
"Selamat pagi anak-anak mami yang cantik dan menggemaskan." Dinniar menyambut anak-anaknya yang masuk ke dalam ruang makan.
"Hmmm ... harum banget masakannya. pasti mami yang masak nih." Alesya menebak-nebak.
"Emangnya kali Mbok yang masak kurang enak?" tanya Mbok sambil menyediakan makanan.
"enak dong Mbok. cuma kalo mami yang masak spesial." Alesya begitu menyanjung Dinniar.
"Sudah ayo kita sarapan dulu. Papi hari ini harus berangkat pagi. Jadi tidak bisa mengantar kita ke sekolah. Alesya nanti pak sopir yang mengantar ya." ujar Dinniar.
Mereka menikmati sarapan pagi yaitu spaghetti carbonara dengan ekstra keju mozzarella cair di atasnya.
Sarapan pagi yang sangat spesial dibuat oleh Dinniar untuk menghibur kedua anaknya. Jonathan meminta Dinniar untuk menyediakan sarapan spesial dan juga bekal spesial untuk keduanya. karena Alesya terkadang suka sedikit marah saat Jonathan tidak mengantarnya ke sekolah.
"Papa tidak pergi keluar kota atau ke luar negeri dan?" tanya Alesya dengan wajah datar.
"tidak sayang. jika papa pergi keluar kota atau keluar negeri. papa pasti bilang kepada kita dulu. tidak mungkin langsung pergi begitu saja." Dinniar menatap wajah datar Alesya.
Alesya pasti sangat khawatir kalau sampai Jonathan pergi dinas keluar. Alesya sangat manja kepada Jonathan. meski sudah duduk di bangku sekolah menengah pertama. sifat manjanya tetap masih ada. meski Alesya bukan tipe anak yang suka merengek. tetap saja ketika dia tahu Jonathan pergi dinas keluar ada rasa khawatir sehingga dia sedikit menjadi berbeda dari hari biasa.
"Kak Alesya tidak perlu khawatir. papa pasti pulang dan tidak pergi dinas keluar. kak Alesya percayakan?" tanya Tasya.
Alesya hanya mengangguk pelan. Dinniar merasa Alesya begitu bergantung kepada Jonathan.
"Sepertinya dia begitu takut. mungkin kehilangan kedua orang tuanya yang membuat dia takut kehilangan omnya. aku harus bisa membuat dia menjadikanku tempatnya bersandar. aku tidak mau dia khawatir berlebihan seperti ini."
"Ayo dipercepat makannya. setelah itu kita akan berangkat ke sekolah. Alesya, mami mau bicara denganmu setelah selesai sarapan dan untuk Tasya langsung bersiap. okey?" Dinniar mengerlingkan satu matanya.
"okey." jawab Tasya mengerti.
...****************...
Cornelia menyiapkan sarapan pagi untuk suaminya dan dirinya. Ibu Susi mertuanya sudah pulang kembali ke kampung halaman. Mengetahui hal itu Cornelia harus mengerjakan pekerjaan rumah sendiri sambil menunggu asisten rumah tangga dari yayasan yang dia ketahui.
"Kapan dia akan datang?" tanya Darius.
"Siapa?" tanya Cornelia sambil menarik kursi lalu duduk.
"Asisten rumah tangga kita."
"Seharusnya hari ini. aku sudah lelah mengerjakan pekerjaan rumah. rasanya tanganku hampir copot." keluh Cornelia sambil memutar pergelangan tangannya.
Darius hanya melirik. Entah dia sudah tidak terlalu perduli dengan Cornelia. hanya saja dia butuh wanita itu untuk tetap di sampingnya.
"Hari ini kamu jadi ke kantor agency? " tanya Darius.
"Hem, aku akan kesana setelah membereskan rumah. kalau tidak segera di cuci piring-piring ini. sudah pasti aroma rumah menjadi tidak sedap." Paparnya.
Cornelia cukup menjadi istri yang sangat berbakti satu Minggu ini. dia merapihkan seluruh rumah hingga rumah nampak bersih dan rapih. dia juga memesan dan juga mencuci pakaian. dia kerjakan semuanya sendiri tanpa banyak mengeluh kepada Darius. Dulu saat mereka menikah dan tinggal di apartemen Cornelia. memang semua dia yang kerjakan. karena tidak ada asisten rumah tangga yang mau pulang hari di sekitar sana.
"Kamu akan pergi ke rumahnya atau langsung ke tempat dokter psikolog anak itu?" tanya Cornelia.
"Aku langsung pergi ke tempat praktek dokternya. aku tidak mungkin diterima di rumah mereka."
...****************...
Jam berputar dengan sangat cepat hingga pagi sudah berganti menjadi siang. Dinniar dan Tasya bersiap untuk pergi ke dokter psikolog yang merawat Tasya.
"Sayang kita naik taksi saja ya ke tempat Tante Erika nya. mami pesan taksi online dulu." Dinniar mengeluarkan ponselnya dari dalam tas.
"Papa." teriak Tasya dan langsung berlari.
melihat putrinya berteriak dan langsung berlari membuat Dinniar terkejut dan saat dia lihat ke depan ternyata suaminya sudah berlari dan bersiap menangkap putrinya. Dinniar tersenyum. begitu mudahnya Tasya membangun kedekatan dengan Jonathan yang bukan ayah biologisnya.
"kalian sudah siap?" tanya Jonathan sambil menggendong Tasya.
"sudah, mas. kita langsung berangkat sekarang saja." ajak Dinniar.
mereka berjalan menuju ke mobil dan Jonathan langsung menginjak pedal gas.
"Benar katamu mas. Alesya sedikit merajuk tadi pagi. namun, aku sudah sedikit bicara dengannya. aku harap dia percaya dan bisa menjadikanku ibu seutuhnya untuknya." Dinniar tersenyum.
Jonathan langsung menggenggam tangan istrinya. dia sangat bersyukur karena Dinniar mau membantunya.
Flashback setelah sarapan pagi.
"Alesya, masuk." Dinniar meminta Alesya masuk ke dalam kamarnya dengan Jonathan.
"Ada apa Mami? apa Mami marah dengan sikap Alesya?" Alesya menundukkan wajahnya.
Dinniar hanya bisa tersenyum tipis sambil menarik napas panjang sebelum berbicara empat mata dengan putrinya.
"Sayang, Alesya takut ya jika kehilangan papa?" tanya Dinniar yang dipanggil oleh Alesya.
"Alesya tahukan kalau mami dan papa sangat sayang kepada Alesya?" tanya Dinniar lagi dan Alesya kembali mengangguk.
"Alesya, tenang saja. papa tidak pergi kerja keluar kota ataupun ke luar negeri. Papa hanya bekerja di kantornya saja. Alesya harus percaya sama papa. Alesya juga tidak perlu khawatir karena papa juga tidak akan semudah itu meninggalkan kita. jika terjadi sesuatu. percayalah papa akan berusaha yang terbaik untuk melindungi dirinya demi kita semua. mami juga mau Alesya bisa terbuka tentang apa yang Alesya rasakan. tidak perlu sungkan. mami ingin menjadi maminya Alesya. mami tulus mencintai dan menyayangi Alesya seperti darah daging sendiri. Alesya percayakan?" tanya Dinniar.
"terima kasih, mami. terima kasih sudah mau menjadi ibuku. aku sangat beruntung memiliki ibu yang sangat perhatian dan penyayang. Alesya yakin kita semua tidak akan pernah terpisahkan. maafkan Alesya yang begitu ketakutan kehilangan papa. karena papa dan nenek, hanya mereka keluarga kandungku di dunia ini." Alesya kemudian memeluk Dinniar.
Flashback off
"Kamu memang ibu yang sangat hebat. aku tidak salah menjadikanmu seorang istri dan ibu dari Alesya. meski dia bukan anak kandungku. kamu mampu menganggap dia sebagai anak kita. hatimu sungguh hati seorang bidadari."
"Iyah dong maminya siapa dulu. maminya tasya" Tasya sangat bangga menjadi seorang anak dari Dinniar.
Dinniar dan Jonathan kemudian tertawa lebar melihat tingkah lucu putri mereka yang duduk di bangku belakang.
"Kamu sudah bilang kepada Tasya siapa yang akan dia temui hari ini?" tanya Jonathan dengan sedikit berbisik.
"Belum, aku bingung bagaimana bicaranya. aku takut dia kalah tidak mau diajak pergi ke sana." Dinniar menunjukkan wajah cemasnya.
Jonathan mengerti kecemasan Dinniar. Jonathan kemudian melirik. ke arah anak dan istrinya bergantian.