
"Pak Jonathan maafkan aku. bukan maksudku untuk menolak anda. hanya saja, saat ini saya harus fokus dengan Tasya. ditambah kasus penculikan belum memiliki bukti yang jelas dan mengarah kepada Caroline." Dinniar menolak dengan cara halus.
"Apa jika semua sudah selesai kamu mau menerima tawaranku?" tanya Jonathan.
sebenarnya Jonathan sangat canggung. dia tidak terbiasa mengungkapkan perasaan secepat ini. hanya saja Alesya mendesaknya. satu ancaman Alesya sangat mengena kepadanya sehingga dia tidak bisa lagi menunda.
"aku akan pikirkan kembali." Dinniar melepaskan tangannya dari genggaman tangan Jonathan.
dia lantas meninggalkan Jonathan dan kembali mengawasi putrinya. Jonathan hanya bisa melihat wanita yang disukainya pergi begitu saja.
dia sadar kalau tidak bisa memaksa Dinniar saat ini. dia mengerti saat ini prioritas Dinniar adalah putrinya Tasya.
"Aku akan menunggumu. menanti jawaban darimu. aku juga akan menuntaskan permasalahan penculikan ini." Jonathan bicara sendiri dalam hati.
"bagaimana?" tanya Alesya yang terus memperhatikan Jonathan dan Dinniar dari kejauhan.
"belum di terima." singkat Jonathan.
"kenapa?" tanya Alesya.
"Bu Dinniar masih harus fokus dengan Tasya. banyak permasalahan yang harus dia hadapi seorang diri. kita harus menunggu." Jonathan menjelaskan kondisi Dinniar.
"kalau begitu aku beri om waktu paling lama satu Minggu. Om harus segera menemukan semua bukti yang mengarah kepada pelakor itu. setelah itu berterima kasihlah kepada si pelakor."
mendengar perkataan Alesya di kalimat terakhirnya. Jonatan membulatkan netranya. dia sangat terkejut.
"berterima kasih? maksudmu?" ujar Jonathan bingung.
"sebab kalau dia tidak merebut suami Bu Dinniar. mungkin selamanya om tidak akan memiliki pasangan hidup yang sempurna."
Jonathan mencerna setiap kata yang di ucapkan oleh Alesya.
"Benar juga apa kata Alesya. kalau Darius tidak menduakan Dinniar. mungkin saat ini dia tidak akan memiliki kesempatan untuk mengungkapkan rasa yang sudah di pendam sejak awal pertemuannya dengan Dinniar."
Richard sudah menyadari bahwa dirinya sangat menyukai Dinniar sejak dia membantu Dinniar untuk mencari Tasya. perasaan iba itu ternyata bukan perasaan iba biasa. Namun, adalah perasaan cinta yang sudah mulai bersemi dan rasa rindu yang sudah lama.
...****************...
Malam datang dan awan menjadi hitam. Dinniar dan teman-temannya masih menikmati liburan bersama mereka.
sebuah permainan dimainkan oleh mereka.
"okeh, pokoknya kalau botol ini menunjuk ke arah kita. sampaikan keinginan terbesar kita. Tasya bisa?" tanya Sonia.
"bisa Tante Sonia." Tasya mengerlingkan satu matanya dan Sonia membalasnya.
Sonia mulai memutar botol dan moncong botol mengarah kepada violin. violin mengungkapkan harapannya. lalu bergantian ke Sonia dia berharap bisa segera hamil. kali ini botol mengarah kepada Alesya.
"Alesya berharap. Om Jonathan bisa bersama dengan wanita yang dia cintai."
semua mengamini dengan semangat doa Alesya. mereka tahu siapa yang di sukai oleh Jonathan.
botol kembali di putar dan berhenti tepat di arah Tasya. bocah kecil itu tampak gembira sekali.
"ayo Tasya. ungkapkan apa harapanmu." pinta Sonia.
"Tasya mau mami dan papi kembali bersama. saat kami bersama tidak ada hal bahaya yang menghampiri. saat Tasya bersama mami dan papi. Tasya merasa aman dan nyaman. sekarang Tasya hanya tinggal dengan mami. perasaan Tasya selalu ketakutan. Tasya kangen mami dan papi."
Tasya mengungkapkan perasaannya dan harapannya sambil berlinangan air mata. mendengar perkataan anak kecil itu. tak hanya Dinniar yang merasa sedih dan berkaca-kaca. teman-temannya juga ikut berlinangan air mata. Dinniar langsung memeluk putri kecilnya.
dia tidak menyangka kalau putrinya sangat menderita atas keputusannya bercerai dari Darius.
Jonathan yang mendengarkan ungkapan perasaan anak kecil yang sudah dia sayang itu. begitu membuat hatinya terasa sesak. dia seakan harus menghapus impiannya dan merelakan cintanya.
.
.