Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Part 94 - Mencintai wanita yang sama



Tasya membuka matanya. Dinniar segera memanggil dokter. Dinniar sangat lega melihat putrinya telah sadarkan diri.


"Alhamdulillah, Tasya sudah sadar, Mah." Dinniar dan mamanya saling menukar senyuman.


"Tasya, Oma kangen sekali sama kamu sayang." Juwita menyentuh kaki Tasya yang ada di dalam selimut.


Tasya mengedarkan pandangannya. Bola matanya bergerak ke kanan dan ke kiri. Dokter memeriksa Tasya dan menyatakan seluruhnya normal. Dinniar semakin lega mendengar ucapan dokter terkait kondisi putrinya.


"Sayang, terima kasih sudah berjuang. Mami sangat bangga sama Tasya yang kuat dan hebat. Mami sayang banget sama Tasya." Dinniar mengecup pucuk dahi putrinya.


Juwita dan Hartono juga bergantian mengecup cucu mereka. Betapa lega dan sangat bersyukurnya mereka melihat Tasya kembali membuka matanya.


"Cucu Opa yang cantik memang paling keren. Opa sayang Tasya." Bisik Hartono.


"Kamu telepon Bu Susi. Kasih kabar tentang Tasya. Dia pasti menunggu kabar baik ini." Juwita menepuk pundak putrinya.


Dinniar mengangguk tanda mengerti. meski dia kesal terhadap mantan suaminya. Tetap bagaimanapun mereka anggota keluarga Tasya. Dinniar mengirimkan pesan kepada ibu mertuanya tentang Tasya yang sudah sadarkan diri.


...****************...


Jonathan bergegas pergi ke kantor. Dia harus menyelesaikan beberapa meeting yang sempat tertunda. Jonathan juga harus mempersiapkan beberapa persiapan untuk acara life show yang sempat dia bicarakan dengan Dinniar dan juga Adrian tempo hari.


"Kamu sudah persiapkan proposal dan surat izin penggunaan tempat?" tanya Jonathan kepada asisten pribadinya.


"Saya sudah persiapkan semuanya, Pak. Meeting hari ini juga sudah saya beritahukan kepada pak Adrian kemarin. Beliau menyetujui untuk datang ke kantor." papar Rendy.


Rendy sudah mengatur jadwal untuk Jonathan. dia juga sudah mengambil alih beberapa meeting yang tidak sempat di hadiri oleh bosnya itu.


Rendy begitu berdedikasi terhadap Jonathan dan perusahaan. Sebagai tangan kanan dari bosnya. Rendy selalu berusaha yang terbaik untuk menjalankan tugasnya dan bersikap jujur.


Jonathan mempersiapkan diri untuk menemui Adrian. Sebagai seorang pria dia tahu kalau Adrian menyimpan rasa untuk wanita yang akan segera dinikahinya.


"Jam berapa pak Adrian akan datang?" tanya Jonathan sambil membaca beberapa berkas penting.


"Sehabis makan siang, Pak. Sekitar jam satu tepat," jawab Rendy.


"Kalau begitu masih ada dua jam lagi. Kamu pesankan beberapa kue dan juga kopi untuk kami berdua. Oh ya, karena ini pertemuan pertama saya dan dia dalam urusan bisnis. Belikan juga cenderamata. Saya mau, kami menjadi dekat." Jonathan meluruskan pandangannya.


Sebagai seorang pria yang sama-sama mencintai satu wanita. Jonathan mengerti sekali kondisi perasaan Adrian saat ini. Dia juga melihat usaha Adrian untuk melindungi Dinniar. Hanya saja mungkin dirinyalah yang menjadi pilihan serta jodoh yang dikirimkan Tuhan untuk wanita secantik dan sebaik Dinniar.


Rendy bergegas menyelesaikan apa yang diperintahkan bosnya.


Jonatan kembali bekerja selepas kepergian asisten pribadinya.


...****************...


Adrian sedang menggantikan tugas Dinniar di sekolah sebagai kepala sekolah. Adrian melihat betapa banyaknya pekerjaan Dinniar dan ternyata tidaklah mudah baginya yang tidak pernah terjun langsung ke dalam pekerjaan sebagai kepala sekolah.


"Ternyata, tugas sebagai kepala sekolah tidaklah semudah yang dibayangkan. Banyak sekali agenda rapat dan juga dia harus merangkum isi rapat dan menyampaikannya kepada guru. Dia juga harus berinovasi dalam pembelajaran agar seluruh guru tercapai dalam mentransfer ilmunya. Sungguh dia wanita yang sangat luar biasa." Adrian sangat kagum.


membuat agenda dan mempersiapkannya untuk satu Minggu kedepan. Dia melakukan itu agar jika berhalangan hadir. Tugas dan tanggung jawabnya tetap terlaksana.


"Andai kamu membuka hati untukku Dinniar. Sudah pasti sekolah ini akan memiliki ketua yayasan yang lebih baik. Aku masih kurang cakap dalam mengurus urusan dunia pendidikan." Adrian mengeluh sejenak.


Dia selama ini memang selalu memberikan perhatian yang sangat besar kepada Dinniar. Hanya saja sahabatnya itu selalu menyambut dan menilainya sebagai bentuk kasih sayang seorang sahabat bukan kasih sayang antar pria dan wanita. Itu yang membuat dirinya sulit untuk mengutarakan isi hati. Adria tidak pernah memiliki kesempatan, karena banyak pertimbangan selama ini. Dia takut hubungan yang sudah di bangun atas dasar nilai persahabatan bisa hancur karena rasa yang hanya dia miliki seorang.


"Sudah waktunya aku pergi ke kantor Jonathan. Meski enggan, tapi aku sudah menyepakatinya. Aku harus tetap profesional." Adrian beranjak dari duduknya setelah mematikan komputer milik Dinniar.


Adrian mengendarai mobilnya menuju arah jalan ke kantor Jonathan. Tepat saat dia sampai di depan gedung tinggi yang merupakan perusahaan Jonathan. Adrian menghentikan mobilnya dan melihat dengan seksama gedung tersebut sebelum dia memasuki gerbang.


"Beruntunglah kamu mendapatkan wanita secantik dan sehebat Dinniar. Semoga kalian berjodoh dan tidak ada lagi sakit yang di rasakan wanita itu. Aku tidak sanggup melihat air matanya mengalir lagi." Adrian kembali menginjak pedal gasnya.


Dia memantapkan diri untuk bertemu dengan pria pilihan sahabatnya.


"Selamat siang, Pak Adrian." Salah satu orang kepercayaan Rendy menyambut kedatangan Adrian.


Adrian dibawanya ke sebuah ruangan yang terletak di lantai lima. Mereka menggunakan lift untuk sampai di sana. Adrian merasa begitu terhormat karena di sambut oleh orang-orang Jonathan.


Mereka tiba di lantai lima dan Adrian di persilahkan masuk ke dalam ruangan yang menjadi tempat pertemuan antara dia dan Jonathan.


"Selamat datang Adrian. Silahkan duduk." Jonathan dengan raman menyambut kedatangan Adrian.


Mereka saling duduk berhadapan. Adrian terasa canggung bertemu dengan Jonathan secara langsung dan hanya berdua saja.


"Bagaimana tidak macet'kan perjalanan kemari?" tanya Jonathan sebagai basa-basinya.


"Cukup lancar." Adrian tersenyum tipis.


Jonathan bisa membaca raut wajah Adrian yang cukup kurang berkenan.


Jonathan melirik ke arah Rendy. Dan tidak lama beberapa cemilan dan juga minuman di sediakan.


"Silahkan di minum dan di nikmati sajiannya. Semoga dengan ini suasana canggung diantara kita bisa hilang." Jonathan tersenyum dengan tulus.


Adrian membalas senyuman Jonathan. kini suasana menjadi sedikit mencari. Jonathan membuat pembicaraan ringan terlebih dahulu sebelum masuk ke inti pertemuan hari ini.


"Aku harap kita bisa akrab. Aku mau kita bisa bersikap santai." pinta Jonathan.


Adrian tersenyum meski masih terlihat sedikit kaku.


"Aku harap kita bisa akrab." Adrian mengucapkan hal yang sama.


Mereka akhirnya mulai membicarakan beberapa hal terkait kegiatan yang akan di adakan di sekolah sesuai pembicaraan yang pernah mereka bicarakan sebelumnya.


"Aku rasa ini menarik. Jika ingin melibatkan anak murid. Sebaiknya membuat surat izin kepada orang tua murid juga. Karena ada mungkin sebagian orang tua yang tidak sejalan dengan pemikiran kita. Jadi kita buat vote saja. Dengan vote terbanyak kita akan melaksanakannya." Ide Adrian.


Jonathan setuju dengan ide yang diberikan oleh Adrian. Pembicaraan mereka kini sudah sangat ringan dan terlihat cukup membangun keakraban diataranya.