Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Part 140 - Bermuka dua



Samuel dan Jonathan selesai mengikuti acara lelang. Jonathan dan Samuel memperhatikan beberapa barang sudah banyak yang terjual. acara lelang dihadiri bukan hanya dengan kelompok mereka saja tetapi acara ini juga di laksanakan untuk menarik beberapa pengusaha yang belum ikut bergabung dengan perkumpulan mereka.


di acara rarang ini banyak orang yang berlomba-lomba memberi barang dengan harga yang cukup tinggi. harga lukisan dibuka kisaran mulai dari harga 10 juta rupiah dan akhirnya terjual dengan harga 100 juta.


lukisan berbentuk bunga yang estetik itu memang sangat banyak diminati oleh beberapa pengusaha. banyak yang bilang membeli lukisan bunga tersebut bisa membawa keberuntungan untuk perusahaan atau bisnis yang sedang dijalani oleh orang yang memilikinya.


Jonathan dan semua tidak ikut bergabung atau membeli barang yang dilelang tersebut. tidak berminat membeli satu barang pun yang ada di acara amal tersebut. bagi semua dan Jonathan beramal adalah sesuatu yang harus disembunyikan bukan sesuatu yang harus dipamerkan apalagi mereka semua berlomba-lomba hanya untuk memamerkan kekayaan yang dimilikinya.


semua dan Jonathan merasa sudah bosan di acara amal ini. mereka berdua akhirnya mundur dari acara dan berencana pergi bersama dengan pasangan mereka.


Jonathan dan Samuel kemudian mencari keberadaan para wanitanya. kedua laki-laki itu memang sangat bucin kepada istri mereka. kita berlebih lagi Jonathan dan Dinniar adalah pasangan pengantin baru sudah pasti mereka tidak sanggup untuk berpisah terlalu lama meski masih dalam satu lingkungan yang sama.


"itu mereka," kata Jonathan sampai menunjuk keberadaan Dinniar dan juga violin.


Jonathan dan Samuel bergegas menghampiri istri-istri mereka yang terlihat sedang saling berbicara.


"sepertinya ada yang sedang habis membicarakan kita berdua." kata Samuel sambil melingkarkan tangannya di pinggang sang istri.


semua memang memiliki pribadi yang sangat cepat-ceplos dan juga humoris. dia juga sangat cepat akrab dengan istri Jonathan yang merupakan sahabat dari istrinya sendiri.


"apaan sih kamu tuh. terlalu percaya diri banget sih kalau kita ngobrolin kalian." violin terkekeh kecil.


Dinniar dan violin kemudian terkekeh kecil. mereka semua kembali bersama berbincang dan menikmati acara.


"sayang kamu kenapa?"tanya Jonathan yang merasa ada sesuatu yang janggal dari istrinya.


"aku tidak apa-apa kok, emangnya ada apa?" Dinniar menjawab lalu kembali bertanya dengan senyuman tipis.


"ya kamu kelihatannya bete aja terus kayaknya mukanya murung gitu ada apa sih?" tanya Jonathan yang sedikit cemas.


"nggak perlu risau Jonathan. aku rasa Dinniar hanya mengalami sindrom bosan. itu sama seperti yang aku alami saat pertama kali diajak oleh suamiku ke acara seperti ini." kata violin jangan sedikit mengerutkan ujung matanya.


Jonathan akhirnya mengangguk mengerti bahwa mungkin memang benar istrinya mengalami bosan. jujur dia pun bosan dengan acara seperti ini yang sudah dia jalani selama dua tahun belakangan.


"Apa perlu kita pergi dari sini?"tanya Samuel.


"sebentar lagi kita pergi dari sini. Aku mencari seseorang dulu. nah itu dia." Jonathan kemudian melambaikan tangannya memanggil seseorang.


Jonathan mendengar salah satu teman mereka sudah berada di Indonesia kembali. maka dari itu dia mengajak temannya itu untuk bergabung pada perkumpulan amal ini. karena dia ingin membantu temannya itu untuk memajukan perusahaan.


"halo selamat malam semuanya." siapa seorang wanita yang tadi bertemu dengan Dinniar.


"hai Vi." siapa Samuel dan juga Jonathan kepada wanita yang bergabung dengan mereka saat ini.


"kenalkan dia adalah Evi. salah satu teman kamu waktu kuliah di Jerman. Evi Ini istriku diniar dan ini adalah violin istri Samuel sekaligus sahabat istriku." Jonathan memperkenalkan kedua wanita yang menjadi keberuntungan mereka.


"hai aku Evi teman Samuel dan juga Jonathan. kami cukup akrab saat di Jerman dan aku baru pulang ke Indonesia tahun ini tepatnya baru satu minggu yang lalu." tutur Evi dengan sangat santai.


tapi terlihat sangat santai sehingga seolah-olah di antara dia dan juga diniar tidak terjadi apa-apa beberapa waktu yang lalu.


Dinniar ingin heran, tapi inilah kehidupan. ada saja manusia yang bersembunyi di balik topengnya dan berdiri di balik nama keluarganya.


Dinniar mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Evi. dinira juga akan bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa.


"saya Dinniar istri dari Jonathan." Dinniar memperkenalkan diri dengan sangat percaya diri.


Dinniar bukanlah tipe seorang wanita yang mudah terintimidasi. dia juga bukan wanita yang mudah untuk dijadikan lawan.


keluarin juga ikut memperkenalkan dirinya dan happy bersikap biasa saja kepada violet tatapannya juga tidak sama seperti dia menatap Dinniar. kini Dinniar bisa melihat jelas sorot mata kecemburuan dan juga sorot mata ketidak sukaan wanita itu terhadapnya.


"Evi mohon maaf aku dan Samuel akan pergi sekarang sampai jumpa lusa di kantor." Jonathan izin pamit kepada Evi temannya.


Evi memang adalah seorang wanita yang cantik, modis, dan pastinya dia adalah seorang wanita yang belajar tentang berbisnis.


setelah kepergian keempat temannya Evi terus memandang mereka. dia memandang dengan penuh tatapan yang penuh kebencian.


"lihat saja aku tidak akan membiarkanmu berlama-lama di sisinya. Dia seharusnya menjadi milikku. kepulanganku ke Indonesia tidak akan sia-sia." ujar Evi sambil melipat kedua tangannya di dada.


Jonathan menggandeng Dinniar hingga ke tempat parkiran. mereka pergi menggunakan mobil masing-masing menuju tempat tujuan yang sama.


"memangnya kita mau pergi ke mana?" tanya diniar kepada suaminya.


"aku akan mengajakmu ke suatu tempat yang indah dan pastinya di sana ada makanan juga."kata Jonathan kepada diniar.


diniat hanya pasta dibawa kemanapun oleh suaminya. karena dia percaya kalau suaminya akan membawanya ke tempat yang indah dan juga bukan tempat yang berbahaya.


Jonathan dan Samuel berjalan beriringan. Samuel mengendarai mobilnya di belakang Jonathan.


"Evi itu siapa?"tanya violin kepada Samuel.


"dia adalah teman kami saat masa kuliah dulu. aku rasa dia dulu sempat menyukai Jonathan. tapi untuk sekarang aku tidak tahu ya. Karena dia sudah lama sekali tinggal di luar negeri. dan baru pulang beberapa minggu ini. makanya Jonathan mengundangnya. Jonathan mengundang Evi karena ingin membantu Evi memajukan perusahaan." tutur Samuel pada istrinya.


"aku rasa wanita itu masih menyukai Jonathan. lihat sekali dari sorot matanya ketika melihat Jonathan. aku harap dia tidak menjadi penghalang bagi rumah tangga sahabatku."


ucapan istrinya terdengar seperti sebuah peringatan kepada semua dan juga Jonathan. mengerti mengapa istrinya berlaku seperti itu. karena memang diniar pernah disakiti oleh suaminya yang terdahulu.


"tenang saja sayang aku akan pastikan sahabatku yang tidak akan pernah melenceng dari posisinya dan tidak akan pernah membalikan hatinya untuk wanita lain selain Dinniar."


mencoba meyakinkan istrinya bahwa sahabatnya tidak akan pernah mengkhianati Dinniar.


data semua sampai di sebuah restoran yang sudah dipilih oleh Jonathan sebagai tempat makan malam mereka semua.


Jonathan memilih restoran yang menyajikan masakan menu Nusantara. restoran kali ini bukanlah sembarangan restoran seperti pada umumnya. suasana seperti sedang berada di sebuah hutan disajikan diri restoran ini.


restoran sengaja membuatnya seakan-akan mereka sedang makan di di tengah hutan dengan rerumputan dan juga pohon-pohon besar di sisi-sisinya. meja panjang serta bangku panjang sudah tersedia di sana diniat Jonathan violin dan Samuel duduk bersama dalam satu meja.


seorang pelayan restoran memberikan pelayanan terbaiknya kepada mereka berempat. Jonathan memilih beberapa menu makanan. setelah itu gantian Samuel yang memilih makanan untuk dirinya dan istrinya.


mereka berempat berbincang bersama-sama tawa canda terdengar sangat renyah. dunia dan violin terasa keluar dari ruangan yang sangat pengap dan mereka kini berada di ruangan yang terbuka sehingga bisa bernafas dengan leluasa.


"kalian tahu sesering apapun aku pergi ke sana aku tidak menyukai acara amal itu. acara itu terlalu membosankan bagiku. mereka terlalu pamer akan harta kekayaan. padahal kehidupan yang mereka jalani mungkin itu senyaman yang terlihat."


pundak istrinya agar tidak melanjutkan perkataannya."ya sudah tidak perlu dipikirkan lagi dan tidak perlu dibicarakan lagi. acara tersebut sudah berlalu. sekarang yang terpenting adalah kita bersama-sama duduk di sini untuk menghilangkan rasa bosan tersebut." Samuel menyunggingkan senyuman.


Samuel memang benar mereka tidak perlu membicarakan acara amal itu lagi. acara itu memang sangat membosankan. banyak para kamu undangan yang datang dan memamerkan kekayaan padahal kehidupan yang tidak senyaman yang terlihat di sana. terkadang mereka bahkan terlilit hutang karena acara amal tersebut. sayangnya orang yang menyelenggarakan acara tersebut dan yang membuat perkumpulan tersebut tidak menyadarinya.


Jonathan dan Salma sudah melihat seberapa banyak para pengusaha yang harus terlilit hutang karena perkumpulan dan acara amal tersebut. memang semua tergantung pada kepribadian masing-masing orang. namun karena diadakannya acara amal tersebut dan dibuatnya sebuah perkumpulan. membuat mereka semua harus menaikkan gengsi bukan menaikkan prestasi.


Jonathan dan sangga sebenarnya menyayangkan acara amal tersebut untuk mensejahterakan beberapa panti asuhan yang ada di bawah naungan perusahaan mereka semua. anak-anak tersebut hidup begitu nyaman di panti asuhan namun sayangnya mereka yang memberikan dana bukan untuk mencari ketulusan dan keikhlasan. untuk mencari popularitas dan menaikkan ketenaran mereka.


mereka berempat kembali menikmati lagi suasana yang disajikan oleh cafe yang mereka datangi hari ini.


Jonathan memilih tempat itu karena tempatnya yang bagus dan nyaman makanannya juga sangat enak di antara menu makanannya ada sate ayam kecap sate ayam Manado. ayam ijo royo tahu goreng tumisan pare tumis jagung muda dan juga aneka kerang rebus.


Jonathan sengaja mengajak mereka semua untuk menikmati suasana makanan di tengah hutan dengan menu makanan yang sangat lezat di sana sate khas Manado disajikan dengan daging ayam bagian dada yang dibumbui sedikit spicy menyerap banget ke daging ayamnya kemudian dibakar. setelah dibakar sate di atasnya akan diberikan sambal dabu-dabu segar. ada juga ayam ijo royo yaitu ayam asap yang lembut banget dagingnya yang sampai lepas-lepas dari bagian tulangnya membuat terasa lumer di mulut saat dimakan dan ayam itu diberikan di atasnya irisan tomat dan bawang yang segar.


dinian memilih memakan nasi goreng buntut nasi gorengnya yang sangat enak dan daging buntutnya pun lembut banget dan bumbunya sangat pas. porsinya juga sangat cukup untuk dua orang yaitu dia dan juga Jonathan.


sedangkan violin memilih menu sop buntut sop yang sangat wangi dengan bumbu rempah-rempah yang begitu melimpah di dalamnya saat dimakan kuahnya akan terasa sangat mewah di bagian kaldunya dan juga kuahnya menghangatkan tubuh kita karena terdapat beberapa irisan jahe di dalam.