering menyanjung Darius. Kenapa hari ini tampaknya mereka begitu cuek sekali? Ah aku pria diantara tiga orang wanita. Sungguh mengorek informasi dari mereka begitu sulit. Lebih sulit dari pada mengorek informasi tentang selebritis." Andrian merasa menjadi sahabat yang diasingkan dalam masalah wanita


"Dri, Nanti anter aku pulang ya." pinta Sonia.


"Siap Bos. Tadi juga kan kesini bareng aku son." Adrian terkekeh.


"Pria yang baik." Sonia menepuk bahu sahabatnya.


"Mih, Pih. Kita pulang yuk." Ajak Tasya yang sepertinya sudah mulai bosan.


"Ayok." Darius bersemangat.


"Aku pulang dulu ya. Maaf enggak bisa lama-lama," sesak Dinniar.


"Enggak apa-apa kok. Kita juga mau pulang. Punggungku sudah mulai pegal." Violin menyentuh punggungnya.


Wanita hamil memang suka mengalami pegal diarea punggungan. Sekarang itulah yang sedang dirasakan Violin.


Mereka bubar dari cafe, pulang ke rumah masing-masing.


Dinniar, Darius dan Tasya masuk ke dalam mobil milik Dinniar.


Tasya dan Dinniar duduk di bangku belakang pengemudi. Darius memperhatikan istrinya dari kaca spion tengah.


Darius tak lagi mendapatkan perhatian dari istrinya. Dia juga mulai tersingkirkan dari para sahabat istrinya. Sungguh tidak enak rasanya dulu yang terlihat paling banyak di sanjung, di ajak bicara dan mendapatkan prioritas. Sekarang semuanya langsung hilang. Dia bagaikan nyamuk tadi di sana.


Darius menghentikan mobilnya saat sampai di depan pintu pagar rumahnya, Satpam membukakan pintu rumah dan Darius memarkir mobil istrinya.


Dinniar langsung turun bersama dengan Tasya dan menuju kamar putrinya.


"Sayang ganti baju dulu. Nanti Mami bacakan dongeng untukmu." Dinniar meninggalkan Tasya dengan baby sitternya.


.


.


Darius selesai memarkir mobil istrinya. Dia mau masuk ke dalam rumah, tapi sebelum masuk dia menemui satpam rumahnya dulu.


"To. Apa selama saya pergi ada orang yang main ke rumah?" tanya Darius.


"Dua hari lalu ada tuan." Toto menjawab pertanyaan Darius.


"Siapa?" tanya Darius penasaran.


"Teman-temannya Nyonya, Tuan." Toto menjawab pertanyaan kedua majikannya.


"Apa tidak ada pria?" tanyanya.


"Tidak, Tuan. Mana mungkin nyonya membawa pria lain ke dalam rumah ini." Toto sangat mengenal majikannya itu.


Setelah selesai mendengar jawaban dari Toto. Darius langsung naik ke atas kamarnya. Dia mendengar ada yang sedang mandi di kamar mandi pribadi miliknya.


"Sepertinya dia sedang mandi." Darius memiliki pemikiran jahil..


"Aku akan bersiap." Darius tampak sudah sangat percaya diri


Dinniar keluar dari dalam kamar mandi dengan balutan baju tidurnya yang tertutup. Kali ini dia tidak mengenakan baju tidur sexy seperti yang biasanya dia pakai.


Dinniar menyimpan handuknya dan dia meraih ponselnya lalu berjalan menuju pintu.


"Kamu mau kemana?" tanya Darius.


"Aku mau tidur di kamar Tasya." Dinniar kembali melangkah.


Darius dengan cepat menahan istrinya.


"Kenapa tidur di sana?" tanyanya.


"Hanya ingin." Dinniar menjawab singkat.


"Tidur saja di sini. Tidak perlu di kamar Tasya. kamarmu di sini bersamaku." Darius masih memegang tangan Dinniar erat.


"Maaf, aku perlu berdamai dengan hatiku dulu," jawab Dinniar.


"Berdamai dengan hatimu. Tidak perlu tidur di kamar Tasya." Darius tetap ingin menahan Dinniar.


"Maaf, Mas. Aku tidak bisa." Dinniar menatap suaminya.


"Kenapa tidak bisa?" Darius meninggikan badan bicaranya.


"Jangan paksa aku. Aku tidak mau bersamamu malam ini." Dinniar menyingkirkan tangan suaminya dan bergegas keluar dari kamarnya.


Dinniar terhenti di depan pintu kamarnya dan menatap lekat pintu berwarna putih itu.


"Hubungan kita sekarang seperti ada pintu yang menjadi penghalang. Harus mengetuk sebelum bicara atau bertemu. Tidak seperti dulu lagi, bisa masuk kapan saja keruangan yang kamu ingin susuri."


Dinniar menuruni tangga sambil perlahan menghapus air yang keluar dari matanya


Dinniar membuka pintu kamar putrinya dan ternyata Tasya sudah menunggunya.


"Mamih, kok lama?" tanya putri kecil itu.


"Maaf sayang. Tadi Mami mandi dulu biar harum pas deket-deket Tasya." Dinniar mencubit gemas pangkal hidung putrinya.


Dinniar mengambil satu buku cerita tentang si kura-kura dan kelinci. Dia membuka halaman pertama dan mulai bercerita.


"Jadi kelinci kalah dengan kura-kura ya?" tanya Tasya.


"Benar sayang. Kura-kura yang jalannya lambat bisa mengalahkan kelinci. Karena kelinci yang menganggap kura-kura lambat jadi dia istirahat dan ternyata kura-kura sudah lebih dulu sampai di garis finis saat kelinci terbangun," jelas Dinniar.


"Jadi itu salah kelinci ya, Mih?" tanya anaknya yang lucu.


"Iyah sayang. kelinci salah karena menganggap kura-kura itu tidak mungkin mengalahkannya. Jadi pesannya, kita tidak boleh mengecilkan kemampuan orang lain yang lemah, sedangkan kita yang sudah merasa hebat bersantai-santai dalam segala hal, itu akan bisa membuat kita tertinggal."


Tasya kemudian memejamkan matanya, setelah mendengar penjelasan dari Maminya.