Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Part 206 - Perjalanan memancing



mereka semua makan siang bersama di ruang makan. Jonathan lalu meminta semuanya untuk memperhatikan.


"siang ini kita akan pergi memancing karena cuacanya yang cukup teduh sehingga pas untuk kita pergi memancing." ujar Jonathan.


"hore hore hore kita jadi mancing."teriak Tasya dengan sangat girang.


"setelah makan siang kita akan bersiap."kata Jonathan.


"bolehkah aku membawa buku cerita?"tanya Tasya kepada papanya.


"tentu saja boleh sayang. tapi siapa yang akan membacakan buku cerita?"ledek Jonathan kepada putrinya.


"tentu saja nenek akan membacakannya. ini kan sudah berjanji sama aku. akan membacakan buku cerita yang kedua." Tasya seperti sangat memaksa.


"baiklah nenek akan membacakannya nanti kita dalam perjalanan menuju ke tempat pemancingan."janji neneknya.


"asik Tasya sangat sayang sekali sama nenek."Tasya memeluk neneknya dari samping.


"nenek juga sangat sayang sekali sama Tasya."neneknya menempelkan kepala mereka berdua dan saling bertukar senyuman.


"kali ini aku mau ***** menceritakanku tentang gajah."seru Tasya.


mereka semua makan bersama dan saling bertukar cerita. Tasya menceritakan tentang apa yang dia dengar cerita dari danau Toba.


mereka tertawa karena Tasya sangat antusias menceritakan tentang danau Toba yang tadi dibacakan oleh neneknya.


"aku akan bersiap." Tasya langsung turun dari kursinya dan langsung berlari menuju ke kamarnya di lantai dua.


Dinniar langsung terkekeh melihat putrinya begitu antusias dengan buku-buku cerita yang baru di belikan olehnya dan juga Jonathan.


"dia sangat senang sekali. aku tidak menyangka dia seantusias itu dengan buku cerita." Jonathan ikut tersenyum.


"dia tadi sangat senang ketika mama membacakannya buku cerita. dia pasti akan membawakan buku cerita yang lebih banyak lagi." Mamanya tersenyum senang.


memiliki dua cucu yang sangat cantik membuat dia begitu bahagia. dia juga sayang kepada Tasya meski bukan cucu kandungnya.


menyenangkan sekali sepertinya hidup tanpa ada gangguan dari siapapun. Dinniar berharap keadaan tetap aman dan tentram seperti saat ini. dia tidak ingin ada pengganggu lagi dalam rumah tangganya. baginya sangat menyesakkan merasakan keluarganya dalam bahaya. membuatnya harus terus berselimut ketakutan. meski dia siap, tapi dia berharap tidak terjadi hal apapun.


mereka sudah hampir sampai kedepan tol dan Tasya langsung menagih janji.


"baik sayang. nenek akan kembali bercerita. cerita kali ini tentang gajah Seblat yang istimewa."


Ibu sedang menulis tentang gajah jawab ibu sambil tersenyum gajah minta duduk di sebelah ibunya Iya sayang Ibu sedang ikut lomba Inka tahu kalau ibunya seorang penulis Ibu sudah menulis banyak buku tentang berbagai macam binatang namun indah tidak tahu kalau Ibunya sudah mengikuti beberapa lomba. lomba apa Bu Inka penasaran.


Lomba menulis tentang keistimewaan daerah adalah tema yang dipilih oleh ibu Inka dan dia menulis tentang anaknya begitu penasaran dan bertanya Mengapa gajah ibunya menjawab gajah adalah hewan darat terbesar di dunia tingginya bisa mencapai 4 meter dan beratnya bisa mencapai 6000 kg gajah di Sumatera termasuk golongan gajah Asia nah gajah Afrika itu ukurannya lebih besar dibandingkan gajah Asia begitu juga telinga dan gadingnya


Cerita tentang gajah yang ibunya ceritakan begitu menarik sehingga Inka bisa membayangkan gajah Asia dan Afrika yang berbeda ukuran itu ibu juga berkisah tentang kebiasaan unik gajah hewan ini akan mengangkat belalai dan mengendus ke udara jika merasa adanya bahaya untuk memperingatkan gajah lainnya mengikuti lomba tentang keistimewaan daerah Jadi Ibunya menulis tentang gajah karena gajah adalah hewan khas Bengkulu lalu Ibu Inka kepada Inka dan juga Nina kalau di daerah mereka ada tempat latihan khusus gajah di Indonesia ada 5 tempat seperti itu ada di Lampung namanya Way Kambas juga di Aceh Riau dan Sumatera Selatan semuanya berada di pulau Sumatera.


"nenek, gajahnya di latih apa saja?" tanya Tasya kepada neneknya ditengah cerita.


"nenek akan lanjutkan ceritanya ya sayang."


Ibu Inka mengambil sebuah buku dari rak di dekat meja komputernya lalu mereka pun berjalan ke halaman belakang dan duduk di bangku taman Ibu Inka membuka buku itu buku itu berisi gambar gajah yang sedang dilatih ada juga gambar beberapa orang sedang berbaring di tanah dan Seekor gajah bersiap melangkah di atas mereka Nina menutup wajahnya dengan ngeri orang-orang itu bisa Terinjak tugasnya Ibu Nina langsung tertawa kecil gajah-gajah itu tidak akan menginjak manusia makanya orang-orang itu dilarang untuk bergerak mendadak karena gajah bisa terkejut


Gajah Seblat memang kurang dikenal masyarakat umum orang lebih mengenal Taman Nasional Way Kambas itu sebabnya ibu dengan antusias menulis tentang gajah Seblat itulah mengapa ibunya Nina dan Inka menulis tentang gajah


Gajah seblak itu hanya ada gajah hewan lain tidak ada tempatnya pun luas dan berupa hutan gajah-gajah itu aman di sana .gajah-gajah di sana adalah gajah liar mereka dijinakkan dengan berbagai pelatihan gajah adalah hewan yang dilindungi mereka terancam punah punah artinya musnah atau tidak tersisa lagi nah kalau sampai gajah musnah tentu sangat disayangkan Itulah sebabnya kita harus berperan untuk mencegahnya .


"kenapa gajah bisa punah nek?" tanya tasya lagi saat neneknya sedang bercerita.


"gajah diburu untuk diambil gadingnya. Gading adalah semacam taring yang hanya dimiliki gajah di kanan dan kiri hidungnya." jawab neneknya.


"untuk apa Gading itu nek?" tanyanya lagi.


"untuk macam-macam gading gajah kadang dijual ke luar negeri dan harganya sangat lama." neneknya memberi penjelasan.


Tasya hanya manggut-manggut. "tapi kasihan gajahnya nek," Tasya terlihat sedih.


"maka itulah pentingnya pusat konservasi gajah seperti gajah Seblat ini setahun nenek kini populasi di sana sudah meningkat karena ada beberapa gajah liar yang telah melahirkan."jelas neneknya lagi.


Tasya bertepuk tangan, "kapan-kapan kita ke sana ya Nek aku ingin melihat gajah gajah itu."


Dinniar, jonathan, Alesya dan neneknya tertawa mendengar ajakan Tasya yang sangat polos seakan tempat yang ingin dia kunjungi itu dekat.


"Nanti papa akan mengajak Tasya dan yang lainnya pergi ke sana. hanya saja Tasya harus jadi anak yang pintar dan rajin belajar." ujar Jonathan.


"hore aku pasti akan rajin belajar dan juga aku pasti akan menjadi ranking satu lagi. benar kan mami?" tanya Tasya.


Dinniar tersenyum mendengar penuturan putri tercintanya itu. "iya sayang Tasya pasti menjadi juara kelas lagi. Tasya dan kak Alesya kan anak yang pintar dan kebanggaan kita semua." Dinniar memicu semangat kedua putrinya.