
"Kamu pasti akan suka masakan di sana. karena menurut Rendy yang sudah makan di sana. Itu adalah seleramu banget." kata Jonathan sambung menggenggam tangan istrinya.
"Masa sih sayang? Rendy memang tahu seleranya aku seperti apa?" tanya Dinniar sambil terkekeh tak percaya.
"Sayang, Rendy itu udah seperti adikku sendiri. Dia juga sering sekali makan bersama keluarga kita. Jadi sudah pasti dia tahu seleramu. Kamu kan yang selalu masak di rumah." ujar Jonathan.
Tak terasa mereka berdua sudah sampai di restoran. Dinniar dan Jonathan turun dari mobil dan masuk ke dalam restoran. Mereka disambut oleh dua orang pelayan dan salah satunya mengantar mereka masuk dan menunjukkan meja kosong untuk ditempati.
Pelayanan di restoran itu benar-benar sangat membuat tamu merasa dihargai dan sangat pelayanan sekali. Seorang pelayan pria lalu menghampiri mereka dengan buku menu yang disodorkan kepada Dinniar.
Dinniar memilih beberapa menu masakan ala negeri sakura itu. Banyak jenis masakan dan memang benar kebanyakan adalah menu favorit dari Dinniar.
"Mas Jonathan." Sapa wanita muda dengan pakaian yang feminim dan rambut tergerai indah.
Jonathan yang sedang serius melihat daftar menu bersama istrinya langsung menoleh dan melihat ternyata itu adalah rekan bisnisnya.
"Bu Melinda." sapanya.
"Panggil Melinda ajah. Kan kita juga di luar kantor. Lagi pula saya lebih muda lima tahun dari Mas Jonathan." ujarnya sambil duduk di kursi kosong tempat meja Jonathan dan Dinniar.
"Oh, kenalkan ini adalah istri saya. namanya Dinniar." Jonathan segera mengenalkan Dinniar kepada Melinda.
"Maaf, saya enggak lihat kalau ada orang lain bersama, Mas." tuturnya sambil sedikit menyipitkan mata ketika bertatapan dengan Dinniar.
"Saya Dinniar. Istri Mas Jonathan." Dinniar mengulurkan tangannya.
Mereka saling memberikan senyuman. Namun, anehnya senyuman Melinda seperti orang yang terpaksa.
Melinda kembali menatap Jonathan. "Mas Jonathan suka masakan jepang juga?" tanyanya.
"Iyah, karena istri saya juga sangat menyukainya. Bu Melinda juga suka masakan jepang?" tanya Jonathan yang sedikit kaku.
"Hmmm... Iyah. Saya suka banget. Kapan-kapan boleh kita meeting sambil makan di sini." Melinda bicara dengan mata yang cukup berbinar ketika menatap Jonathan.
"Sepertinya kita tidak ada jadwal meeting lagi. Karena semua sudah selesai. Tinggal delegasinya saja." Jonathan menolak dengan secara halus.
"Baiklah, kapan-kapan kita makan siang sambil berbincang bisnis." Melinda menyentuh tangan Jonathan dan langsung pergi meninggalkan dua sejoli itu.
Dinniar terkekeh melihat sorot mata Melinda kepada suaminya dan sikap tak nyaman suaminya terhadap kehadiran rekan bisnisnya yang cari perhatian itu.
"Mas, aku mau makan ini saja. Dan jangan lupa bawa untuk anak-anak juga." kata Dinniar.
"Bagaimana kalau kita bungkus saja semuanya. Kayaknya lebih enak makan di rumah saja." ajah Jonathan
"Enggak apa sayang. Kita makan di sini ajah." senyum Dinniar.
Wanita yang hebat seperti Dinniar memang patut diacungi jempol. Pengalamannya terhadap Darius. Membuat dia semakin waspada. Suaminya yang tampan. pengusaha muda dan anak yang berbakti. siapa yang mampu menolak Jonathan.
Jonathan akhirnya mengikuti perkataan sang istri. Namun, dia juga meminta ubah posisi duduk. Agar Melinda tidak terus bersikap genit kepadanya. Karena saat ini meski mereka berada di meja yang berbeda tetap saja Melinda bersikap genit dan mencari perhatian kepada papa anak 3 itu.