
"Darius kamu mau ke mana?" Susi beranjak dari duduknya.
"Aku harus pergi ke suatu tempat Bu."Darius pergi berlalu begitu saja.
"Darius apa lagi yang akan kamu lakukan? Kamu mau pergi ke mana?"Susi berteriak.
Susi benar-benar tidak tahu lagi jalan pikiran putranya itu. Darius sudah seperti orang yang kehilangan akalnya. Dia merasa ingin kembali kepada diniar dan juga ingin tetap bersama Cornelia yang sedang mengandung buah cintanya.
"kamu benar-benar keterlaluan Darius. bisa-bisanya kamu menyakiti dua hati sekaligus. dulu saat ayahmu meninggalkan ibu. ia bahkan tidak pernah melirik mu sekalipun. Dia mengabaikanmu dan ibu. Darius haruskah sekarang kamu bersikap seperti itu kepada mereka? menyakiti mereka berulang kali?" Susi memijat-mijat dahinya yang terasa pusing dengan kelakuan putranya.
sebagai seorang wanita yang pernah disakiti juga oleh suaminya. Susi berharap putranya tidaklah pernah melakukan hal yang sama. Susi yang selama ini mendapatkan kasih sayang yang tulus dari diniar menantunya, jadi merasa bersalah. sebab kelakuan putranya yang telah menyakiti wanita sebaik dan sempurna seperti Dinniar.
Susi tidak mau putranya kembali membuat kesalahan, meski Dia tidak setuju dengan Cornelia. akan tetapi putranya sudah bercerai dari diniar, tidak mungkin mereka kembali bersama, jadi dia tidak mau putranya kembali menyakiti wanita yang baru saja menjadi istrinya dan sekarang tengah mengandung.
...****************...
Darius pergi ke rumah Dinniar dia ingin meminta Dinniar untuk kembali kepadanya.
dia sudah tidak lagi memperdulikan kata-kata ibunya tentang hati yang sudah terluka tidak akan mungkin bisa kembali diraih.
Darius mengetuk pintu rumah Dinniar. linier membuka pintu setelah mendengar suara ketukan pintu. Kebetulan sekali Dinniar hari ini hanya berdua dengan asisten rumah tangganya. sedangkan Tasya dan babysitternya sedang pergi ke rumah orang tua Dinniar.
"mau apa lagi kamu Mas kemari? belum cukup kamu membuat keributan saat di sekolahan?"tanya Dinniar.
Darius tidak menghiraukan perkataan Dinniar. Darius yang awalnya masih berdiri di ambang pintu kini sudah masuk ke dalam rumah dan tiba-tiba dia bersimpuh di kaki wanita yang sudah tidak lagi menjadi istrinya.
"Dinniar aku mohon. aku mau kita kembali lagi seperti dulu. Aku mau kita kembali menjadi pasangan suami istri."
Apa kamu tidak sadar kalau ini semua salah? aku yakin kamu juga saat ini tahu dari ibu mengenai kehamilan Cornelia. kamu mau meninggalkan ya ketika dia sedang mengandung?"Dinniar kepada Darius.
"tidak ada yang salah Dinniar. Aku akan segera menceraikannya. sekarang kamu pikir bagaimana aku bisa hidup dengan manusia yang telah berbuat jahat kepada putriku? Aku tidak akan sanggup hidup bersamanya."tegas dari sambil terus bersujud dihadapan Dinniar.
"Mas sadar. dulu kamu menginginkan dia sampai menyakiti aku dan Tasya. sekarang kamu mau kita kembali dan kamu memilih untuk meninggalkannya?" Dinniar menarik nafas panjang.
"Mas Aku ini bukan wanita yang mendendam. meski dia sudah menyakitiku. dia telah merebut suamiku. tapi aku tidak akan kembali merebutmu darinya. karena kalau sampai itu terjadi sama saja aku seperti dia menjadi pelakor di rumah tangga Kau Dan Dia. Aku tidak akan pernah melakukan hal itu mas."tegas Dinniar.
"aku mohon kepadamu Dinniar. ini semua demi kebaikan Tasya. Aku yakin dia ingin kita bersama kembali. kita mulai semuanya dari awal."
"pergilah kamu dari sini. Aku tidak mau melihat kamu lagi. Aku tidak mau kamu memohon-mohon kepadaku seperti ini. karena semua percuma. Aku tidak akan pernah menerima dirimu lagi. Aku tidak akan pernah mengulangi kesalahanku untuk mencintai laki-laki yang telah menghianatiku."
"cukup Darius! untuk Apa Lagi kamu ke rumah Dinniar? kamu mau menyakiti dia lagi? tidak cukup puaskah kamu telah menyakiti dan memberikan luka yang begitu dalam kepada putriku?"
seorang wanita yang telah melahirkan dan membesarkan seorang putri yang cantik dan baik hati. Marah ketika pria yang telah menyakiti putrinya terus mengusik hidup anak kesayangan itu.
"cepat kau pergi dari sini. kami tidak ingin melihatmu! Tasya juga tidak ingin memiliki Ayah seperti!"
saat ini Dinniar hanya bisa menangis. dia ternyata begitu terkejut dengan kedatangan mamanya. dadanya juga sesak lihat perilaku mantan suaminya yang tidak berubah sama sekali.
Darius benar-benar laki-laki yang sangat tidak tahu malu. dia memohon dan meminta untuk kembali kepada mantan istrinya dan bicara kalau dia akan menceraikan istri mudanya. Darius tidak pernah belajar dari masa lalu yang membuatnya terjerumus jalan yang salah.
"jangan lagi kamu datang kemari dan jangan lagi kamu menemui putriku! jangan buat luka di hatinya semakin melebar. aku tidak mau dia menderita lagi karena laki-laki sepertimu!"
Darius di usir dari rumah Dinniar. Dan sang ibu memeluk tubuh putrinya yang sedang menangis.
"jangan menangis lagi. pria itu tak patut kau berikan air mata. dia sudah membuat luka dihatimu. seharusnya kamu harus lebih kuat dan lebih tegas lagi dalam menghadapi pria seperti itu."
Dinniar dan mamanya duduk di sofa. Dinniar menghapus air matanya.
Air mata yang dia keluarkan kali ini bukan karena pria itu, tapi karena dia tidak habis pikir kalau selama ini dia telah salah memilih pria. ternyata dia salah melabuhkan cintanya. Penyesalan memang selalu datang terlambat. Andai dulu dia mendengarkan perkataan kedua orang tuanya untuk tidak menikah dengan Darius. mungkin hatinya tidak akan sesakit ini. Mungkin dia juga tidak perlu menjadi wanita yang dikhianati.
"Maafkan aku Bu. Maafkan aku yang dulu tidak mendengarkan semua perkataan ibu." Dinniar kembali menangis.
"Sayang jangan kamu menyalahkan diri sendiri. semua itu sudah takdir dari yang maha kuasa. ini semua jadikan pembelajaran. Tidak perlu kamu tengok lagi rasa sakit itu."
Sang mama mengelus lembut kepala putrinya. Dia benar-benar iba kepada putrinya. dia tidak bisa terima jika Darius terus menerus mendatangi Dinniar dan membuat putrinya menangis lagi.
"Mah, Tasya dimana?" tanya Dinniar.
"Dia sedang main di taman. tadi pas mau belok ke sini mama lihat ada mobil Darius. jadi mama minta Tasya dan baby sitternya main dulu di taman. tenangkan hatimu dulu. baru setelah itu temui putrimu. jangan rapih dihadapannya. itu bisa membuat putrimu bersedih."
Dinniar mengangguk, dia mengerti maksud dari mamanya. dia juga bersyukur Tasya tidak bertemu dengan papinya tadi. jika tadi mereka berdua bertemu. pastinya Tasya akan kembali kacau lagi nanti malam.
"Aku jemput Tasya dulu, mah. Mama ikut atau mau tunggu di sini?" tanya Dinniar setelah hatinya sudah tenang.
"Mama tunggu di sini saja. Mama mau siapkan makan malam untuk kita semua."
Dinniar beranjak dari duduknya dan langsung pergi menjemput putri kecilnya.